KUPI BEUNGOH
Tak Hanya Emas, Woyla Juga Punya Cakok, Warisan yang Bisa Dinikmati
Karena mudik bukan hanya soal pulang ke rumah, tapi juga pulang ke rasa. Rasa yang mengikat kita pada tanah dan sejarah. Dan dari semua rasa itu, cako
Kini, saat qurban kembali dan orang-orang sibuk memasak kari dan gulai, saya hanya ingin satu hal. Mencium kembali aroma cakok dari dapur rumah.
Baca juga: Polres Langsa Tangkap 3 Tersangka Kurir Sabu 2,3 Kg dan Ganja 2,1 Kg
Tapi zaman berubah. Anak-anak kini lebih kenal keju daripada durian tua. Mereka bisa bikin sushi, tapi tak tahu menjemur kulit sapi agar tak amis.
Namun saya percaya, tak semua harus ikut larut. Cakok adalah jejak rasa yang masih menyisakan siapa kita. Ia bukan sekadar makanan. Ia adalah memoar. Tentang hidup. Tentang bertahan. Tentang mencintai dalam diam.
Saya membayangkan, suatu hari nanti, anak-anak Woyla akan mencari cakok. Bukan karena lapar, tapi karena ingin tahu siapa nenek mereka.
Apa yang dimasak saat belum ada listrik. Apa yang disimpan ketika rezeki datang setahun sekali. Ketika cakok itu disajikan, mereka akan tahu bahwa ini bukan sekadar hidangan. Ini cerita.
Karena mudik bukan hanya soal pulang ke rumah, tapi juga pulang ke rasa. Rasa yang mengikat kita pada tanah dan sejarah. Dan dari semua rasa itu, cakok adalah yang paling jujur.
Asamnya tidak dibuat-buat. Gurihnya lahir dari kesabaran. Teksturnya mungkin kasar, tapi di dalamnya ada kelembutan yang tak semua orang bisa mengerti.
Saya menulis ini bukan untuk nostalgia. Tapi untuk merawat. Jika tak kita jaga, bukan hanya cakok yang hilang, tapi juga bagian diri kita yang dulu cukup dengan sepiring nasi, sejumput rebung, dan kulit kerbau yang tak pernah menyombongkan diri.
Dan seperti qurban, yang hakikatnya adalah memberi yang terbaik, mungkin sudah saatnya kita juga memberi perhatian terbaik bagi cakok.
Agar ia tak lenyap oleh microwave dan ayam tepung waralaba. Agar anak-anak tahu, di Woyla, daging bukan sekadar soal makan. Tapi tentang bertahan. Tentang menghargai. Tentang merawat rasa yang turun-temurun.
Saya percaya, selama masih ada yang ingin mengenangnya, cakok tak akan mati.
Baca juga: Jenderal Israel: Berperang dengan Iran Hanya Menguras Tenaga, Bom Nuklir Menanti Kita
Saya membayangkan, suatu hari nanti, ada rumah makan di pusat kota yang dengan bangga menulis di papan menunya:
Cakok Rebung ala Woyla, Resep Nenek Moyang. Dan orang-orang akan datang, mencicipi, dan pulang dengan cerita. Bukan cuma foto.
Sampai hari itu tiba, tugas kita adalah menjaga. Melestarikan. Mengajak anak-anak duduk di dapur, mencium aroma santan dan rebung, dan berkata:
Nak, ini bukan sembarang masakan. Ini warisan. Ini darah kita.
Karena tak semua peninggalan leluhur harus berupa emas. Kadang cukup dengan sepiring cakok.
*) PENULIS adalah pengamat kuliner lawas dan modern | Email: abonaqila@gmail.com
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Mulia-Mustafa-SPd_Penulis-adalah-pengamat-kuliner-lawas-dan-modern.jpg)