Minggu, 19 April 2026

KUPI BEUNGOH

Belajar Mendengarkan: Kunci Kecil untuk Damai yang Besar

Dalam skala individu hingga global, mendengarkan bisa menjadi fondasi utama menuju perdamaian.

Editor: Firdha Ustin
FOR SERAMBINEWS.COM
Siti Khairani, Mahasiswi Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Ar-raniry Banda Aceh. 

Sayangnya, kemampuan mendengarkan tidak otomatis tumbuh seiring usia atau pendidikan. Ini adalah keterampilan yang harus dilatih dan dibiasakan, baik dalam pendidikan formal maupun informal.

Sekolah-sekolah masih terlalu menekankan pada kemampuan berbicara, presentasi, atau argumentasi, tapi jarang memberi ruang untuk mengajarkan listening with empathy.

Padahal, membentuk generasi yang mampu mendengarkan adalah fondasi penting bagi masa depan yang lebih damai.

Demikian pula dalam keluarga.

Anak-anak perlu melihat teladan dari orang tua yang bukan hanya memerintah, tetapi juga mendengar perasaan dan pendapat anak.

Dalam komunitas, pemimpin harus bukan hanya menyuarakan program, tapi juga mendengar aspirasi dan keluhan 

Damai Dimulai dari Telinga, Bukan dari Tangan

Ketika kita berbicara soal perdamaian, kita sering membayangkan perjanjian politik, kesepakatan hukum, atau tindakan heroik.

Tapi sesungguhnya, damai yang sejati tumbuh dari hal-hal kecil seperti kesediaan untuk mendengar seseorang yang berbeda dari kita, tanpa buru-buru menghakimi.

Kunci dari damai yang besar bisa jadi sangat sederhana: duduk bersama, membuka telinga, dan berkata, “Aku ingin mengerti, bukan hanya membalas.” Kalimat itu, jika benar-benar dihayati, mampu meruntuhkan tembok yang paling tebal sekalipun.

Penutup: Sebuah Undangan untuk Mendengar

Di tengah dunia yang penuh dengan kebisingan opini, mungkin yang paling dibutuhkan bukan lagi suara yang lebih lantang, tetapi telinga yang lebih terbuka.

Belajar mendengarkan bukan hanya soal teknik komunikasi, tetapi soal pilihan moral apakah kita ingin menjadi bagian dari solusi atau tetap menjadi bagian dari kebuntuan.

Mendengarkan tidak membuat kita lemah, justru membuat kita kuat karena hanya orang yang percaya diri yang mampu diam untuk benar-benar memahami orang lain.

Maka dari itu, mari kita mulai dari diri sendiri.

Mendengarlah, bukan untuk membalas, tapi untuk memahami. Karena dari telinga yang terbuka, damai yang besar bisa tumbuh.

*) PENULIS adalah Mahasiswi Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Ar-raniry Banda Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved