Minggu, 26 April 2026

Konflik Rusia dan Ukraina

Trump Telepon Putin Dua Jam, Janji Akhiri Perang Ukraina Masih Sekadar Wacana

"Saya percaya mereka akan segera memulai negosiasi. Persyaratan untuk itu akan ditentukan langsung oleh Rusia dan Ukraina," tulis Trump di akun Truth

Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Muhammad Hadi
Kremlin.ru
PERTEMUAN TRUMP DAN PUTIN - Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu di Helsinki pada 16 Juli 2018 untuk pertemuan puncak berskala penuh pertama mereka. Di sebelah kiri Trump ada Melania Trump, istri dari Presiden Donald Trump. 

Trump Telepon Putin Dua Jam, Janji Akhiri Perang Ukraina Masih Sekadar Wacana

SERAMBINEWS.COM – Janji Donald Trump untuk menyelesaikan perang Rusia-Ukraina dalam waktu “24 jam” kembali menjadi sorotan publik dunia. 

Dilansir dari BBC News (20/5/2025), setelah sebelumnya mengklaim bahwa hanya dirinya yang mampu menghentikan konflik, kini Presiden AS tersebut justru mengubah pernyataannya dan menunjukkan bahwa proses menuju perdamaian ternyata tidak semudah yang ia bayangkan.

Pada Senin (19/5/2025), Trump melakukan pembicaraan telepon selama dua jam dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

 Dalam pernyataannya di media sosial setelah panggilan tersebut, Trump menyampaikan bahwa Rusia dan Ukraina akan segera memulai negosiasi gencatan senjata, dan bahwa syarat-syarat perdamaian harus “dinegosiasikan antara kedua belah pihak” bahkan mungkin dengan bantuan Paus.

"Saya percaya mereka akan segera memulai negosiasi. Persyaratan untuk itu akan ditentukan langsung oleh Rusia dan Ukraina," tulis Trump di akun Truth Social miliknya.

Namun, pernyataan Trump tersebut berbeda dengan nada hati-hati yang ditunjukkan oleh Kremlin. Dalam pernyataan resmi, Putin hanya menyebut bahwa Rusia bersedia menyusun 'memorandum tentang kemungkinan perjanjian perdamaian di masa depan' sebuah frasa yang terdengar jauh dari kata konkret dan mendesak.

Baca juga: Joe Biden Divonis Alami Kanker Prostat Stadium 4, Begini Tanggapan Donald Trump

Janji Perdamaian Tak Sejalan dengan Realita Lapangan

Meskipun Trump tetap optimis, banyak pengamat menilai bahwa rencana damai ini masih sangat rapuh.

Bahkan, serangan militer Rusia terhadap Ukraina justru meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Pada hari yang sama ketika Trump dan Putin berbicara, Rusia meluncurkan serangan pesawat nirawak terbesar selama perang berlangsung, menyerang sejumlah kota besar di Ukraina.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyuarakan kekhawatirannya terhadap kemungkinan Amerika Serikat menarik diri dari upaya perdamaian dan dukungan militer kepada negaranya.

"Sangat penting bagi kita semua bahwa Amerika Serikat tidak menjauhkan diri dari perundingan dan upaya mencapai perdamaian," kata Zelensky pada hari Senin.

Baca juga: Bukan Main! Trump Umumkan Pesanan Etihad Senilai Rp232 Triliun untuk Armada Super Canggih dari AS

 Akankah Dukungan untuk Ukraina Dihentikan?

Trump sebelumnya juga terlihat frustrasi dengan lamanya konflik ini. Ia pernah menyalahkan Zelensky karena dianggap "bermain-main dengan risiko Perang Dunia Ketiga" dalam sebuah pertemuan Oval Office pada Februari lalu.

Di sisi lain, Trump juga mengaku "sangat marah" dengan Putin karena pembicaraan damai tidak kunjung menunjukkan hasil.

Meskipun begitu, Trump tetap menunjukkan niat menjadi perantara. Namun, ia juga mengisyaratkan bahwa dirinya memiliki batas kesabaran.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved