Sabtu, 11 April 2026

KUPI BEUNGOH

 Tak Hanya Emas, Woyla Juga Punya Cakok, Warisan yang Bisa Dinikmati

Karena mudik bukan hanya soal pulang ke rumah, tapi juga pulang ke rasa. Rasa yang mengikat kita pada tanah dan sejarah. Dan dari semua rasa itu, cako

Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Mulia Mustafa, SPd_Penulis adalah pengamat kuliner lawas dan modern 

Oleh Mulia Mustafa, S.Pd*)

Tak ada yang benar-benar sederhana dalam cerita pulang. Apalagi bila kampung halaman itu adalah Woyla, tanah kecil di barat Aceh yang menyimpan begitu banyak kenangan, rahasia, dan rasa yang tak bisa diringkas dalam kata “mudik”.

Seusai Idul Adha, setelah gema takbir reda dan aroma daging qurban mulai pudar dari halaman rumah, saya melangkah kembali ke tanah asal. 

Di sana, bukan sekadar nostalgia yang menyambut, tapi juga aroma tajam yang menyentuh hidung dan menampar dada. Aroma itu asing namun akrab. Cakok.

Namanya terdengar keras. Tapi di balik nama itu tersembunyi kehalusan hidup masyarakat Woyla. Cakok bukan sekadar irisan kulit kerbau atau sapi yang dikeringkan. Ia adalah simbol ketahanan. 

Cara leluhur kami menyiasati masa sulit dengan rasa. Kulit yang dianggap sisa oleh zaman modern, diolah perlahan, dijemur sabar, dan difermentasi waktu, menjadi makanan yang bukan hanya mengenyangkan, tapi juga mengikatkan kenangan.

Saya pulang membawa tanya. Mengapa sesuatu yang begitu kokoh perlahan menghilang?

Hingga suatu siang, seorang kerabat dari seberang benua datang membawa oleh-oleh. Makanan suku Indian dari Amerika Utara, pemmican namanya. 

Daging kering yang ditumbuk halus, dicampur lemak dan buah beri, lalu dikemas sebagai sumber energi bagi para pejuang musim dingin. Mirip keumamah, tapi ini dari daging, bukan ikan.

Baca juga: Gaji 13 Bagi 3.433 ASN, Bupati, Wakil Bupati dan DPRK Pijay Cair, Jumlahnya Capai Rp 17 Miliar Lebih

Saya menatap pemmican itu lama. Bukan karena ingin mencicipinya, melainkan karena tersentak. 

Bukankah di ujung Woyla kami juga punya makanan dari daging yang diawetkan secara alami? Bukankah tangan lelah nenek saya dahulu tak jauh berbeda dengan para perempuan Indian itu?

Di Woyla, rasa tak dibangun dari kemewahan, tapi dari kesederhanaan yang jujur. Daging dan durian, dua pilar rasa kami. Jika daging menjanjikan tenaga, maka durian menjanjikan cerita. Terutama asam drien, fermentasi liar durian tanpa garam. 

Ia bukan tempoyak. Lebih liar. Lebih jujur. Lebih Woyla. Bersatu dengan rebung muda, berpadu dengan tulang dan urat, melahirkan cakok sejati.

Cakok bukan makanan pesta. Tapi ia hadir dalam peristiwa penting, termasuk ketika qurban datang. Dulu, sebagian daging qurban dijadikan rendang. Sebagian lagi dijemur jadi cadangan. 

Kadang, itulah asal mula cakok. Ia adalah bentuk rasa syukur yang tak terburu-buru. Sisa yang dijaga, bukan dibuang. Sebab ia berharga.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved