Senin, 20 April 2026

Opini

Perang Iran dan Israel Kontestasi Narasi Teologi

Memang beberapa kepentingan ini terkadang memiliki keterhubungan yang sangat kuat. Hal ini meniscayakan bahwa upaya memahami sebuah fenomena global te

Editor: mufti
IST
Prof Dr Lukman Hakim Abdul Wahab MAg, Guru Besar Teologi Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry 

Prof Dr Lukman Hakim Abdul Wahab MAg, Guru Besar Teologi Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

PERANG antara Iran dan Israel telah menyita perhatian serius sekaligus mendebarkan masyarakat dunia. Eskalasi konflik ini mempresentasikan pertentangan kepentingan politik, ekonomi dan bahkan melibatkan narasi agama dan teologi. Memang beberapa kepentingan ini terkadang memiliki keterhubungan yang sangat kuat. Hal ini meniscayakan bahwa upaya memahami sebuah fenomena global termasuk konflik antarnegara dan bahkan antarperadaban harus dianalisis dalam sebuah wawasan komprehensif persilangan kepentingan yang saling terkait.

Tulisan ini akan mengkhususkan pada kehadiran narasi teologi dalam peperangan antara Iran dan Israel. Dalam kajian teologi memang dinyatakan bahwa narasi keagamaan dan ketuhanan sering menjadi pemantik emosional untuk mengerakkan perlawanan. Hal inilah yang menyebabkan perpolitikan selalu dibalut dengan narasi teologi untuk menyakralkan sebuah kepentingan politik. Kenyataan ini dalam kajian teologi sering diistilahkan sebagai proses penyakralan politik (taqdis al-siyasi).

Dalam dunia ini  memang ada dua kekuatan besar yang mampu membuat manusia secara emosional mau mempertaruhkan hidup dan matinya yaitu filsafat dan agama. Kedua kekuatan inilah yang oleh David Trueblood disebut sebagai the ultimate problem atau masalah terpenting. Banyak catatan tentang tokoh-tokoh filsafat dan pemeluk agama yang setia telah mengorbankan jiwanya dalam mempertahankan gagasan dan keimanannya. Kisah popular, tentang Masyithah yang rela mempertaruhkan nyawanya demi keyakinannya, dan Bilal bin Rabah yang tanpa kenal takut disiksa oleh majikan Umayyah bin Khalaf demi menjaga agama dan keimanannya.

Narasi teologi

Begitu kuatnya narasi teologi mempengaruhi kehidupan manusia. Hal inilah kemudian membuat narasi agama dihadirkan dalam mewarnai konflik politik dan keagamaan itu sendiri. Peran antara Israel dan Iran juga melibatkan narasi teologi yang begitu kentara. Pelibatan narasi keagamaan ini membuat masing-masing pihak merasa ada panggilan keimanan dalam setiap tindakan perang yang mereka bijaki, bahkan semua dehumanisasi yang terjadi semasa perang seakan terhalalkan.

Perang yang mendapat legitimasi oleh agama membuat semua kejahatan terlihat berubah menjadi terhormat. Serangan mendadak Israel ke ke sejumlah fasilitas militer dan nuklir Iran di Natanz dan Isfahan pada 13 Juni 2025 oleh zionis dianggap sebagai pesan agama untuk menghilangkan ancaman nuklir bagi kehidupan manusia. Serangan ini menggunakan sandi “Operation Rising Lion” atau “Operasi Singa  Bangkit” yang diinspirasikan dari pesan kitab Pentateukh Bilangan 23;24 yang merupakan bagian dari Taurat kitab suci agama Yahudi.

Dalam kitab Yahudi ini secara jelas menyebutkan “Sesungguhnya, bangsa itu akan bangkit seperti singa besar, dan akan berdiri kokoh seperti singa muda, singa yang tidak akan berbaring sebelum memakan mangsanya dan melahap darah orang-orang yang terbunuh”.

Dengan membawa pesan teologi Yahudi ini, Israel memproklamirkan diri sebagai singa bangkit yang siap mencengkeram musuh-musuh yang mengancam eksistensinya.

Pesan teologi ini kemudian diperkuat oleh doktrin kebijakan luar negeri Israel yang dikenal dengan “doktrin Begin” yang menginstruksikan adanya serangan preventif terhadap bangsa lain yang dianggap mengancam. Doktrin Begin ini pertama sekali digagas oleh Perdana Menteri Israel Menachem Begin, merupakan sebuah kebijakan antiproliferasi terkait kemampuan musuh potensial terutama yang memiliki proyek pengembangan nuklir yang dianggap sebagai pemusnah massal yang mengancam.

Dengan narasi teologi Yahudi melalui Operation Rising Lion yang diperkuat dengan doktrin Begin ini, Israel mempermaklumkan bahwa menyerang negara lain adalah sesuatu strategi yang terhormat untuk melindungi dan menyelamatkan kaum zionis dari kepunahan. Bagi Israel menyerang Iran itu adalah perintah teologi, oleh karenanya mereka tidak pernah mau terikat dengan etika universal. Sehari sebelum serangan dimulai Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menyelipkan surat tulisan tangan di celah Tembok Barat Yerussalem, tempat doa paling suci bagi bangsa Yahudi sebagai simbolik bahwa penyerangan ini terlegitimasi secara teologis.

Dari sisi Iran, mendapatkan serangan Israel yang secara tiba-tiba menyasar proyek pengayaan uranium mereka adalah penginjakan harga diri. Iran selalu menanamkan dalam diri setiap warganya tentang martabat (dignity) sebagai bangsa besar Persia yang memiliki sejarah keagungan. Pantang ada bangsa lain yang mencoba merenggut harga diri negara para mullah yang telah mereka jaga sebagai sebuah warisan Persia yang akan selalu mereka genggam walau dalam panas bara. Tidak sampai satu hari setelah serangan Israel, Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyampaikan akan memberikan respons yang kuat terhadap Zionis Israel.

Narasi teologi Syiah yang mulai dinyalakan, Ayatollah Ali Khemenei menyampaikan “Atas nama Haidar yang mulia, pertempuran  dimulai” mereferensikan pada sosok Imam Ali sebagai figur suci dalam Tradisi Syiah. Iran berdiri sebagai sebuah negara independen yang kuat yang membangun marwah di tengah embargo dunia internasional terhadap negeri mereka. Oleh karenanya secara teologi dan secara teknologi Iran selalu siap melawan setiap ajakan perang maupun ajakan damai.

Karena genderang perang telah mulai ditabuh oleh Zionis, Iran secara terukur membalas dengan mengirimkan berbagai macam drone dan rudal  ke ibu Kota Israel, Tel Aviv dan beberapa kota strategis lainnya di Israel seperti Haifa, Ness Ziona, Beersheba dan lain lain. Serangan balasan Iran ini diberi nama Operation True Promise yang bermakna Operasi Janji Sejati. Janji para pemimpin Iran sebagai ikrar janji balas dendam untuk menghukum pihak yang telah menyerang negaranya. Balasan besar-besaran Iran telah membuat perisai pertahanan Iron Dome Israel yang selama ini “angkuh” kewalahan dan jebol sehingga membuat kerusakan dalam skala besar di bagai kota utama di Israel.

Balasan masif dari Iran membuat mata dunia terbelalak bahwa Iran benar-benar telah menjelma menjadi negara 1001 rudal. Kalau kita melihat penamaan nama-nama rudal Iran ini juga sarat dengan muatan teologi. Misalnya rudal hipersonik yang dinamai Fattah diambil dari nama surat al-Fath dalam al-Quran yang berarti kemenangan, Kemudian nama rudal Sejjil yang terinspirasi dari salah satu kata dalam surah al-Fil yang berarti tanah dari neraka yang siap menghanguskan. Ada juga rudal Iran yang bernama Kheibar yang merujuk kepada nama sebuah benteng Yahudi di dekat kota Madinah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved