Jumat, 5 Juni 2026

Pojok Budaya

Buloh Peurindu: Senandung Terakhir dari Geulanggang Labu

Samidan tidak tahu kenapa matanya terasa panas setiap mengingat semua itu. Mungkin karena ia sadar:  yang sedang hilang bukan hanya orang-orangnya.

Tayang:
Editor: Subur Dani
SERAMBINEWS.COM/AI
Ilustrasi panggung Buloh Peurindo hasil generate AI 

Mereka lalu berjalan kaki ramai-ramai menuju lapangan kampung. Kadang sampai dua atau tiga kilometer. Tetapi tak seorang pun merasa jauh. 

Saat itu kelompok sandiwara yang diundang adalah Theater Sinar Jeumpa. Sudah seminggu penuh orang-orang membicarakannya.

“Katanya malam ini main cerita Buloh Peurindu.”
“Betul. Yang jadi si Hamid itu adalah Ibnu Arhas.”
“Kalau dia yang main, nanti penonton akan penuh lapangan.”

Nama itu memang sedang terkenal waktu itu. Bahkan gadis-gadis kampung sering berpura-pura membeli kacang rebus dekat panggung hanya untuk melihatnya dari dekat.

“Ganteng kali si Ibnu Arhas itu.”
“Kalau dia senyum, habis sudah.”

Orang-orang tertawa mendengar bisik-bisik seperti itu. Samidan sendiri belum terlalu mengerti soal ketampanan. Yang ia tahu, kalau Ibnu Arhas muncul di panggung, seluruh geulanggang selalu berubah ribut.

Baca juga: Jamaah Haji Asal Aceh Santap Kari Kambing ‘Boh Labu’ Khas Pidie di Rumah Diaspora Aceh di Mekkah

Malam itu lapangan benar-benar penuh. Lampu petromaks bergantung di tiang-tiang kayu. Pedagang mie goreng sibuk mengipas bara. Aroma sate matang bercampur dengan asap rokok dan tanah lapang yang masih lembab setelah hujan sore.

Di dekat pintu masuk, panitia sibuk merobek karcis. Anak-anak kecil menyelinap di sela kaki orang dewasa agar bisa duduk paling depan tanpa membayar.

Dan ketika suara rapa’i mulai ditabuh dari belakang panggung, seluruh geulanggang perlahan menjadi sunyi. Samidan masih mengingat malam itu sangat jelas. Sejelas cahaya petromaks yang memantul di wajah-wajah penonton.

Tirai kain dibuka perlahan. Hamid muncul membawa tali kerbau. Baju lusuh. Celana longgar. Wajahnya lugu. Tetapi sorot matanya membuat seluruh geulanggang diam. Ia hanya pemuda miskin, penggembala kerbau yang tinggal bersama ibunya. Sedangkan Haseunah adalah putri Teungku Rayek, orang terkaya di kampung.

“Ayolah Mak ke rumah Teungku Rayek, meminang Haseunah untukku,” rengek Hamid pada ibunya.

Kalimat itu langsung disambut suara ribut penonton. Ada yang tertawa. Ada yang bersiul panjang. Karena semua orang tahu: mana mungkin anak miskin seperti Hamid berani bermimpi meminang gadis primadona, anak orang kaya.

Tetapi Hamid tetap bersikeras. Dan ibunya akhirnya datang juga ke rumah Teungku Rayek meskipun harus menahan malu.

Baca juga: 25 Siswa SMAN 7 Banda Aceh Lulus PTN Melalui Jalur Talenta

Adegan itu yang paling diingat Samidan sampai sekarang. Suara perempuan yang memerankan ibu Hamid malam itu begitu menyayat.

“Kami memang miskin, Teungku… tapi anak saya sungguh mencintai Haseunah.”

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved