Jumat, 10 April 2026

KUPI BEUNGOH

Merdeka yang Tertunda: Dari Proklamasi ke Penjajahan Nafsu dan HIV/AIDS

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.”

Editor: Faisal Zamzami
Istimewa
Prof.Dr.dr. Rajuddin, SpOG(K).,Subsp.FER, Guru Besar Universitas Syiah Kuala; Ketua IKA UNDIP Aceh dan Sekretaris ICMI Orwil Aceh 

Oleh: Prof.Dr.dr. Rajuddin, SpOG(K).,Subsp.FER *)

Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia larut dalam gegap gempita perayaan kemerdekaan.

Di setiap sudut negeri, bendera merah putih berkibar dengan gagah, lagu kebangsaan menggema di udara, dan pidato kenegaraan diperdengarkan dari ibu kota hingga pelosok desa.

Jalan-jalan dipenuhi rakyat yang antusias mengikuti lomba dan pawai, seakan seluruh ruang dan waktu disatukan dalam euforia kebanggaan nasional.

Namun, di balik keriuhan itu, ada ruang sunyi yang sering kita lupakan yaitu Penjajahan bisa berganti rupa, hadir dalam wajah baru yang lebih halus dan samar menyelinap lewat dominasi ekonomi yang membuat bangsa kian bergantung pada pasar global, melalui aturan-aturan dunia yang mengekang kedaulatan, serta lewat budaya konsumtif yang pelan-pelan membius kesadaran rakyat hingga lupa pada jati diri.

Al-Qur’an sendiri telah mengingatkan agar manusia tidak tertipu dengan kebebasan semu. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26).

Ayat ini memberi isyarat bahwa penjajahan yang paling berbahaya bukanlah rantai besi, melainkan ketika hati manusia diperbudak oleh nafsu dan dunia.

Rasulullah SAW pun mengingatkan dalam sabdanya: “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba kain sutra; jika diberi ia ridha, jika tidak diberi ia marah.” (HR. Bukhari).

Hadis ini seakan menegaskan bahwa merdeka sejati bukan hanya soal tegaknya kedaulatan politik atau berdirinya sebuah negara, melainkan kebebasan jiwa dari keterikatan kepada selain Allah. Selama hati masih tunduk pada kuasa dunia, sesungguhnya kita belum benar-benar Merdeka 
 
Merdeka Fisik, tetapi Terjajah Mental.

Kolonialisme modern tidak datang lagi dengan meriam dan bedil. Ia hadir melalui pasar global, politik hutang, hingga algoritma media sosial yang membentuk kesadaran palsu. Rakyat sibuk mengejar dunia, tenggelam dalam kompetisi semu, sementara jiwa mereka tidak kunjung bebas.

Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (QS. Hud: 113).

Ayat ini menegaskan bahwa kemerdekaan sejati bukan sekadar bebas dari penjajahan asing, tetapi juga bebas dari tunduk kepada kezaliman, baik berupa tirani kekuasaan maupun perbudakan hawa nafsu.

Manusia dipacu untuk mengejar dunia tanpa henti, sibuk dalam kompetisi semu yang sering kali hanya melahirkan lelah dan kehampaan.

Dalam riuhnya perburuan materi, jiwa mereka justru semakin jauh dari kebebasan hakiki.

Allah telah memperingatkan dalam firman-Nya: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (QS. Hud: 113).

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved