Breaking News
Rabu, 29 April 2026

Kupi Beungoh

Dua Jam Gen Z di Gedung Memorial Perdamaian Aceh: Perih, Marah, Heroik dan Secercah Asa

Semua mahasiswa tersebut merupakan Generasi Z yang terlahir pascatsunami 2004 dan MoU Helsinki 2005.

Editor: Amirullah
For Serambinews.com
sebanyak 33 mahasiswa mata kuliah Penulisan Pendapat/Opini dari Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Ar-Raniry Banda Aceh melangkah menuju Gedung sebuah ruang yang mirip museum di Komplek Kantor Kesbangpol Aceh. 

Oleh: Siti Nurramadani dan Mallikatul Hanin Binti Azhari

Selasa (27 Mei 2025), sebanyak 33 mahasiswa mata kuliah Penulisan Pendapat/Opini dari Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Ar-Raniry Banda Aceh melangkah menuju Gedung sebuah ruang yang mirip museum di Komplek Kantor Kesbangpol Aceh.

Semua mahasiswa tersebut merupakan Generasi Z yang terlahir pascatsunami 2004 dan MoU Helsinki 2005. Mereka tak pernah mendengar desingan peluru atau letusan bom era konflik Aceh.

Gedung Memorial Perdamaian secuil beban cerita kelam Aceh masa lampau. Bukan benda atau arsip yang paling membekas, melainkan rasa yang menggantung di udara: Perih, haru, marah, heroik lalu perlahan berubah menjadi asa (harapan). 

Setiap dinding bukan sekadar tembok, tetapi saksi bisu dari sejarah getir yang tercipta dari konflik panjang antara Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). 

Di setiap sudut, luka masa lalu masih berdetak, memanggil siapa pun yang datang untuk berhenti, diam sejenak, dan mendengarkan. Gambar Rektor UIN Ar-Raniry Prof Safwan Idris dan Rektor USK Prof Dayan Dawood yang ditembak pada era konflik terpajang di gedung itu.

Dalam kunjungan tersebut, hadir sosok pendidik yang setia pada ingatan dan makna: Hasan Basri M.Nur PhD, bersama dosen tamu yang dikenal luas dalam kerja-kerja kemanusiaan di Aceh, H Jamaluddin Jamil ST, MM (Ketua KNPI Aceh 2013-2017, aktivis FP HAM Aceh era konflik). 

Bukan hanya menyampaikan materi, keduanya membawa pengalaman, menyulut empati, dan menghidupkan kembali ruh dari kata "perdamaian".

Perjalanan ini tak lagi sekadar aktivitas akademik. Ia berubah menjadi perenungan mendalam bahwa narasi damai tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari darah dan air mata yang pernah tumpah.

Dan bahwa menulis, sejatinya, adalah bentuk keberanian: Untuk menyuarakan yang bisu, mengingat yang sengaja dilupakan, dan menyalakan kembali cahaya di ruang-ruang gelap sejarah.

Nonton Film Dokumenter

Kunjungan diawali dengan pemutaran sebuah video dokumenter yang menyingkap konflik tragis sejak era DI/TII (1953-1962) di Aceh. Tayangan itu bukan sekadar rangkaian gambar bergerak, ia adalah luka yang direkam, jeritan yang diabadikan. 

Kekerasan dan penderitaan yang tergambar begitu memilukan. Bahkan bagi generasi yang tak pernah mengalami langsung masa itu.

Dokumenter tersebut menjadi pintu awal untuk memahami realitas pahit yang tak mudah dicerna dengan logika, apalagi dengan hati.

Dalam sesi refleksi, Hasan Basri M.Nur menegaskan bahwa masa itu layak disebut sebagai zaman gelap bagi Aceh, ketika hak asasi manusia (HAM) nyaris tak punya arti. Penindasan bukan pengecualian, melainkan kebiasaan. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved