Opini
Kala Gerai Ritel Berguguran
Fenomena penutupan gerai ritel juga terjadi pada toko-toko besar seperti Giant, Matahari, dan Transmart. Ini menandakan industri ritel di Indonesia se
Nasrul Hadi SE MM, Dosen Departemen Manajemen FEB USK
BEBERAPA waktu lalu, masyarakat dikejutkan dengan pemberitaan dari media massa yang mengabarkan ratusan toko di Pasar Aceh Kota Banda Aceh tutup. Dari sekitar 500 toko yang ada, sebanyak 285 di antaranya tutup dan tidak lagi beroperasi. Tentu hal ini sangat memprihatinkan kita semua, apalagi Pasar Aceh sebagai tempat perdagangan yang telah lama ada di pusat kota sekaligus menjadi ikon ekonomi dan destinasi berbelanja masyarakat harus menerima kenyataan pahit ini.
Untuk diketahui, fenomena gerai ritel tutup tentu tidak hanya terjadi di Aceh saja. Bahkan sejak pandemi Covid-19 pada tahun 2021 di Pasar Tanah Abang Jakarta Pusat hal serupa juga terjadi. Menurut data Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), hingga Maret 2021, hampir 1.300 gerai ritel tutup akibat dampak pandemi Covid-19. Penutupan ini terutama terjadi pada ritel yang menyasar masyarakat menengah ke bawah, UMKM, dan sektor informal (www.indonesiabaik.id).
Fenomena penutupan gerai ritel juga terjadi pada toko-toko besar seperti Giant, Matahari, dan Transmart. Ini menandakan industri ritel di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar, mengapa gerai-gerai ritel ini berguguran?
Tentunya kejadian ini tidak disebabkan hanya oleh satu alasan seperti pandemi Covid-19 yang menyebabkan daya beli masyarakat menurun sehingga mempengaruhi omzet ritel, tetapi banyak faktor yang mempengaruhinya.
Menurut penulis, yang menjadi faktor utama tutupnya gerai ritel disebabkan adanya perubahan perilaku konsumen untuk belanja secara online dan mengurangi berbelanja di toko fisik.
Transformasi digital dan kemudahan akses internet kini telah menggeser preferensi belanja masyarakat. Konsumen kini cenderung berbelanja secara online yang dinilai lebih efektif dan efisien. Apalagi, berbagai platform e-commerce kini menjawab kebutuhan konsumen dengan berbagai kemudahan yang didapatkan oleh konsumen seperti harga lebih murah, diskon yang menarik, hingga sistem pengiriman yang efisien.
Penjualan via online juga bisa dilakukan oleh produsen, baik menggunakan market place atau website produsen secara langsung. Jika hal ini terjadi maka akan ada e-commerce disintermediation, ini artinya adanya proses penghilangan perantara (intermediaries) dalam rantai distribusi produk dengan memanfaatkan teknologi digital seperti melalui platform market place atau website produsen. Sehingga produsen yang memproduksi barang, bisa langsung menjual barangnya kepada konsumen selaku pengguna akhir tanpa harus melalui perantara seperti distributor, grosir dan pengecer Karena tanpa perantara, maka mampu menurunkan biaya keseluruhan untuk menyelesaikan transaksi barang serta transaksi bisa diselesaikan lebih cepat. Hal ini tentu menarik bagi konsumen karena barang yang didapatkan bisa dengan harga jauh lebih murah dibanding dengan belanja di toko ritel konvensional. Harga yang lebih rendah ini terjadi karena tidak ada tambahan biaya distribusi maupun margin keuntungan dari perantara.
Dengan model ini konsumen bisa langsung membeli barang ke brand atau produsennya sehingga lebih murah, terpercaya dan transparan.
Berbeda dengan toko ritel konvensional, mereka sulit untuk menjual produk semurah produsen, karena adanya struktur distribusi yang melibatkan beberapa pihak, seperti distributor dan grosir.
Setiap perantara ini menambah biaya dan margin keuntungan mereka sendiri, yang pada akhirnya meningkatkan harga jual produk di tingkat ritel. Selain itu, ritel konvensional juga membutuhkan modal awal yang besar, seperti untuk menyewa toko di lokasi strategis atau di pusat perbelanjaan yang biasanya berbiaya tinggi hingga mencapai puluhan juta bahkan ratusan juta per tahunnya.
Ritel konvensional pun harus mengisi etalase dengan banyak barang agar menarik dan juga harus ada persediaan stok di gudang. Cara ini memiliki risiko sendiri, barang bisa lama terjual, bahkan jika tidak laku maka ada modal tertahan dalam bentuk stok mati.
Tidak hanya itu, bagi ritel berbentuk toko fisik, desain interior toko agar menarik juga membutuhkan biaya, kemudian untuk gaji karyawan yang biasanya jumlahnya lebih banyak, serta biaya operasional seperti listrik dan air juga harus ditanggung setiap bulannya. Maka wajar saja ritel konvensional sangat bergantung pada jumlah pengunjung dan volume transaksi yang tinggi agar tetap bertahan.
Dampak ekonomi
Jika banyak gerai ritel yang tutup dan tidak segera ditangani dan dicari solusi maka banyak dampak ekonomi yang dialami baik secara langsung maupun tidak langsung. Penutupan toko ritel menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK) para karyawan, terutama di sektor informal dan pekerja level bawah seperti kasir, pramuniaga, dan petugas kebersihan.
| Menata Standar Pendidikan Menuju Ekosistem yang Lebih Bermakna |
|
|---|
| Dampak Bencana dan Antisipasi Perubahan RPJMA 2025-2029 |
|
|---|
| Bencana yang tak Datang “Tiba-Tiba”, Cermin Gagalnya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi Pemerintah |
|
|---|
| Pelajaran dari “Sabotase Baut Jembatan” |
|
|---|
| Keterbukaan Kawasan Strategis Regional: Pilar Pembangunan Ekonomi Aceh di Pentas Global |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Nasrul-Hadi-SE-MM-OKE.jpg)