Kamis, 7 Mei 2026

Citizen Reporter

Aceh, Kisahku: Dari Luka ke Pengabdian

Inilah kesaksian seorang ibu, penyintas, sekaligus relawan—tentang Aceh yang terluka, namun tak pernah kehilangan harapan.

Tayang:
Editor: Amirullah
Istimewa
Asnidar, Relawan dari Persatuan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Bekasi 

Di Lanud, aku bertemu Kak Ana, istri Gubernur Aceh. Ini sosok yang sudah sejak awal terus bergerak di daerah bencana, bahkan sebelum diumumkan status darurat provinsi. 

Tiba-tiba hatiku kuat tidak merasa sendiri. Rupanya perempuan Aceh memang tangguh, bahkan sudah sejak dahulu kala.’

Beliau berkata, “Kalau mau bawa tim dari Jakarta, jangan ke daerah yang sudah dapat bantuan seperti Pidie Jaya. Lebih baik ke Aceh Utara, Lhoksukon, atau Langkahan.” Aku menjawab mantap, “Lon dumpat jeut, Kak Ana.” 

Baca juga: Soal Batas Usia Pengangkatan Perangkat Gampong, Wabup Syukri: Banyak Berpengalaman Terbentur Aturan

9 Desember – Perjalanan Udara ke Rembele

Pagi itu aku diminta datang jam 7 pagi. Tapi, tetap saja dengan tidak ada kepastian pesawat, hanya pesan: tunggu saja, bisa naik Cessna atau Hercules. 

Alhamdulillah, aku dapat pesawat pertama, Cessna, berangkat jam 8 lewat. 

Perjalanan 45 menit menembus awan hujan, mendarat di Bandara Rembele, Bener Meriah. 

Sayangnya, sebagian logistik harus ditinggalkan karena kapasitas pesawat terbatas. Aku pasrah, tapi aku harus segera berangkat. 

Logistik yang tinggal akan di bawa ke daerah lain. Tak masalah, toh sudah ada kepastian akan disampaikan kemana akan disistribusikan. 

Hari Pertama di Rembele

Setibanya di Rembele, tim BNPB menyambut dan mengarahkan ke kantor bupati. 

Di sana aku bertemu Sekda Riswandi. Ia menjelaskan bahwa tidak ada pengungsi di tenda karena suhu malam mencapai 16°C. 

Semua diarahkan ke sekolah yang diliburkan atau balai desa. Kami relawan pun ikut menyesuaikan: tidur di RS Muyang Kute Redelong, beralaskan matras seadanya, dengan listrik dan sinyal yang mati hidup.

Di sana, aku berkolaborasi memberi pelayanan kesehatan dan sembako dengan IDI Bener Meriah, Dinkes Bener Meriah, Dokter USK, Dokter Kesdam, dan IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) Aceh. 

Aku bertemu mereka di hari pertama sampa.Setelah makan siang di dapur umum, kami bergerak ke Desa Meriah Jaya Pantan Bayur. Dari Bener Meriah naik ambulans, tapi menjelang desa jalan longsor. 

Ambulans tak bisa melanjutkan, kami berganti naik motor menembus jalur sempit dan licin. Perjalanan itu membuatku sadar: tidak ada jalan yang terlalu sulit jika tujuannya adalah kemanusiaan.

Sungguh aku sangat berterima kasih kepada mereka semua. Karena bersama mereka kehadiranku tidak sia-sia. “Semoga segenap ikhtiar, tenaga dan kebaikan mendapat balasan terbaik dari Allah SWT,” bisik hatiku. 

Hari Kedua – Kantor Bupati Jadi Rumah Bersama

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved