Kupi Beungoh
Hasan Tiro, Surat Ultimatum dan Tragedi Pulot Cot Jeumpa Aceh Besar
Surat ultimatum yang dikirim oleh Hasan Tiro itu berkaitan dengan tuntutan penghentian kekerasan yang sedang terjadi di Aceh dan wilayah Darul Islam l
Darul Islam Aceh diproklamasikan pada 21 September 1953. Jadi, pemilihan batas waktu ini berkaitan dengan satu tahun Darul Islam Aceh.
Baca juga: Jelang Pelantikan, Abu Sarjani dan Al Zaizi Ziarah dan Dipeusijuk di Makam Hasan Tiro
Maka dari itu, surat ultimatum Hasan Tiro perlu dilihat sebagai suatu propaganda politik menjelang satu tahun Darul Islam Aceh.
Propaganda ini bertujuan untuk mengampanyekan Darul Islam atau Republik Islam Indonesia kepada dunia internasional.
Nuansa Aceh oriented juga sangat jelas dalam butir-butir ancaman jika tuntutannya diabaikan.
Dalam suratnya, Hasan Tiro, mengancam pemerintah jika tidak memenuhi anjurannya dengan ancaman bahwa Darul Islam akan membuka dengan resmi perwakilan diplomatik di seluruh dunia, termasuk di Persatuan Bangsa-bangsa (PBB).
Selain itu, ia juga mengancam akan memajukan kasus kekerasan, penyiksaan, dan pembunuhan di Aceh kepada General Assembly PBB yang akan datang dan akan menuntut tindakan genosida rezim Ali di hadapan PBB.
Dalam ancaman ini, posisi Aceh dan rakyatnya yang menjadi korban disebutkan secara khusus oleh Hasan Tiro yang berbeda dengan wilayah-wilayah lainnya.
Baca juga: Menyibak Tabir Hidup Hasan Tiro di Yogyakarta
Selanjutnya, ancaman yang dilayangkan Hasan Tiro termasuk akan mengampanyekan kekejaman rezim penguasa kepada seluruh dunia, mengusahakan pengakuan dunia internasional terhadap Republik Islam Indonesia, mengusahakan pemboikotan diplomatik dan ekonomi internasional atas rezim penguasa, dan yang terakhir akan mengusahakan bantuan moral dan material untuk melawan rezim terror.
Secara historis, surat ultimatum Hasan Tiro didorong oleh realitas objektif atas situasi dan kondisi politik yang sedang terjadi di Indonesia.
Beberapa kali ia menekankan secara khusus terkait tindak kekerasan dan kekejaman negara di Aceh.
Melalui surat tersebut, Hasan Tiro menghendaki penghentian kekerasan dan pertumpahan darah serta menganjurkan musyawarah sebagai solusi untuk penyelesaian pertikaian politik yang sedang terjadi di Indonesia.
Dengan pembacaan yang lebih mendalam, surat ultimatum Hasan Tiro jelas tidak dalam rangka untuk merespon peristiwa Pulot Cot Jeumpa.
Tetapi sebagai bagian dari strategi propaganda politik yang telah dirancang dengan matang menjelang peringatan satu tahun proklamasi Darul Islam Aceh.
Baca juga: 13 Tahun Meninggal Hasan Tiro, Sejarah Perjuangan Hingga ‘Dekrit Keramat’ di Camp Bateë Iliëk
Hasan Tiro secara sadar memanfaatkan surat tersebut sebagai alat diplomasi untuk menarik perhatian dunia internasional sekaligus menekan Pemerintah Indonesia.
Dengan mengeluarkan surat pada 1 september 1954, ia membutuhkan waktu tiga minggu, sebelum Darul Islam Aceh tepat berusia satu tahun pada 21 September 1954 untuk mengampanyekan ultimatumnya di dunia internasional.
Kemudahan Tanpa Tantangan, Jalan Sunyi Menuju Kemunduran Bangsa |
![]() |
---|
Memaknai Kurikulum Cinta dalam Proses Pembelajaran di MTs Harapan Bangsa Aceh Barat |
![]() |
---|
Haul Ke-1 Tu Sop Jeunieb - Warisan Keberanian, Keterbukaan, dan Cinta tak Henti pada Aceh |
![]() |
---|
Bank Syariah Lebih Mahal: Salah Akad atau Salah Praktik? |
![]() |
---|
Ketika Guru Besar Kedokteran Bersatu untuk Indonesia Sehat |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.