KUPI BEUNGOH
Belajar Mendengarkan: Kunci Kecil untuk Damai yang Besar
Dalam skala individu hingga global, mendengarkan bisa menjadi fondasi utama menuju perdamaian.
Sayangnya, kemampuan mendengarkan tidak otomatis tumbuh seiring usia atau pendidikan. Ini adalah keterampilan yang harus dilatih dan dibiasakan, baik dalam pendidikan formal maupun informal.
Sekolah-sekolah masih terlalu menekankan pada kemampuan berbicara, presentasi, atau argumentasi, tapi jarang memberi ruang untuk mengajarkan listening with empathy.
Padahal, membentuk generasi yang mampu mendengarkan adalah fondasi penting bagi masa depan yang lebih damai.
Demikian pula dalam keluarga.
Anak-anak perlu melihat teladan dari orang tua yang bukan hanya memerintah, tetapi juga mendengar perasaan dan pendapat anak.
Dalam komunitas, pemimpin harus bukan hanya menyuarakan program, tapi juga mendengar aspirasi dan keluhan
Damai Dimulai dari Telinga, Bukan dari Tangan
Ketika kita berbicara soal perdamaian, kita sering membayangkan perjanjian politik, kesepakatan hukum, atau tindakan heroik.
Tapi sesungguhnya, damai yang sejati tumbuh dari hal-hal kecil seperti kesediaan untuk mendengar seseorang yang berbeda dari kita, tanpa buru-buru menghakimi.
Kunci dari damai yang besar bisa jadi sangat sederhana: duduk bersama, membuka telinga, dan berkata, “Aku ingin mengerti, bukan hanya membalas.” Kalimat itu, jika benar-benar dihayati, mampu meruntuhkan tembok yang paling tebal sekalipun.
Penutup: Sebuah Undangan untuk Mendengar
Di tengah dunia yang penuh dengan kebisingan opini, mungkin yang paling dibutuhkan bukan lagi suara yang lebih lantang, tetapi telinga yang lebih terbuka.
Belajar mendengarkan bukan hanya soal teknik komunikasi, tetapi soal pilihan moral apakah kita ingin menjadi bagian dari solusi atau tetap menjadi bagian dari kebuntuan.
Mendengarkan tidak membuat kita lemah, justru membuat kita kuat karena hanya orang yang percaya diri yang mampu diam untuk benar-benar memahami orang lain.
Maka dari itu, mari kita mulai dari diri sendiri.
Mendengarlah, bukan untuk membalas, tapi untuk memahami. Karena dari telinga yang terbuka, damai yang besar bisa tumbuh.
*) PENULIS adalah Mahasiswi Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Ar-raniry Banda Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Siti-Khairani-Mahasiswi-Program-Studi-Pengembangan-Masyarakat-Islam.jpg)