Kamis, 7 Mei 2026

Citizen Reporter

Aceh, Kisahku: Dari Luka ke Pengabdian

Inilah kesaksian seorang ibu, penyintas, sekaligus relawan—tentang Aceh yang terluka, namun tak pernah kehilangan harapan.

Tayang:
Editor: Amirullah
Istimewa
Asnidar, Relawan dari Persatuan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Bekasi 

Aku menyaksikan sesuatu yang membuatku terharu. Pak Bupati Tagore membiarkan warga lalu lalang di kantor bupati tanpa sekat. Siapa saja boleh masuk, siang maupun malam. Ada yang datang untuk ngecas HP, ada yang sekadar numpang wifi, ada yang mencari tempat aman untuk beristirahat.

Semua bebas, asalkan tetap menjaga kesopanan. Aku baru kali ini melihat kantor bupati sebebas itu: keluar masuk siapa saja boleh, tanpa protokol yang kaku. Di halaman belakang, dapur umum terus menyala, menyediakan makanan sederhana untuk siapa pun yang membutuhkan.

Baca juga: Fakta di Balik Isu Aceh Minta Bantuan PBB: Bantahan Mualem hingga Sikap Berseberangan DPR

Solidaritas di Dapur Umum

Di dapur umum, aku makan bersama warga, relawan, aparat, dan pejabat. Tidak ada sekat, semua setara.

Ada satu cerita haru yang tak mungkin pernah kulupakan. Dek Fatih, seorang anak kecil di posko Bale Redelong, telat bangun pagi dan datang ke dapur umum untuk makan. 

Ia tidak bertanya apakah ada telur atau lauk lain. Ia hanya mengambil apa yang tersaji di depannya, tanpa mengeluh meski setiap hari menunya hanya mie dan nasi. 

Sikapnya membuatku terdiam: di tengah keterbatasan, anak sekecil itu sudah mengajarkan arti menerima keadaan dengan lapang hati.

13–16 Desember – Menjangkau Desa Terpencil

Awalnya aku kabarkan ke teman di Banda Aceh bahwa aku mungkin akan ke Samar Kilang. Pasalnya, Samar Kilang dikabarkan masih terisolir. 

Namun, akses ke sana hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki, dan itu berarti kami tidak bisa membawa apa pun untuk warga. 

Membayangkan berjalan berjam-jam tanpa logistik membuatku sadar: niat baik saja tidak cukup—bantuan harus benar-benar sampai.

Akhirnya, pada 13 Desember, tim kami diarahkan ke Desa Jamur Atu dan Mesidah. Sampai hari itu, hanya tim kami yang berhasil masuk ke desa tersebut. Warga menyambut dengan penuh harapan, karena mereka benar-benar terisolir sejak bencana.

Namun, bantuan besar berupa 1 ton logistik via helikopter baru bisa dilaksanakan pada 16 Desember. Jadi selama beberapa hari, kehadiran kami menjadi satu-satunya jembatan antara desa dan dunia luar.

14 Desember – Ingatan Tsunami yang Kembali

Tanggal 14 Desember, aku mendapat kiriman video dari Ketua IDI Bener Meriah. Video itu menampilkan seorang ibu yang menggendong anaknya dengan ekspresi datar, seolah pasrah di tengah bencana.

Melihat video itu, aku langsung teringat hari kedua tsunami 2004. Saat itu aku berjalan tanpa alas kaki, masih memakai baju tidur seadanya, sambil menggendong anakku, Aca, di Simpang Lambaro. 

Aku teringat lagi kisah mencari keluarga: ayah dan adikku. Satu per satu koran dan terpal yang menutupi mayat kubuka, berharap menemukan wajah yang kukenal. Tapi tidak ada, karena mayat-mayat itu sudah bengkak. Aca terus menangis di pelukanku.

Aku kemudian menumpang mobil orang, turun di dekat jembatan Beurawe. Kenangan itu begitu menyayat, dan kini, melihat video ibu yang menggendong anaknya dengan wajah pasrah, aku merasa kembali ke posisi itu. 

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved