Senin, 4 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

MSAKA21: Aceh, Gayo, Alas - Akar Bahasa dan “Kain Palekat Satu Kodi”

Hubungan antara masyarakat Aceh, Gayo, dan Alas kerap dipahami dalam kerangka geografis semata. Satu di pesisir, dua di pedalaman. 

Tayang:
Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Studi-studi leksikostatistik seperti yang dilakukan oleh Ahyar memperlihatkan kekuatan luar biasa dari bahasa sebagai pelacak jejak sejarah manusia.

Dalam ketiadaan prasasti atau catatan tertulis, kata-kata dasar yang bertahan lintas abad menjadi fosil linguistik.

Fosil itu memberi tahu kita dari mana sebuah kelompok berasal, kapan mereka berpisah, dan seberapa erat hubungan mereka dengan tetangganya. 

Bahasa menyimpan memori kolektif yang lebih tua dari puisi, lebih jujur dari legenda, dan lebih jernih dari batas-batas yang digambar di peta.

Politik tak ada apa-apanya dibandingkan bahasa, kecuali dalam berbohong.

Refleksi atas semua ini menuntun kita untuk menyadari pentingnya studi bahasa-bahasa minoritas dan warisan linguistik lokal. 

Karena di balik bahasa-bahasa itu tersembunyi lapisan-lapisan identitas, hubungan purba, dan pengetahuan dunia yang nyaris tak tampak. 

Aceh, Gayo, dan Alas tidak hanya menawarkan keragaman adat dan logat, tetapi menyimpan peta terdalam tentang migrasi manusia, keretakan dan keterhubungan sosial, serta semangat hidup bersama dalam ruang budaya yang kompleks.

Ketika kata-kata lama masih diucapkan di dapur, di sawah, dan dalam syair adat, kita sedang menyaksikan sesuatu yang luar biasa yang selama ini kita abai.

Ini semua adalah kelanjutan dari sejarah panjang yang telah menenun masyarakat ini menjadi satu kodi, bukan karena seragam, tetapi karena disatukan oleh akar yang sama, dan bahasa yang terus bertumbuh di atas tanah yang mereka sebut rumah.

Kita bisa saja memisahkan Aceh dari Gayo, atau Alas dari pesisir, dengan peta, dengan administrasi, bahkan dengan politik. 

Tetapi bahasa memegang ingatan yang lebih tua dari semua itu. 

Ia menyimpan kenangan saat manusia belum mengenal kerajaan, belum mencatat sejarah, hanya hidup dan menamai apa yang mereka lihat. 

Dan dalam penamaan itu, mereka bersatu. 

Mereka satu kodi, dari satu tenunan yang sama, meski kini sudah disetrika dalam lipatan berbeda.

Maka, memahami Aceh hari ini tidak cukup dengan memahami pusat kekuasaan atau jalan dagang semata. 

Kita harus mendengar gema yang lebih tua. 

Gema kata-kata dasar yang masih bergema dari kampung ke kampung, dari dataran tinggi ke pesisir, dari lembah Alas, Burni Telong, Peureulak, Teunom, Bakongan, Gosong Talaga, hingga Lhoknga  Aceh Besar. 

Di sanalah akar sesungguhnya dari persaudaraan ini. 

Bukan pada lambang atau panji, tetapi pada kata--yang tak pernah lupa pada asalnya.

 

*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.

Artikel dalam rubrik Pojok Humam Hamid ini menjadi tanggung jawab penulis.

 

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved