Senin, 20 April 2026

Kupi Beugoh

Menjaga Warisan Hijau: Refleksi Hari Konservasi Alam Nasional untuk Aceh

Aceh menyimpan populasi jenis-jenis yang sangat rentan: Gajah Sumatra, Harimau Sumatra, Orang  Utan serta sisa populasi

Editor: Nur Nihayati
IST
Ir. M.Nasir, S.Hut, M.Si 

 

Oleh: Ir. M.Nasir, S.Hut, M.Si *)

DALAM Hikayat Aceh ada ungkapan: “Lôn sabee boh batee, lam ateuh lamoh udep; peugot geutanyoe batee, peugot nyawô ” Sepanjang hidup, aku menjaga batu ini di lubuk hati, Merusaknya sama dengan mencabut nyawa dari ragaku. Batu di sini bukan sekadar batu, melainkan lambang tanah, hutan, dan alam yang menjadi sumber kehidupan.

Pesan tersebut sangat relevan hari ini, Setiap 10 Agustus bangsa ini memperingati Hari Konservasi Alam Nasional. Momen yang ideal untuk berhenti sejenak dan menimbang nasib ekosistem yang menopang kehidupan.

Harta Alam yang Tersisa

Aceh masih memiliki kekayaan alam luar biasa. Data BPS (2023) menunjukkan sekitar sekitar 3,37 juta hektar hutan alami atau sekitar 59 persen dari daratan provinsi.

Namun, ancaman nyata tetap ada. Menurut Global Forest Watch (2024), kehilangan tutupan hutan mencapai ±13 ribu hektare dalam setahun terakhir.

Di Jantung Aceh terhampar Kawasan Ekosistem Leuser sebagai salah satu kawasan ekosistem terluas dan penting di Indonesia dengan ukuran mencapai  2,6 juta hektar, menjadi rumah bagi berjuta flora fauna,  beragam fungsi ekologis: pengatur aliran sungai, penyimpan karbon, dan habitat spesies terancam. Keberadaan Leuser adalah bukti bahwa Aceh memegang peran strategis dalam kelestarian lingkungan nasional maupun global.

Ancaman Nyata

Ancaman nyata terhadap konservasi di Aceh adalah kombinasi dari deforestasi untuk perkebunan dan konversi lahan, tekanan kegiatan ekstraktif, perburuan, serta perubahan iklim. Konsekuensinya bukan hanya hilangnya pohon, erosi, sedimentasi sungai, penurunan produktivitas perikanan, dan meningkatnya risiko bencana hidrometeorologis yang berdampak langsung pada masyarakat.

Laporan peneliti dan organisasi konservasi juga menyoroti adanya pembukaan ilegal dan perluasan lahan sawit di beberapa kawasan sensitif, termasuk yang berdampak pada cadangan habitat satwa.

Aceh menyimpan populasi jenis-jenis yang sangat rentan: Gajah Sumatra, Harimau Sumatra, Orang  Utan serta sisa populasi badak Sumatra yang amat kritis secara global.

Bayangkan, di seluruh Pulau Sumatra, populasi gajah hanya sekitar 1.700 ekor, harimau beberapa ratus, dan badak kurang dari seratus. Kehilangan habitat di Aceh berarti menghapus peluang hidup mereka. 

Langkah Konkret 

Konservasi hanya akan efektif jika menjadi bagian utuh dari rencana pembangunan, bukan proyek yang berdiri sendiri. Pemerintah daerah perlu memperkuat fungsi konservasi dalam tata ruang dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved