Kamis, 4 Juni 2026

Jurnalime Warga

Banjir Aceh-Sumatra, Salah Siapa?

Kita mulai dengan sebuah kejujuran yang pahit. Banjir Aceh-Sumatra, salah siapa? Atau, pantaskah kita mencari-cari siapa yang yang sebenarnya bersalah

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
ICHSAN, M.Sn., Dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, melaporkan dari Aceh Besar. 

Ia sendiri terjebak di kawasan Ise-Ise saat hendak ke Banda Aceh. Kendaraan terpaksa ditinggalkan. Ia berjalan kaki menyusuri jalan yang tidak lagi bisa disebut jalan selama beberapa hari. Sesekali menumpang sepeda motor yang kebetulan melintas. Makan pun hanya nasi dan sayur rebus di tepian jalan raya beralas aspal. Namun, ia tidak mengeluh.

“Kita syukuri, kita nikmati saja. Belum tentu orang lain bisa seperti kita hari ini,” katanya.

Ucapan itu menusuk. Sederhana, tapi menjadi cermin bagi kita yang terlalu mudah mengutuk dan terlalu cepat mencari kambing hitam. Ada orang-orang yang berjuang mempertahankan nyawa, sementara kita sibuk mempertahankan ego.

Yang lebih ironis, bencana kali ini bukan hanya memutus jalan, tapi juga memutus listrik internet, dan jaringan selular. Ketika saling menyalahkan pun terhambat oleh sinyal yang putus, barulah kita bisa melihat jeda. Namun, jeda itu tidak bertahan lama. Begitu jaringan kembali, amarah kembali mengalir lebih deras dari banjirnya sendiri. Saya bingung. Inikah karakter bangsa kita sekarang? Bangsa yang saling menyalahkan? Sejak kapan budaya kita adalah budaya menghardik dan merendahkan saat saudara sendiri sedang tenggelam.

Di saat bahan pokok dan BBM mulai langka, harga melonjak di luar nalar, warga kembali saling menyalahkan. Yang menjual dianggap memanfaatkan bencana. Yang membeli merasa dihina dan diperas. Ada yang berdalih mencari sedikit keuntungan untuk meneruskan hidupnya. Ada yang membalas dengan makian bahwa itu batil, tidak beretika, dan menunggangi musibah. Entahlah. Yang jelas, inilah kenyataan kita hari ini. Solidaritas seakan terkikis oleh prasangka.

Namun, di tengah kekacauan itu, mari kita berhenti sejenak. Mari mencoba kembali menggunakan apa yang disebut psikolog sosial Kurt Lewin sebagai teori medan (field theory) yang menyatakan bahwa perilaku manusia cenderung ditentukan oleh interaksi antara kondisi internal dan lingkungan. Ketika lingkungan dipenuhi kecemasan, ketakutan, dan ketidakpastian, perilaku kolektif pun mudah berubah menjadi agresif, saling menyalahkan, dan tidak stabil. Artinya, bukan orangnya yang salah semata, tetapi medan psikologis kita sebagai masyarakat sedang rusak oleh tekanan bencana.

Akan tetapi, teori sama sekali bukan alasan untuk membiarkan kemarahan merusak empati. Karena pada saat yang sama, kita punya teori lain yang jauh lebih sehat untuk dijadikan pegangan, yakni teori “Respons Fokus Solusi” (Solution-Focused Response).

Pendekatan ini menolak habis-habisan budaya menyalahkan. Ia mengajarkan bahwa dalam keadaan darurat, fokus kita seharusnya pada apa yang bisa dilakukan, bukan siapa yang harus dihukum terlebih dahulu. Ini pendekatan yang dipakai dalam manajemen bencana modern di berbagai negara.

Oleh karena itu, mari sejenak, saat banjir menggenangi rumah, apakah menyalahkan pemerintah membuat air surut. Saat warga terjebak tanpa makanan, apakah menyalahkan anggota dewan membuat nasi muncul di meja. Saat jalan putus, apakah menyalahkan satu sama lain membuat jembatan tumbuh keesokan harinya.

Jawabannya jelas, tidak!

Yang membuat peradaban bertahan adalah tindakan, bukan umpatan. Bencana kali ini seharusnya menjadi hikmah. Kita yang masih hidup masih diberi kesempatan untuk belajar. Hidup bukan sekadar untuk saling menyalahkan. Hidup menuntut kita bekerja sama, bukan memecah belah. Hidup meminta kita saling menguatkan, bukan saling mematahkan.

Aceh punya pepatah, “Seunang bak matee, susah bak uroe hidup” yang berrati kebahagiaan itu untuk yang mati, penderitaan untuk yang hidup. Artinya, selama kita masih diberi napas, kita harus kuat menghadapi kenyataan, bukan menghindarinya dengan saling tuding.

Di momen ini, kita perlu mengingat satu pesan yang sering disampaikan Mualem, Gubernur Aceh, saat ini. Pesan sederhana, tapi sangat relevan untuk situasi hari ini, “Jangan cengeng.”

Itu bukan ajakan untuk mengabaikan duka. Itu nasihat agar kita tidak tenggelam dalam mentalitas menyalahkan agar kita bangkit, bekerja, menyusun kembali solidaritas sosial yang selama ini terkikis oleh emosi di layar digital. Agar kita kembali menjadi bangsa yang kuat, bukan bangsa yang rapuh oleh komentar.

Solusinya jelas, berhentilah mencari siapa yang salah. Mulailah mencari apa yang bisa kita lakukan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved