Pojok Humam Hamid
MSAKA21: Aceh, Gayo, Alas - Akar Bahasa dan “Kain Palekat Satu Kodi”
Hubungan antara masyarakat Aceh, Gayo, dan Alas kerap dipahami dalam kerangka geografis semata. Satu di pesisir, dua di pedalaman.
Ini bukan sekadar angka linguistik.
Ini adalah jejak migrasi manusia.
Gayo dan Alas, yang mendiami dataran tinggi Bukit Barisan, memiliki hubungan linguistik yang paling erat.
Kesamaan ini mengindikasikan bahwa keduanya berasal dari lapisan migrasi yang sama--yakni kelompok berbahasa Austroasiatik atau disebut pula sebagai Proto‑Melayu Tua--yang lebih awal masuk ke wilayah pedalaman Sumatra sebelum gelombang Austronesia dari laut datang membawa bahasa dan kebudayaan baru ke pesisir.
Baca juga: Keresahan dari Putri Betung Gayo Lues, Lima Desa Diklaim Masuk Kawasan Konservasi TNGL
Tak menghapus yang lebih tua
Sementara itu, hubungan antara Aceh pesisir dan dua kelompok pedalaman memperlihatkan persentase kemiripan yang sedikit lebih rendah.
Ini mengisyaratkan bahwa meskipun berasal dari cabang migrasi yang berbeda, hubungan antara mereka tidak pernah benar-benar terputus.
Interaksi berabad-abad, perdagangan, pernikahan antarwilayah, dan dinamika politik dari masa ke masa membentuk jaringan pertukaran dan pengaruh timbal balik yang membekas di dalam bahasa.
Bahasa Aceh pesisir, yang banyak dipengaruhi oleh lapisan Austronesia maritim, tidak menghapus sepenuhnya jejak yang lebih tua, melainkan menenun lapisan baru di atas yang lama--seperti menambahkan helai warna pada selembar kain tua yang diwariskan.
Realitas ini adalah hubungan yang luar biasa, bahkan hubungan bahasa Madura dan bahasa Jawa sekalipun yang dianggap banyak orang sangat dekat, ternyata terlalu jauh.
Justeru Madura secara bahasa lebih dekat ke Sulawesi dan Kalimantan.
Dalam keseharian, bahasa bukan sekadar alat tukar informasi, melainkan jembatan rasa dan warisan tak kasatmata yang menyeberangkan makna dari satu generasi ke generasi lain.
Seorang ibu di dataran tinggi yang memanggil anaknya, atau seorang petani di pesisir yang menyebut hujan yang datang, tengah menghidupkan kata-kata tua yang telah lama mendiami tanah ini.
Di dapur, di ladang, di tepi danau atau muara sungai, kata-kata dasar seperti untuk menyebut tubuh, langit, hujan, dan api mengalir dari bibir ke telinga dengan bunyi yang sedikit berbeda, tapi gema maknanya tetap serupa.
Kata-kata ini ibarat fosil hidup--rekaman masa silam yang terus hadir dalam suara hari ini, seperti batu-batu di dasar sungai yang tetap dingin meski disinari matahari.
Baca juga: MSAKA21: Loyang Mandale dan Manusia Pertama Aceh – Bagian III
Tak sekadar menamai dunia
Dalam doa, pantun, dan teguran ratusan dan ribuan tahun, bahasa memperlihatkan bagaimana manusia Gayo, Aceh, dan Alas tidak sekadar menamai dunia, melainkan juga membentuk dan menghidupinya bersama-sama.
| 821 Tahun Banda Aceh: Mau ke Mana Kota Kita? |
|
|---|
| Irwandi, Mualem, dan “Peunutoh”: “JKA Bandum” vs “JKA Kudok” - Akankah Lahir Paradoks Kebijakan? |
|
|---|
| MDCP Prabowo dan Trump: Kenapa Kita Harus Tahu? |
|
|---|
| Makar atau Tak Nyaman? Membaca Mujani, Amsari, Fahri Hamzah, dan Mahfud MD |
|
|---|
| Iran dan Gencatan Senjata: “Lamuek” Hormuz, Nuklir, dan Adi Kuasa Timur Tengah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/foto-ahmad-humam-hamid-terbaru-2023.jpg)