Jurnalime Warga
Meugang Idulfitri di Tengah Bencana
Tradisi meugang biasanya berlangsung selama dua hari, yaitu meugang cet dan meugang rayek (meugang kecil dan besar). Hal ini telah berlangsung sejak
masih buka tutup, maka tak heran berbagai jenis kendaraan melintas melalui jalan ini.
Kendaraan melintas tertib dan saling menghargai, terutama ketika melalui ruas jalan yang sempit dan menanjak, semua harus mengantre. Tidak ada teriakan amarah seperti di jalan pada umumnya walaupun jarak tempuh jauh dan menghabiskan waktu yang lam.
Bencana banjir dan lumpur sedikitnya telah mampu mengubah perilaku pengguna jalan umum ke arah yang lebih baik, sebagaimana yang kami rasakan.
Saya teringat saat meugang Ramadhan lalu, ketika kami melayat teman yang meninggal di Kota Lhokseumawe. Kami melewati beberapa desa yang terdampak banjir. Ada yang sedang membagi-bagikan
daging meugang untuk warganya. Tampak wajah-wajah mereka tersenyum, tetapi menyimpan derita yang tak dapat mereka ucapkan. Musibah banjir bukan hanya menghancurkan rumah
tempat tinggalnya, tetapi juga lahan pertanian, kebun, tambak, dan semua mata pencaharian mereka telah hilang dan rusak. Tentu sulit untuk segera bangkit, karena ketidakmampuan dari segi finansial menjadi faktor utama untuk segera bangkit. Mereka pun memilih tetap di rumahnya, sebagaimana cerita Ibu Safriani, salah satu warga Desa Ujong Blang di Kecamatan Kutablang yang rumahnya tertimbun lumpur. Dia mengaku tak punya dana untuk menyuruh orang membersihkan dan membuang tanah dari dalam rumahnya, sehingga dia memilih membuat tenda di sisi rumahnya dan perlahan membersihkan sendiri dan tidak tahu kapan selesainya.
Sementara itu, di desa yang lain walaupun masih banyak rumah para korban banjir yang
tertimbun lumpur dan belum dibersihkan, mereka tetap melaksanakan meugang di tenda darurat yang mereka buat sendiri, karena rumah masih tertimbun lumpur kering yang sudah mengeras, seperti di Desa Pante Baro. Di sini berdomisili kakak Bu Rahmi, rekan kerja saya di Uniki Bireuen, yang rumah permanennya tertimbun lumpur.
Namun, karena kehidupan ini harus tetap berjalan, dia akhirnya memilih kembali ke rumahnya, tinggal di bagian rumah yang tidak tertimbun lumpur. Pada saat kering, rumah penuh dengan debu dan setiap hari halaman harus disiram, sedangkan pada saat hujan tanah becek dan jadi licin. Itulah hari-hari yang mereka lalui.
Terkadang ada penyintas bencana yang tidak tersentuh oleh bantuan, karena orang menganggap dulunya dia adalah orang yang mampu. Padahal, saat ini mereka sudah terpuruk kondisi ekonominya. Nyaris papa.
Meugang di tengah bencana tahun ini harus mereka lalui dua kali: meugang Ramadhan dan meugang Idulfitri. Dua bulan lagi, jika hunian tetap (huntap) untuk para penyintas bencana itu tidak segera dibangun, kemungkinan sekali mereka akan merasakan meugang ketiga kalinya di tenda atau di huntara.
Tahun ini mereka memasak daging dengan bumbu yang sama, tetapi beda dalam rasa, jika dibandingkan dengan tahun yang lalu. Saat ini mereka pun masih bisa tersenyum, tetapi hati mereka luka dan berduka.
Namun, ada hal yang masih tetap melekat dalam kehidupan masyarakat Aceh, terutama kaum ibu. Bahwa mereka masih tetap mengarahkan anak-anaknya untuk mengaji pada sore hari atau setelah
magrib di meunasah atau di rumah-rumah darurat yang mereka bangun.
Kegiatan ini menunjukkan keistimewaan Aceh dan gairah keislaman tetap melekat dalam jiwa-jiwa mereka yang sedang bersedih karena mereka yakin pasti ada hikmah di balik setiap musibah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/CHAIRUL-BARIAH-OKE-BANGET-HEHEHE.jpg)