Rabu, 17 Juni 2026

Opini

Pertumbuhan Ekonomi Aceh: Akankah Kembali Mengorbankan Jiwa?

Peringatan Smith itu bergema kuat saat kita menilik sejarah dan masa kini Aceh.

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
hand over dokumen pribadi
Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, peneliti sejarah pemikiran ekonomi-politik dan pengajar di Fakultas Ekonomi & Bisnis USK. 

Kekayaan alam belum menjadi mesinkemakmuran inklusif, mirip dengan Peru yang tidak membangun kemakmuran berkelanjutan.

Kedua Ketimpangan dan Kemiskinan: Tingkat kemiskinan Aceh (15,53 % pada September 2023) masih tertinggi di Sumatera dan jauh di atas rata-rata nasional (9,36 % ). Ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak terdistribusi dengan adil.

Ketiga Krisis Moral dalam Tata Kelola: Smith, dalam The Theory of Moral Sentiments, mengutuk masyarakat yang “mengagumi orang kaya dan berkuasa sementara mengabaikan orang miskin”. 

Kritik ini relevan dengan realitas Aceh. Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Aceh pada 2023 adalah 33 (skala 0-100), menempatkannya di kategori sangat buruk. 

Dana Otsus dan rekonsiliasi pascakonflik sering dikaburkan oleh praktik korupsi, nepotisme, dan kekerasan struktural. Elite politik dan ekonomi baru sering kali mencerminkan moralitas yang dipertanyakan, bertolak belakang dengan nilai adat dan syariat yang menjadi semangat perlawanan dulu.

Menjawab Smith: Membangun Ekonomi dengan Jiwa

Lalu, bagaimana Aceh bisa mengejar pertumbuhan tanpa mengorbankan jiwa? Pemikiran Smith menawarkan tiga prinsip relevan: Pertama, Desentralisasi yang Akuntabel, Bukan Sekadar Otonomi. Smith memuji koloni Inggris di Amerika Utara yang relatif maju karena memberikan “keamanan penuh kepada penduduk” melalui dewan perwakilan.

Otonomi Khusus Aceh harus dimaknai sebagai penguatan institusi lokal yang transparan dan responsif, bukan sekadar bagi-bagi kekuasaan dan anggaran. 

Partisipasi publik melalui musyawarah (sejalan dengan prinsip syura) dalam perencanaan pembangunan harus menjadi norma, mengawal penggunaan dana Otsus dan bagi hasil migas (Rp 31,2 triliun pada 2022) untuk pembangunan manusia dan infrastruktur berkelanjutan.

Kedua, Diversifikasi dari Ekonomi Ekstraktif ke Ekonomi Produktif. Smith menekankan bahwa tanah subur dan sumber daya alam (abundance of land) adalah modal awal. Aceh memiliki potensi besar di pertanian organik (padi, kopi, kakao, pala), perikanan, dan energi terbarukan (air, panas bumi, angin).

Daripada terus bergantung pada migas yang rentan fluktuasi, investasi harus dialihkan untuk membangun kapasitas manusia, riset pertanian, dan industri pengolahan. Ini akan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas dan berkelanjutan, memutus rantai resource curse.

Ketiga, Menempatkan Moralitas di Jantung Pembangunan. Smith mengingatkan bahwa peradaban komersial bisa merusak kebajikan. Aceh memiliki modal sosial dan spiritual yang unik: nilai-nilai adat (kejujuran, gotong royong), etos Islam, dan ketahanan kolektif pascakonflik. Nilai-nilai ini harus dihidupkan kembali sebagai etos kerja dan anti-korupsi dalam birokrasi dan dunia usaha.

Pembangunan tidak boleh diukur dari PDRB semata, tetapi juga dari indeks kebahagiaan, tingkat kepercayaan sosial, dan integritas institusi.

Laboratorium Pembangunan Berjiwa

Adam Smith melihat peradaban sebagai proses ambivalen: membawa kemakmuran material, tetapi sering mengikis solidaritas dan moral. Aceh, dengan sejarahnya yang pahit dan kekayaannya yang beragam, memiliki peluang unik untuk menjadi laboratorium pembangunan yang memadukan pertumbuhan ekonomi dengan pemulihan jiwa.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
France
Prancis
3 - 1
Senegal
Senegal
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 05:00 WIB
Iraq
Irak
Live
Norway
Norwegia
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Argentina
Argentina
VS
Algeria
Aljazair
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:00 WIB
Austria
Austria
VS
Jordan
Yordania
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved