Selasa, 28 April 2026

Jurnalime Warga

Banjir Aceh-Sumatra, Salah Siapa?

Kita mulai dengan sebuah kejujuran yang pahit. Banjir Aceh-Sumatra, salah siapa? Atau, pantaskah kita mencari-cari siapa yang yang sebenarnya bersalah

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
ICHSAN, M.Sn., Dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, melaporkan dari Aceh Besar. 

Oleh: ICHSAN, M.Sn., Dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, melaporkan dari Aceh Besar

SEJENAK, mari kita menghela napas, merenung, dan merefleksikan sebuah fenomena yang terjadi beberapa hari lalu.

Kita mulai dengan sebuah kejujuran yang pahit. Banjir Aceh-Sumatra, salah siapa? Atau, pantaskah kita mencari-cari siapa yang yang sebenarnya bersalah.

Sebagain masyarakat hari ini seolah hanya punya satu kebutuhan emosional, yakni menemukan pelampiasan. Perlu diketahui bahwa kita sedang mengalami bencana alam yang menghantam rumah, jembatan, dan jalan raya.

Pada waktu yang bersamaan, kita juga serasa sedang mengalami hantaman  kesabaran, kewarasan, dan nalar komunal. Alih-alih bersatu, tampaknya kita sedang sibuk saling mengacungkan telunjuk.

Media sosial, ruang yang seharusnya bisa menjadi tempat koordinasi darurat, berubah menjadi arena adu sorak menyalahkan siapa pun yang dianggap paling mudah diserang.

Pemerintah pusat disalahkan karena dianggap lamban, dingin, dan jauh dari realitas lapangan.

“Kalau tidak bisa urus Aceh, merdekakan saja Aceh ini,” tulis sebagian akun, seolah kemarahan adalah jalan keluar paling strategis di tengah banjir.

Di ruang lainnya, pemerintah daerah juga tidak luput dari tudingan. Tidak becus, tidak kompeten, tidak sigap. Kalimat-kalimat itu berseliweran tanpa henti. Lalu lahirlah solusi instan versi medsos, mundur saja bupati, mundur saja kepala pemerintahan, mundur saja siapa pun yang memang enak dijadikan tumbal.

Ngilu rasanya melihat bangsa yang sedang berduka sibuk membakar rumahnya sendiri.

Anggota dewan juga tak luput dari hantaman. “Dulu waktu butuh suara datang mengemis, sekarang hilang tanpa jejak,” begitu narasi yang ramai diulang-ulang.

Solusi emosional pun bermunculan, “Nanti kalau ada yang datang minta suara lagi, suruh pulang saja.”

Baca juga: Memaknai Tangisan Mualem

Sementara di lapangan, masyarakat tetap terendam, tetap lapar, tetap naik ke bukit-bukit menyelamatkan diri, tetap menatap masa depan dengan mata bengkak penuh kecemasan.

Bencana akhir November yang menghantam Aceh, Sumbar, dan Sumut adalah luka yang jauh lebih dalam dari yang terlihat di layar ponsel. Di balik lumpur ada jerit manusia. Di balik arus sungai ada keluarga yang tercerabut dari kehidupan normal. Dan, di balik kecamuk itu semua, ada kisah-kisah kecil yang membuat kita seharusnya menunduk dan berpikir ulang tentang arti solidaritas.

Kemarin saya menghubungi Kacabdin Aceh Tenggara, Pak Jufri. Dengan suara berat, ia menyebut bencana ini sebagai “tsunami darat.” Bukan istilah hiperbola, melainkan gambaran tentang betapa dahsyatnya kerusakan bentang alam dan infrastruktur.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved