Human Story from Gaza
Mereka Bilang Waktu di Gaza Terbuat dari Darah, tapi Sekarang, Darah, Air mata, dan Kelaparan
Mengapa kita harus hidup seperti ini, semangat hancur setiap hari sementara kita menunggu bencana berikutnya?
Mengapa saya dan begitu banyak ibu lain di sini terpaksa mengalami hal seperti ini, di bawah tekanan mental, dengan seorang anak yang belum sempat saya persiapkan?
Jadi saya tertidur sambil memikirkan berapa banyak makanan yang tersisa dan terbangun untuk bergegas membawa anak saya ke toilet.
Kemarahan dan kecemasan meningkat saat saya mencoba mengelola persediaan air kami yang berharga sementara pakaian kotor menumpuk akibat kecelakaan sehari-hari.
Kemudian datanglah perintah pengusiran di Deir el-Balah.
Tamparan baru. Bahaya semakin besar seiring tank-tank Israel mendekat .
Dan di sinilah aku: lapar, lepas popok, meninggikan suaraku pada seorang anak yang tak dapat mengerti sementara suara penembakan bergemuruh di sekeliling kami.
Mengapa kita harus hidup seperti ini, semangat hancur setiap hari sementara kita menunggu bencana berikutnya?
Baca juga: GAZA TERKINI - Dalam 24 Jam, 15 Warga Gaza Tewas Kelaparan, Korban Terus Berjatuhan
Banyak yang terpaksa mengemis. Ada yang memilih mati demi sepotong roti atau segenggam tepung.
Yang lainnya tinggal di rumah, menunggu tank tiba.
Banyak orang, seperti saya, yang hanya menunggu giliran untuk bergabung dalam barisan orang-orang yang kelaparan tanpa mengetahui seperti apa akhirnya nanti.
Dulu mereka bilang waktu di Gaza terbuat dari darah. Tapi sekarang, darah, air mata, dan kelaparan.
*) Artikel ini ditulis Maram Humaid dari Al Jazeera bercerita tentang usahanya mengurus anak-anaknya sambil mengkhawatirkan keluarganya akan kelaparan di Deir el-Balah, Gaza, telah dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia dengan sumber aslinya dari Al Jazeera berjudul ‘Flour, fire and fear as I try to parent in a starving Gaza’.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Maram-Humaid-790jkl.jpg)