Berita Aceh Singkil
Ini Sebaran Kasus DBD di Aceh Singkil Periode Januari-Juli, Gunung Meriah & Simpang Kanan Dominan
Sementara delapan kecamatan yang mencatatkan kasus DBD, didominasi Kecamatan Gunung Meriah dan Kecamatan Simpang Kanan.
Penulis: Dede Rosadi | Editor: Nur Nihayati
Sementara delapan kecamatan yang mencatatkan kasus DBD, didominasi Kecamatan Gunung Meriah dan Kecamatan Simpang Kanan.
Penulis: Dede Rosadi I Aceh Singkil
SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Kabupaten Aceh Singkil, mencatatkan 69 kasus demam berdarah dengue (DBD) periode Januari hingga 24 Juli 2025.
Dari 11 kecamatan di Kabupaten Aceh Singkil, kasus DBD tersebar di delapan kecamatan.
Sedangkan tiga kecamatan negatif DBD.
Tiga kecamatan yang tidak mencatatkan kasus DBD yaitu Kecamatan Pulau Banyak Barat, Kota Baharu dan Kecamatan Danau Paris.
Sementara delapan kecamatan yang mencatatkan kasus DBD, didominasi Kecamatan Gunung Meriah dan Kecamatan Simpang Kanan.
Di dua kecamatan tersebut tercatat ada 48 kasus atau 69,5 persen dari total 69 kasus.
Rinciaannya Kecamatan Gunung Meriah 24 kasus dan Kecamatan Simpang Kanan 24 kasus.
Berikutnya Kecamatan Singkil Utara 9 kasus dan Singkil 8 kasus. Sisanya di Kecamatan Singkohor, Suro Makmur, Pulau Banyak dan Kecamatan Kuala Baru, masing-masing 1 kasus.
Sebagaimana diketahui dalam kurun waktu empat hari, terhitung mulai 21 sampai 24 Juli 2025 terjadi tujuh kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Aceh Singkil.
Kasus terbaru penyakit infeksi akibat virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti atau aedes albopictus itu, tersebar di enam desa dalam tiga kecamatan.
Rinciannya di Desa Gosong Telaga Utara, Kecamatan Singkil Utara, satu kasus.
Di Kecamatan Simpang Kanan, empat kasus, yaitu di Desa Pandan Sari dua kasus.
Lalu di Desa Lipat Kajang Atas dan Desa Kuta Kerangan masing-masing satu kasus.
Dua kasus lagi di Desa Bukit Harapan dan Desa Tulaan, Kecamatan Gunung Meriah.
Pasien DBD lima orang usianya di bawah 15 tahun dan dua orang usia antara 28 sampai 48 tahun.
Berdasarkan jenis kelamin warga yang terserang DBD lima orang laki-laki dan dua orang perempuan.
Dari 69 kasus DBD mayoritas sudah sembuh, kecuali temuan 7 kasus terbaru, pasien sedang dalam proses penyembuhan.
Pada awal tahun kasus DBD mulai ditemukan 20 Januari 2025 di Desa Rimo, Kecamatan Gunung Meriah.
Pihak Dinas Kesehatan Aceh Singkil, telah melakukan sejumlah langkah penanggulangan DBD.
Antara lain melakukan fogging di tempat tinggal serta lingkungan sekitar pasien.
Fogging merupakan tindakan pengasapan dengan menggunakan insektisida untuk membunuh nyamuk dewasa, terutama yang menjadi vektor penyakit seperti DBD.
Vektor penyakit yaitu organisme hidup, biasanya serangga atau hewan, yang dapat menularkan patogen penyebab penyakit dari satu inang (manusia atau hewan) yang terinfeksi ke inang lain yang rentan.
"Fogging dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP)," kata Kepala Dinas Kesehatan Aceh Singkil, Mursal, SKM, MMKes, Kamis (24/7/2025).
Berikutnya menurut Mursal, pihaknya telah instruksikan Puskesmas agar imbau warga melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
Langkah lain yang telah dilakukan Dinas Kesehatan Aceh Singkil, melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) ke rumah pasien dan lingkungan sekitar pasien.
Kemudian melakukan survei jentik nyamuk. Setelah jentik nyamuk ditemukan, maka melakukan pemberantasan sarang nyamuk.
"Saat PE petugas melakukan promosi kepada masyarakat dan menjelaskan kepada keluarga pasien agar bisa melakukan pemantauan jentik di setiap tempat penampungan air seperti tong penyimpanan air, bak mandi dan lain-lain," jelas Mursal.
Promosi yang dimaksud Mursal adalah promosi kesehatan, yakni proses yang dirancang untuk memberdayakan individu dan masyarakat agar dapat meningkatkan dan mempertahankan kesehatan.
Sementara itu demam berdarah dengue yang disingkat DBD, merupakan penyakit infeksi disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti atau aedes albopictus.
Gejala umum DBD meliputi demam tinggi, sakit kepala parah, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, ruam kulit, serta perdarahan.
Penderita DBD harus segara ditangani dengan tepat. Jika tidak DBD dapat menyebabkan komplikasi serius seperti syok, perdarahan hebat, bahkan berujung kematian.
Pengobatan DBD biasanya bersifat suportif (memberikan dukungan dan semangat), istirahat, konsumsi cairan yang cukup, dan penggunaan obat untuk mengurangi demam serta nyeri.
Sedangkan pencegahan DBD melibatkan pengendalian populasi nyamuk dan menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan kelambu, obat nyamuk, dan pakaian pelindung.
Pengendalian atau pemberantasan nyamuk dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan serta menggalakan gerakan 3M, yaitu menguras dan membersihkan tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi, ember dan vas bunga.
M berikutnya menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti tempat penampungan air minum, drum, dan lain-lain agar tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
Langkah M ketiga mengubur atau mendaur ulang barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan, seperti kaleng bekas, botol bekas, ban bekas, dan lain-lain.(*)
Baca juga: Melawan Deman Berdarah Dengue Menuju Indonesia Zero Dengue Death 2030
Musim Kemarau Melanda, Tanaman Sawit Warga Singkil Kekeringan |
![]() |
---|
Tips Berpetualang ke Rawa Singkil, Habitat Orangutan Terpadat di Dunia |
![]() |
---|
Banyak Ikan Mati di Sungai Lae Tonong Aceh Singkil, Diduga Akibat Penggunaan Racun |
![]() |
---|
Banyak Ikan Mati di Sungai Lae Tonong, Diskan Aceh Singkil Turunkan Tim ke Lokasi |
![]() |
---|
Sambut Harlah Kejaksaan, Kejari Aceh Singkil Kumpulkan Darah 29 Kantong |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.