Minggu, 19 April 2026

KUPI BEUNGOH

Belajar Mendengarkan: Kunci Kecil untuk Damai yang Besar

Dalam skala individu hingga global, mendengarkan bisa menjadi fondasi utama menuju perdamaian.

Editor: Firdha Ustin
FOR SERAMBINEWS.COM
Siti Khairani, Mahasiswi Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Ar-raniry Banda Aceh. 

Mendengarkan aktif melibatkan kontak mata, bahasa tubuh yang terbuka, menghindari menyela, dan mengajukan pertanyaan untuk klarifikasi, bukan untuk menyanggah.

Kita harus menunda penilaian, mengesampingkan ego, dan benar-benar mencoba masuk ke dunia orang lain, sejenak meninggalkan dunia kita sendiri.

Dunia yang Semakin Bising, Tapi Semakin sepi

Ironisnya, di era media sosial dan komunikasi digital yang serba cepat, kita semakin kehilangan ruang untuk mendengarkan.

Platform seperti Twitter/X, TikTok, atau Instagram dirancang bukan untuk dialog, melainkan untuk menyampaikan pendapat secara sepihak dan cepat.

Semua orang ingin bicara, tetapi jarang ada yang benar-benar ingin mendengarkan.

Akibatnya, polarisasi makin tajam. Kita terjebak dalam *echo chamber*, hanya mendengar apa yang kita ingin dengar, dan menolak pandangan yang berbeda.

Dalam kondisi ini, perbedaan bukan lagi ruang belajar, tetapi menjadi bahan bakar permusuhan.

Mendengarkan dalam Resolusi Konflik

Dalam berbagai proses resolusi konflik, baik di tingkat keluarga, komunitas, maupun antarnegara, proses mendengarkan menjadi tahapan awal yang sangat krusial.

Mediator yang baik bukanlah mereka yang paling pintar berbicara, tetapi mereka yang paling sabar dan cermat dalam mendengarkan semua pihak.

Di banyak negara, pendekatan *dialog antar kelompok* telah menjadi strategi utama untuk membangun rekonsiliasi pascakonflik.

Di Afrika Selatan, misalnya, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (Truth and Reconciliation Commission) memungkinkan para korban apartheid untuk menceritakan kisah mereka secara terbuka.

Tindakan mendengarkan ini tidak serta-merta menghapus luka, tetapi menjadi langkah awal untuk proses penyembuhan kolektif.

Di Indonesia, pendekatan serupa dilakukan dalam beberapa proses rekonsiliasi lokal, seperti dalam penyelesaian konflik Maluku awal 2000-an.

Pertemuan antarkelompok yang difasilitasi oleh tokoh masyarakat dan pemuka agama membuka ruang untuk saling mendengarkan kisah penderitaan, ketakutan, dan harapan dari kedua belah pihak.

Ketika orang merasa didengar, mereka cenderung lebih siap untuk melepaskan dendam.

Mendengarkan Juga Harus Dipelajari

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved