Salam
Poros Baru Harus Kita Dorong
Tetapi, terlepas dari segala kepentingan politik tersebut, wacana lahirnya poros baru dalam Pilkada Aceh memang perlu kita dorong dan dukung bersama.
Harian Serambi Indonesia edisi Selasa (28/5/2024) men-jadikan isu tentang sinyal lahirnya poros baru di Pilkada Aceh 2024 menjadi berita utama. Sinyal tersebut mencuat saat Ke-tua DPD I Partai Golkar Aceh, Teuku Muhammad Nurlif, Senin (27/5/2024), mendaftar ke Partai Gerindra Aceh sebagai bakal calon gubernur Aceh.
TM Nurlif yang ditanyai Serambi terkait peluang lahirnya po-ros baru ini tidak menjawab secara gamblang. Namun ia meng-isyaratakan bahwa peluang terbentuknya poros baru bisa saja terjadi, mengingat waktu yang yang tersisa untuk pendaftaran calon kepala daerah masih relatif panjang.
"Masih cukup waktu, pendaftaran bulan Agustus nantikan," kata Nurlif sambil tersenyum dan kemudian disambut tawa pengurus kedua partai. "Tadi sudah kita dengar, Gerindra dan Golkar punya frekuen-si berpikir yang sama. Saya kira partai lain juga sama," sam-bung Nurlif lagi.
Saat ini, Nurlif menjadi satu-satunya ketua partai politik yang mendaftar sebagai bacagub ke Gerindra. Padahal kita ketahui bersama, Nurlif sebelumnya telah mendaftar ke Partai Aceh se-bagai bakal calon wakil gubernur (balongub) mendampingi Mu-zakir Manaf atau Mualem yang diusung Partai Aceh.
Di sini, kita bisa melihat, Nurlif atau Golkar sepertinya me-mang tidak mau berharap banyak akan dipilih oleh Mualem sebagai wakilnya. Apalagi Mualem sebelumnya juga sudah menyampaikan ke publik bahwa calon wakil yang akan men-dampinginya tergantung pada keputusan Wali Nanggroe Aceh.
Sekarang keputusan tergantung kepada Gerindra, apakah te-tap mendukung Mualem atau menarik diri, memajukan calon sendiri berkoalisi dengan Golkar. Ketua Tim Penjaringan Bakal Calon Kepala Daerah Partai Ge-rindra Aceh, Nasrul Sufi mengatakan, pihaknya akan mengirim berkas pendaftaran TM Nurlif ke DPP Gerindra untuk diputuskan apakah mendukung pencalonan TM Nurlif atau orang lain.
“Apakah DPP akan memberi dukungan kepada Pak Nurlif, itu kita tidak tahu. Yang pasti kita akan bawa dokumen pendaftar-annya ke DPP. Apakah ke Nurlif, apakah Dek Fadh (Fadhlullah), atau yang lain, kita belum tahu,” kata Nasrul.
Ia juga tidak bisa memastikan apakah Gerindra akan berko-alisi dengan Golkar dalam Pilkada nanti, karena itu merupa-kan ranahnya DPP. “Itu belum bisa kita pastikan, karena itu wi-layah DPP. Arah dan kiblat kita tetap menunggu perintah DPP,” tegasnya.
Untuk diketahui, hasil pemilu 2024, Golkar Aceh berhasil mengamankan sembilan kursi di DPRA, sedangkan Gerindra ha-nya meraih enam kursi DPRA, sehingga total kursi kedua partai ini berjumlah 15 kursi. Jumlah tersebut sudah memenuhi syarat untuk mendaftarkan calon kepala daerah, yang ditetapkan se-banyak 12 kursi.
Tetapi, terlepas dari segala kepentingan politik tersebut, wacana lahirnya poros baru dalam Pilkada Aceh memang perlu kita dorong dan dukung bersama. Dan kalau perlu, bisa lahir poros baru lainnya, yang diharapkan bisa muncul dari partai-par-tai lain, terutama NasDem, sehingga nanti paling tidak bisa la-hir tiga pasangan calon gubernur dalam Pilkada Aceh.
Partai Aceh juga sejatinya juga tidak ingin menjadi pemain tunggal melawan kotak kosong. Karena itu bukan sesuatu hal yang layak dibanggakan dalam sebuah pertarungan politik. Me-nang saja dari kotak kosong merupakan sebuah hal memalu-kan, apalagi kalau kalah, tentu akan lebih memalukan lagi.
Disamping itu, lahirnya poros baru juga akan semakin mem-buat Pilkada Aceh menjadi lebih semarak dan berkualitas. Ma-syarakat tidak hanya akan disuguhi banyak pilihan, tetapi juga bebas menentukan pilihannya berdasarkan kriteria penilaiannya masing-masing.
POJOK
Uang narkoba diduga digunakan untuk pileg
Ah, sudah jadi rahasia umum itu Pak
Mualem temui Ketum PAN Zulkifl i Hasan
Hehehe.. dengan Prabowo apakah sudah ketemu?
Konsumsi Pertalite capai 10 juta KL
Ya, semoga tidak jadi alasan pengurangan kuota
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Masjid-Raya-b.jpg)