Kupi Beungoh
Lahir Sekali Lagi sebagai Pemuda
Saya pernah duduk di sebuah forum. Seorang anak muda memperkenalkan diri. Namanya biasa saja. Tapi . . .
Kita sering berkata, “Yang muda yang berkarya.” Tapi terlalu banyak yang muda justru sibuk membanggakan siapa yang dikenalnya. Sementara yang berkarya? Justru sering tak punya siapa-siapa.
“Nilai seseorang tergantung pada apa yang ia lakukan dengan tangannya sendiri.” Itu cukup jelas. Kalau hidup ini hanya mengulang reputasi orang tua, buat apa kita dikaruniai hidup baru?
Barangkali, tantangan terbesar generasi muda hari ini bukan kemiskinan. Tapi keberanian. Berani gagal, berani ditertawakan, berani dicaci, dan tetap berkata: “Inilah aku.” Bukan berlindung di balik nama besar, lalu diam-diam menagih hak istimewa.
Kalau begitu, bolehlah kita bertanya:
Apakah saya benar-benar muda?
Atau cuma belum cukup tua untuk berhenti bergantung? (*)
*) PENULIS adalah Kandidat Doktor Studi Islam Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA TULISAN KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI
| Menyikapi Ancaman El-Nino Godzilla |
|
|---|
| Tak Terdata, Tak Terlihat: Realitas Sosial di Balik Angka JKA |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 10, Keberlangsungan Peradaban Keamanan Manusia, Stop War |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Alwy-Akbar-Al-Khalidi-0101.jpg)