Jurnalisme Warga
Kenduri di Makam Putroe Sani, Dari Kejayaan Sultan Iskandar Muda ke Sunyi Makam Permaisuri
banyak anak muda di Reubee tak lagi tahu bahwa kampungnya pernah menjadi daerah berstatus istimewa pada masa lalu.
Jafar Insya Reubee dan Hasan Basri M. Nur Melaporkan dari Reubee, Pidie
SETIAP Idul Fitri, di Desa Reuntoh, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie, masyarakat berkumpul di sekitar makam Putroe Sani--permaisuri Sultan Iskandar Muda--untuk menggelar kenduri.
Tradisi ini telah diwariskan turun-temurun, menjadi cara masyarakat menjaga ingatan terhadap sosok Sang Permaisuri yang berperan penting dalam sejarah Kesultanan Aceh Darussalam.
Namun, beberapa tahun terakhir tradisi itu sempat meredup.
Generasi muda mulai lupa siapa Putroe Sani, dan makamnya nyaris tak terurus.
Bahkan, banyak anak muda di Reubee tak lagi tahu bahwa kampungnya pernah menjadi daerah berstatus istimewa pada masa Kesultanan Aceh Darussalam.
Di tengah kondisi itu, muncul sosok Ramadhan Bin Haji Ibrahim, atau akrab disapa Rama, seorang pengusaha muda desa yang peduli pada warisan leluhur.
Dengan dana pribadi, Rama kembali menghidupkan kenduri di makam Putroe Sani.
Rama menyisihkan sebagian keuntungan dari usaha kerupuk kulit dan ternak lembu untuk membiayai kenduri.
Ia memotong kambing, bahkan lembu, lalu mengajak masyarakat sekitar berdoa bersama.
Doa dipanjatkan untuk Teungku Chik di Reubee, Sultan Iskandar Muda, Putroe Sani, serta kemaslahatan Aceh secara umum.
Bagi Rama, kenduri bukan sekadar ritual, melainkan ikhtiar agar sejarah tetap hidup dalam ingatan masyarakat.
Kamis, 2 April 2026, menjadi momentum kesekian kalinya Rama menggelar kenduri di bekas istana Putroe Sani.
Ia berharap tradisi ini tidak hanya bertahan, tetapi juga mendapat dukungan pemerintah.
Baca juga: Viral Mobil di Australia Bernopol PIDIE, Pemiliknya Ternyata Warga Aceh Asal Reubee, Ini Sosoknya
Baca juga: Dari Malaysia ke Pidie: Jafar Insya Tak Lupakan Kampung Halaman, Krueng Reubee yang Sarat Sejarah
Sultan Dibanggakan, Permaisuri Dilupakan
Semua orang Aceh, terutama pejabat dan politisi, selalu menyebut dan membanggakan Kesultanan Aceh Darussalam (1496-1948 M), khususnya era kepemimpinan Sultan Iskandar Muda Perkasa Alam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Hasan-Basri-dan-Jafar-Insya-Reubee.jpg)