Wellness

Lebih Pilih Curhat ke ChatGPT Daripada Manusia? Ini Alasan Remaja Jauh dari Orang Terdekat

Salah satu faktor utama yang menyebabkan remaja lebih memilih chatbot adalah akses yang mudah dan cepat.

Penulis: Gina Zahrina | Editor: Ansari Hasyim
Freepik
ILUSTRASI 3 REMAJA SEDANG CURHAT - Mereka merasa lebih nyaman mencurahkan isi hati kepada chatbot berbasis Artificial Intelligence (AI), seperti ChatGPT, dibanding kepada orang tua, guru, atau sahabat. Kenapa demikian? Berikut penjelasannya 

SERAMBINEWS.COM - Dimulai dari kalimat “Lebih enak curhat ke chatgpt, daripada ke orang tua.” Kalimat seperti ini mulai sering terdengar di kalangan remaja zaman sekarang.

Di tengah kemajuan teknologi dan makin mudahnya akses ke internet, chatbot berbasis Artificial Intelligence (AI) seperti ChatGPT dan Gemini justru sekarang menjadi teman curhat baru bagi para remaja.

Fenomena ini tidak lagi dianggap sebagai hal aneh. Justru makin banyak ditemukan kasus serupa di berbagai kalangan remaja.

Pertanyaannya, mengapa mereka lebih memilih curhat ke mesin daripada ke manusia? Apa dampaknya bagi perkembangan psikologis mereka?

Berikut Serambinews akan rangkum dan menjelaskannya kenapa hal ini bisa terjadi.

Kenapa Remaja Bisa Lebih Nyaman Curhat ke Chatbot?

Melansir dari Kompas, Psikolog anak dan remaja, Firesta Farizal, M.Psi., menjelaskan bahwa tren ini tidak datang secara tiba-tiba, melainkan bisa dipicu oleh kombinasi antara perubahan gaya hidup digital dan dinamika emosional remaja.

Baca juga: Wow Serasa Punya ChatGPT Pribadi di HP! Aplikasi AI Edge Gallery Google Ini Bisa Jalan Offline

Salah satu faktor utama yang menyebabkan remaja lebih memilih chatbot dari pada manusia adalah akses yang mudah dan cepat.

Kalau dengan manusia mungkin mereka harus nunggu beberapa saat untuk berinteraksi atau ada yang tidak ingin orang tersebut tahu tentang apa yang ingin di curhatkan.

Sedangkan curhat dengan chatgpt atau bot tinggal kirim apa yang ingin disampaikan lalu mendapat balasan dari bot tersebut.

Dan hampir semua remaja saat ini memiliki ponsel pintar dan terhubung dengan internet, sehingga mereka bisa langsung membuka aplikasi chatbot kapan pun dan dimanapun mereka butuh teman bicara.

Ada beberapa penyebab utama yang mendorong perilaku ini:

  1. Akses teknologi yang sangat mudah. Remaja saat ini nyaris tidak pernah lepas dari ponsel dan internet. Dengan satu klik, mereka bisa langsung mengakses chatbot dan mulai “ngobrol”.
  2. Rasa aman emosional. Banyak remaja merasa lebih tenang saat bercerita ke chatbot karena mereka tidak perlu takut dinilai, disalahkan, atau dicap lemah.
  3. Minimnya dukungan dari lingkungan sekitar. Tidak semua remaja punya hubungan hangat dengan orang tua atau teman. Saat merasa tidak dimengerti, mereka memilih AI sebagai alternatif yang netral.
  4. Respons cepat dan empatik. Chatbot dirancang untuk menjawab dengan ramah dan sesuai konteks. Meskipun berbasis algoritma, tanggapannya sering kali terasa "mengerti".

Baca juga: Jangan Diabaikan! Ini Bahaya Mimpi Buruk untuk Kesehatan Mental dan Fisik

Apa Itu Chatbot dan Mengapa Jadi Pilihan?

Chatbot adalah program berbasis kecerdasan buatan yang bisa meniru percakapan manusia secara otomatis.

Contohnya adalah ChatGPT atau Gemini yang sering digunakan untuk berbagai keperluan mulai dari mencari jawaban, menyusun tulisan, hingga menjadi "teman curhat".

Sebagai informasi chatbot seperti chatgpt dan gemini mampu:

  • Merespons dalam hitungan detik
  • Memberikan jawaban sesuai nada emosional yang diinginkan pengguna
  • Tidak menghakimi atau menolak pembicaraan
  • Bisa diakses kapan saja, tanpa harus menunggu seseorang tersedia

Itulah sebabnya, banyak remaja merasa lebih dipahami dan lebih aman secara emosional saat berbicara dengan AI dibanding manusia.

Dalam kondisi ideal, remaja seharusnya memiliki ruang aman untuk berbagi perasaan dengan orang tua, guru, atau teman.

Baca juga: Kenapa Banyak Gen Z Quiet Quitting Stop Lembur? Begini Cara Menjaga Kesehatan Mental di Tempat Kerja

Namun kenyataannya, dukungan emosional dari lingkungan sekitar masih sering minim. Tidak semua orang tua mampu membangun komunikasi yang terbuka dengan anaknya.

Akibatnya, remaja cenderung menarik diri dan mencari pelarian yang netral dan mudah diakses, seperti chatbot.

Firesta juga menyoroti bahwa chatbot sering kali memberikan solusi instan. Bagi remaja yang sedang bingung atau stres, jawaban cepat yang diberikan AI terasa sangat membantu.

Ya meskipun hanya berdasarkan algoritma. Dan ini memperkuat persepsi bahwa chatbot mampu menjadi “penyelesai masalah” yang aman dan tidak merepotkan.

Dampak Negatif Jika Dibiarkan Tanpa Pendampingan

Meski terlihat praktis dan membantu, penggunaan chatbot sebagai tempat curhat juga bisa memunculkan efek negatif:

  • Remaja menjadi semakin tertutup dari dunia nyata.
  • Kemampuan komunikasi dan empati bisa menurun.
  • Risiko kesepian meningkat, karena merasa hanya chatbot yang bisa “mengerti”.

Baca juga: Menganggur Tak Berarti Gagal: 8 Cara Jaga Kesehatan Mental Saat Belum Dapat Pekerjaan dari Psikolog

Firesta menjelaskan bahwa jika remaja terlalu sering menggantungkan diri pada AI untuk kebutuhan emosional, mereka bisa kehilangan kepercayaan pada interaksi sosial nyata.

Ini berbahaya untuk perkembangan psikologis mereka dalam jangka panjang. Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting.

Menurut Firesta, orang tua perlu hadir bukan hanya secara fisik, tapi juga secara emosional dan mendengarkan anak tanpa buru-buru menilai, menghargai perasaan mereka, dan menciptakan ruang aman untuk bercerita.

Hubungan yang kuat antara anak dan orang tua tidak terbentuk dalam semalam, tapi dibangun sejak dini melalui kebiasaan-kebiasaan kecil seperti mendengar dengan penuh perhatian dan menunjukkan empati.

Tips Bijak untuk Orangtua dan Remaja

1. Hadir Secara Emosional
Bangun kedekatan sejak dini. Dengarkan anak tanpa menghakimi dan ciptakan ruang aman untuk bercerita.

2. Atur Penggunaan Chatbot
Diskusikan batasan penggunaan AI. Bahas kapan anak bisa menggunakan chatbot dan kapan perlu bicara langsung dengan orang tua, guru, atau psikolog. Buat aturan yang fleksibel dan terbuka.

Baca juga: Pentingnya Memahami Kesehatan Mental

3. Edukasi Kesehatan Mental Sejak Dini
Ajarkan anak mengenali emosi seperti stres atau cemas, serta pentingnya mencari bantuan dari orang dewasa atau tenaga profesional bila diperlukan.

Pendekatan terbaik bukan melarang anak menggunakan chatbot, tetapi membuka ruang diskusi yang sehat dan nyaman.

Orang tua bisa mengajak anak berdialog mengenai batasan atau apa yang bisa dibicarakan ke AI, dan kapan lebih baik melibatkan manusia seperti orang tua, guru, atau konselor profesional.

Chatbot memang bisa memberi rasa nyaman dan jadi solusi cepat saat remaja ingin bercerita. Namun, AI bukan pengganti kehadiran manusia yang sesungguhnya.

Koneksi emosional dengan orang tua, guru, atau teman tetap menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan mental remaja.

Di tengah kemajuan teknologi, perhatian dan empati manusia tetap tak tergantikan.

(Serambinews.com/Gina Zahrina)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved