Kupi Beungoh
Paradoks Angpau: Tradisi Memberi yang Mengajarkan Meminta?
Idul Adha bukan sekadar seremoni penyembelihan hewan, melainkan peringatan spiritual tentang betapa tingginya nilai memberi dan berqurban.
Oleh: Muhammad Nasir*)
HARI Raya Idul Adha adalah hari ketika makna keikhlasan diuji oleh kenyataan, dan nilai pengorbanan menjelma menjadi cahaya rohani dalam sejarah kemanusiaan.
Ia bukan sekadar seremoni penyembelihan hewan, melainkan peringatan spiritual tentang betapa tingginya nilai memberi, bahkan ketika yang dikorbankan adalah sesuatu yang paling dicintai.
Namun, di tengah modernitas dan budaya konsumerisme, kita mendapati satu paradoks halus yang semakin menjalar: kebiasaan memberi angpau kepada anak-anak saat Idul Adha.
Tradisi ini sekilas tampak manis dan tak berdosa.
Anak-anak riang dengan amplop warna-warni, para orang dewasa merasa tengah menebar kebaikan, dan suasana Idul Adha pun menjadi meriah.
Tetapi benarkah ini sejalan dengan ruh kurban yang penuh ketulusan?
Ataukah kita tanpa sadar sedang membalikkan pesan utama hari raya ini—dari ajakan memberi, menjadi dorongan menerima?
Islam: Memberi Adalah Jalan Keberkahan
Islam secara tegas dan konsisten memuliakan tindakan memberi.
Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan:
“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.”(QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat ini menyiratkan bahwa kebaikan yang diberikan dengan ikhlas akan tumbuh dan berlipat ganda, tidak hanya dalam wujud materi, tetapi juga dalam keberkahan hidup.
Rasulullah SAW bersabda, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sebuah pesan yang kuat bahwa memberi adalah ekspresi kekuatan moral, sedangkan terus-menerus meminta dapat mengikis martabat dan ketangguhan jiwa.
| Saatnya Wakaf Harus Naik Kelas, Dari Aset Diam Menjadi Kekuatan Umat |
|
|---|
| PR untuk Rektor di Aceh: Alumni Universitas Menganggur Makin Tinggi |
|
|---|
| Earth Day: Saatnya Pendidikan Menjawab Krisis Lingkungan |
|
|---|
| Menjawab Tuduhan “Logical Fallacy” dalam Polemik JKA |
|
|---|
| Framing Negatif JKA, Strawman Fallacy Paling Telanjang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/M-Nasir-Cahaya-Peradaban.jpg)