Pojok Budaya
Buloh Peurindu: Senandung Terakhir dari Geulanggang Labu
Samidan tidak tahu kenapa matanya terasa panas setiap mengingat semua itu. Mungkin karena ia sadar: yang sedang hilang bukan hanya orang-orangnya.
Ditulis oleh Muhammad Yusuf Bombang (Apa Kaoy)
BEDUK I’sya baru saja selesai terdengar ketika Gampong Sadeuep Teumpoi--kampung yang tidak terlalu jauh dari bibir pantai--mulai berubah wajah.
Dari rumoh-rumoh beuet, anak-anak mulai pulang mengaji sambil beberapa di antara mereka memegang suwa. Di jalan, sebagian masih melantunkan ayat terakhir yang baru mereka hafal.
Di bawah rumah panggung, ibu-ibu mulai memanggil nama anak masing-masing agar cepat pulang makan malam sebelum pergi ke lapangan peasan.
Malam itu angin sawah bertiup pelan. Musim panen baru saja selesai beberapa hari sebelumnya. Jerami masih menguning di pematang. Bau padi dan tanah basah bercampur dengan aroma kopi dari dapur rumah-rumah penduduk.
Baca juga: Wariskan Gagasan Jaga Aceh Mulia, Kapolda Luncurkan Buku "Polda Aceh Meutuah"
Dan seperti kebiasaan kampung-kampung di Aceh masa itu, setelah panen usai orang-orang mulai membuat peasan seni.
Bukan pemerintah yang mengadakan. Bukan pula orang kota. Tetapi swadaya masyarakat kampung sendiri.
Beberapa orang dewasa di kampung membentuk panitia kecil. Ada yang bertugas menjual karcis, ada yang mengatur parkir sepeda ontel, sepeda motor dan mobil bak terbuka, ada pula yang mengutip uang lapak dari pedagang yang berjualan di sekitar geulanggang.
Hasil dari itulah nanti dipakai untuk membayar kelompok sandiwara yang dikontrak oleh panitia. Kelompok sandiwara itu biasanya dikontrak untuk bermain di satu lokasi kadang sampai sebulan penuh.
Judul cerita yang mereka bawa bergantian setiap malam. Penontonnya berjubel datang, termasuk dari kampung-kampung daerah sekitar.
Kecuali malam jumat, atau ada musibah orang meninggal di kampung itu, barulah acara diliburkan sementara.
Baca juga: Masuk ke Raudhah Kian Teratur, Jamaah Bisa Lebih Kusyuk
Dan bagi masyarakat kampung, malam peasan bukan sekadar hiburan. Itu seperti pesta rakyat kecil setelah berbulan-bulan bekerja di sawah.
Anak-anak dibelikan kacang rebus, jagung rebus, mie caluek, atau es sirup. Pemuda-pemuda berdiri bergerombol dekat pagar lapangan. Orang-orang tua duduk di atas tikar sambil mengisap rokok daun. Semua orang menunggu malam benar-benar turun. Termasuk Samidan.
Waktu itu usianya baru sekitar 7 atau 8 tahun. Tubuhnya kurus, kulitnya hitam terbakar matahari sawah, tetapi matanya selalu hidup kalau mendengar kabar ada peasan sandiwara geulanggang labu.
“Ayo cepat, nanti penuh di depan,” teriaknya pada teman-temannya setiap kali selesai makan malam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Cerpen-Buloh-Peurindu.jpg)