Jurnalisme Warga
Serunya Acara Forum Taaruf dan Silaturahmi Siswa Baitul Arqam
Nasihat Imam Syafi’i, “Barang siapa yang tidak tahan dengan lelahnya belajar, maka ia akan menanggung pedihnya kebodohan di masa depan.”
SYARIFAH ZAHIDAH NADIVA, siswi kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Baitul Arqam, melaporkan dari Sibreh, Aceh Besar
AWAL semester ganjil tahun ajaran ini dimulai apda medio Juli lalu. Bagi saya dan teman seangkatan, ini merupakan tahun kedua menjalani pembelajaran di Dayah Pesantren Baitul Arqam, Sibreh, Aceh Besar. Jadi, kami kembali ke dayah seminggu lebih cepat dibandingkan santri baru.
Perasaan saya ketika awal kembali ke pesantren ada beratnya juga karena liburan dan berkumpul dengan keluarga memang terasa lebih nyaman. Namun, saya teringat pesan ustaz di pesantren yang menukil sebuah nasihat dari Imam Syafi’i, “Barang siapa yang tidak tahan dengan lelahnya belajar, maka ia akan menanggung pedihnya kebodohan di masa depan.”
Akhirnya, dengan tekad yang dibulatkan, saya kembali ke asrama tepat waktu. Saya bahkan sempat kembali sehari sebelumnya karena salah melihat tanggal dan hari kembali ke pesantren. Jika mengingat hal itu rasanya agak sedikit malu, tapi saat saya ceritakan kembali terasa lucu saja.
Beberapa hari setelah santri lama kembali, kemudian masuklah santri baru. Sebagai tanda dimulainya tahun ajaran baru, Pesantren Baitul Arqam menyelenggarakan forum taaruf (perkemalan) dan orientasi siswa atau yang kami sebut dengan Fortasi. Acara ini dilaksanakan di musala dan aula Pesantren Baitul Arqam. Tepat pada tanggal 14 Juli 2025, Fortasi dimulai selama sehari penuh. Sekitar 56 santri mengikuti acara ini. Fortasi ini dilakukan agar para santri dapat mengetahui dan mengenal lingkungan sekitar pesantren maupun peraturan yang telah ditentukan oleh Pimpinan Pesantren Baitul Arqam.
Agenda pertama adalah pembukaan yang dibawakan oleh kakak kelas kami, Irma Tursina. Di pesantren kami, kakak kelas pengurus organisasi sekolah disebut dengan Kakak IPM. Kepanjangan dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Kepengurusan IPM diisi oleh kakak kelas XII dan sebagian kelas XI. Saya sendiri saat ini duduk di kelas VIII madrasah tsanawiah. Pendidikan di pesantren kami dimulai dari tingkat sekolah menengah pertama.
Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh Ahmad As-Suhaili Paya memulai pembukaan acara Fortasi Tahun 2025. Kemudian, Ustaz Naufal Hidayat Lc, ME selaku Wakil Mudir Bidang Pendidikan memberikan kata sambutan.
Dalam sambutannya, Ustaz Naufal menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh santri baru dan memberikan selamat karena sudah bergabung menjadi bagian dari Pesantren Baitul Arqam. “Ketika memilih mondok di sebuah pesantren, itu pertanda awal yang baik karena Allah menggerakkan hati dan memberikan hidayah untuk kalian, maka hal tersebut perlu disyukuri dengan cara bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu,” kata Ustaz Naufal.
Agenda berikutnya pada pukul 08.30–09.30 WIB adalah taaruf. Para santri memperkenalkan diri: nama, tempat tinggal, sekolah, kelas, motivasi, dan alasan masuk ke Pesantren Baitul Arqam. Sesi ini yang dipandu oleh dua kakak kelas kami putra dan putri: Cut Devina Asri dan Maula Hani Panuris.
Kepada para santri juga disajikan materi Disiplin Positif. Termasuk apa pengertian disiplin dan bagaimana menempatkan diri sebagai seorang santri. Para santri juga dibekali manajemen diri dan apa dampak yang dirasakan ketika mampu melatih diri menjadi disiplin.
Ustaz berkata, menjadi orang yang berdisiplin memang tidak tiba-tiba, tetapi siapa pun yang mau pasti bisa melatih diri. Terutama bagaimana cara kita menggunakan waktu sebaik-baiknya dan menentukan prioritas.
Selain pesantren, di Baitul Arqam ada juga lembaga madrasah. Ini bisa dikatakan seperti sekolah pada umumnya setingkat SMP dan SMA. Pengenalan madrasah ini diisi oleh Ibu Radiana SAg yang saat ini menjabat Kepala Madrasah Tsanawiyah Baitul Arqam. Bu Radiana memberikan gambaran singkat tentang kegiatan madrasah yang diadakan setiap mulai pukul 08.00 hingga pukul 14.00 WIB. Kemudian setelah itu biasanya akan dilanjutkan dengan aktivitas pesantren.
Ada satu sesi yang memberikan penjelasan mengenai mata pelajaran pesantren atau dayah. Misalnya, pelajaran ‘bulughul maram’, ‘insya imla’, dan jurnalistik. Dalam sesi ini juga disampaikan materi mengenai Penguatan Literasi oleh mentor menulis yang biasa kami sapa Bunda Syarifah Aini. Beliau juga aktif sebagai pegiat literasi. Mengnai ‘bulughul maram’ disampaikan Ustaz Zahrul Fuad SPd.
Dalam Fortasi, disampaikan pula mengenai Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Apa yang dimaksud dengan organisasi dan pengertian kader hingga sejarah terbentuknya organisasi pelajar ini. Sesi ini dibawakan oleh Ketua Pimpinan Daerah Aceh Besar, yaitu Kak Nabila Al-Fathya.
Momen yang paling seru adalah saat santri diajak tur keliling untuk mengenal lingkungan asrama dan kelas, termasuk zona putra dan putri yang rutenya dipisah. Ada dapur umum, perpustakaan, aula, dan musala. Sebenarnya ada peternakan kambing di belakang kantor madrasah, tetapi saat itu waktunya sudah habis, para panitia langsung mengarahkan ke aktivitas berikutnya. Tur ini didampingi oleh Muhammad Aqil Fadhli dan Cut Devina Asri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/SYARIFAH-ZAHIDAH-NADIVA.jpg)