Mental Health
Kenapa Banyak Gen Z Quiet Quitting Stop Lembur? Begini Cara Menjaga Kesehatan Mental di Tempat Kerja
Melansir dari Harvard Business Reviews (2022) Quiet quitting bukan hanya tentang berhenti dari pekerjaan, melainkan tentang menetapkan batas.
Penulis: Gina Zahrina | Editor: Amirullah
SERAMBINEWS.COM - Sering mendengar “kalau aku kerja lembur terus, siapa yang akan jaga kesehatan mentalku?” Kalimat seperti ini kini tak asing lagi didengar di kalangan pekerja muda.
Terutama setelah pandemi COVID-19, terutama di kalangan Gen Z yang banyak orang mulai mempertanyakan ulang makna kerja keras dan apakah itu sepadan dengan apa yang mereka dapatkan.
Ditengah realitas itu, lahirlah istilah baru yaitu quiet quitting. Meskipun terdengar seperti pengunduran diri, namun quiet qutting sebenarnya menggambarkan sikap karyawan yang memutuskan untuk tidak lagi memberika tenaga dan waktu ekstra.
Kecuali yang memang pekerjaan tersebut memang menjadi tanggung jawab mereka. Bukan berhenti bekerja, tetapi berhenti untuk “berkorban berlebihan”.
Apa itu Quiet Quitting?
Sering mendengarnya? Melansir dari Harvard Business Reviews (2022), quiet quitting bukan hanya tentang berhenti dari pekerjaan, melainkan tentang menetapkan batas.
Karyawan tetap akan menyelesaikan tugas yang menjadi kewajibannya, namun tidak lagi terlibat secara emosional atau memberikan kontribusi di luar ekspektasi dasar.
Baca juga: 25 Istilah Gaul Gen Z Paling Viral 2025: Apa Itu Aura Farming dan Bocah Pacu Jalur Yang Mendunia?
Contohnya seperti lembur tanpa kompensasi, ikut proyek tambahan tanpa penghargaan, atau selalu menjadi pihak yang available atau “siap sedia”.
Awal Munculnya Quiet Quitting
Melansir dari Kompas, istilah ini mulai viral di TikTok pada pertengahan 2022, setelah seorang pengguna membagikan pengalamannya “quiet quit” dari pekerjaannya.
Sejak itu, istilah ini marak mencuat sebagai bagian dari pergeseran cara pandang terhadap pekerjaan yang dijalaninya.
Menurut data dari U.S Bureau of Labor Statistics, terdapat lebih dari 71 juta orang di AS mengundurkan diri antara April 2021 hingga April 2022, dalam fenomena yang dikenal sebagai The Great Resignation.
Namun, sebagian besar dari mereka tidaklah sepenuhnya resign, melainkan memilih bertahan sambil menetapkan batasan kerja yang lebih sehat dan masuk akal.
Timbul pertanyaan, mengapa banyak pekerja memilih quiet qutting? Apa penyebabnya?
Melansir dari TechTarget (2023) dan Asana’s Anatomy of Work Index (2022), beberapa faktor utama di balik quiet quitting antar lain adalah.
- Beban kerja berlebihan tanpa kompensasi yang sepadan
- Gaji stagnan di tengah inflasi
- Kurangnya peluang promosi dan pengembangan diri
- Minimnya apresiasi dari atasan atau manajemen
- Komunikasi kaku akibat sistem kerja hybrid/remote
- Burnout yang makin meluas
Dalam laporan Asana, ditemukan bahwa 70 persen karyawan global mengalami burnout, dan hal ini menjadi pemicu banyak orang mengubah pendekatan mereka terhadap pekerjaan.
Baca juga: Ingin Menabung? Ini Cara Cerdas Investasi Emas Digital Ala Gen Z Milenial yang Menguntungkan
Tanda-Tanda Quiet Quitting
Quiet quitting tidak selalu mudah dikenali, tetapi ada sejumlah pola perilaku yang menjadi indikatornya:
- Datang dan pulang kerja tepat waktu, tanpa lembur sukarela
- Tidak berpartisipasi aktif dalam rapat atau diskusi tim
- Enggan menerima tanggung jawab tambahan
- Tidak menunjukkan inisiatif baru
- Fokus hanya pada tugas inti dalam deskripsi kerja
- Kurang antusias terhadap visi atau misi jangka panjang perusahaan
Namun perlu diingat, mereka tetap profesional. Quiet quitters tetap menyelesaikan pekerjaan mereka yang membedakan hanyalah batasan energi yang diberikan.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.