Wellness

Apa Itu Smiling Depression? Mengenal Gejala dan Cara Mengatasinya untuk Kesehatan Mental

Tapi tahukah kamu? Orang yang tampak paling ceria, paling aktif, dan paling banyak tertawa, bisa jadi orang yang paling hancur di dalam dirinya.

Penulis: Gina Zahrina | Editor: Ansari Hasyim
Freepik prostooleh
ILUSTRASI SMILLING - Sebuah ilustrasi seorang perempuan yang tersenyum untuk menutupi kesedihannya. Smiling depression adalah kondisi di mana seseorang mengalami depresi, namun tetap terlihat bahagia di depan orang lain. Mereka tetap bekerja, tertawa, dan bersosialisasi. Tapi di balik senyum itu, tersimpan rasa sedih, cemas, hingga putus asa. Berikut penjelasan lebih lengkapnya. 

Banyak orang merasa harus terus tampil bahagia, terutama di era media sosial. Unggahan kehidupan orang lain yang tampak sempurna bisa membuat seseorang merasa kurang, gagal, atau tidak cukup baik.

Kristen Eccleston, pakar kesehatan mental, menjelaskan, “Media Sosial dapat berdampak signifikan pada depresi, karena menciptakan disonansi antara apa yang sebenarnya dirasakan seseorang dengan apa yang mereka tunjukkan kepada dunia.” Kata Kristen Eccleston yang dikutip dari Kompas.

Dalam beberapa budaya, termasuk komunitas Asia, membicarakan kesehatan mental masih dianggap tabu. Banyak yang memilih diam karena takut dipandang lemah atau membuat keluarga malu.

Baca juga: Menganggur Tak Berarti Gagal: 8 Cara Jaga Kesehatan Mental Saat Belum Dapat Pekerjaan dari Psikolog

Bukan Sekadar Sedih Biasa

Smiling depression bukan hanya soal merasa sedih sesekali. Ini adalah kondisi serius yang melibatkan berbagai gejala seperti:

  • Perasaan hampa atau kehilangan makna hidup
  • Kelelahan emosional yang terus-menerus
  • Sulit tidur atau tidur berlebihan
  • Kehilangan minat pada hal-hal yang dulunya disukai
  • Menarik diri diam-diam, meskipun di depan umum tampak aktif
  • Merasa bersalah karena "tidak seharusnya merasa seperti ini"

Perbedaannya dengan depresi klasik adalah penampilan luar mereka yang tetap terlihat “normal” bahkan bahagia.

Mengapa Orang Menyembunyikannya?

Banyak faktor yang membuat seseorang memilih menutupi depresinya. Di antaranya:

  • Stigma sosial: Depresi masih dianggap sebagai kelemahan oleh sebagian besar masyarakat.
  • Tuntutan untuk selalu terlihat kuat: Terutama pada mereka yang memiliki peran penting di keluarga, pekerjaan, atau komunitas.
  • Media sosial: Membandingkan hidup dengan orang lain bisa menciptakan tekanan untuk selalu tampil sempurna.
  • Budaya: Beberapa budaya tidak mendorong untuk mengekspresikan emosi secara terbuka, dan menganggap curhat sebagai hal yang memalukan.

Menurut Asim Shah, MD, profesor psikiatri dari Baylor College of Medicine, banyak orang dalam komunitas Asia-Amerika dan Kepulauan Pasifik (AAPI) tidak mencari bantuan karena takut dinilai negatif oleh lingkungan mereka.

Baca juga: Sering Pakai Headset atau Earphone? Kenali Gejala Awal Gangguan Pendengaran hingga Kesehatan Mental

Siapa yang Rentan?

Siapa saja bisa mengalami smiling depression. Namun, beberapa kelompok lebih rentan, antara lain:

  • Perfeksionis, yang selalu ingin tampil sempurna
  • Orang yang takut mengecewakan orang lain, atau disebut people pleaser
  • Mereka dengan trauma masa lalu atau tekanan keluarga
  • Individu dengan tanggung jawab besar, seperti pemimpin, orang tua tunggal, atau pekerja profesional

Apa yang Bisa Dilakukan?

Jika Anda merasa mengalami gejala smiling depression, langkah pertama adalah mengakui perasaan itu. Anda tidak harus terus terlihat kuat. Mencari bantuan bukan tanda kelemahan, tapi keberanian.

Penanganan bisa meliputi:

  • Terapi psikologis (seperti CBT atau konseling emosional)
  • Aktivitas yang menenangkan seperti menulis jurnal, berjalan di alam, atau meditasi
  • Mengurangi konsumsi media sosial
  • Tidur cukup, makan sehat, dan rutin berolahraga
  • Membangun koneksi yang sehat dengan orang-orang yang dipercaya

Baca juga: Pentingnya Memahami Kesehatan Mental

Untuk orang terdekat, hadirlah tanpa menghakimi. Kadang, satu kalimat sederhana seperti “Aku di sini kalau kamu butuh teman cerita” bisa menyelamatkan seseorang dari jurang kesepian.

Yang bisa dipetik dari Smiling depression adalah jangan nilai seseorang hanya dari apa yang terlihat di permukaan. Senyum bisa menutupi banyak hal yang tak pernah kita bayangkan.

Jika kamu merasa lelah terus berpura-pura bahagia, ingatlah bahwa kamu tidak sendiri, dan kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

(Serambinews.com/Gina Zahrina)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved