Opini
ISBI Aceh dalam Bingkai Sejarah Peradaban Aceh
Sejarah mencatat bahwa Aceh bukan sekadar daerah yang kebetulan menjadi tempat persinggahan para pedagang asing. Ia adalah pusat gravitasi
Dalam konteks yang lebih luas, ISBI Aceh diharapkan menjadi "Bappeda" untuk bidang seni dan budaya Aceh. Kepala Balai Pelestarian Budaya Wilayah I Aceh, Piet Rusdi, dengan tegas menyatakan bahwa ISBI Aceh harus menjadi lokomotif pembangunan seni dan budaya, bukan hanya wadah pendidikan, tetapi juga pusat riset, rekomendasi kebijakan, dan penggerak industri kreatif berbasis kearifan lokal. "Jika Aceh punya bappeda untuk ekonomi dan infrastruktur, maka seni dan budaya juga butuh arah kebijakan yang terukur. Dan siapa lagi yang paling layak memegang peran itu kalau bukan ISBI Aceh," ujarnya.
ISBI Aceh telah menunjukkan kemampuannya dalam mengemban amanah besar ini melalui berbagai program dan kegiatan strategis. Salah satu yang paling monumental adalah penyelenggaraan Kongres Peradaban Aceh (KPA) II pada tahun 2024 di Kampus ISBI Aceh, Jantho. Kongres yang mengusung tema "Pemerkasaan Seni dan Budaya Aceh di Era Kecerdasan Buatan" ini dihadiri oleh sekitar 2.000 peserta dari dalam dan luar negeri, dan menghasilkan 21 butir rekomendasi strategis untuk kemajuan kebudayaan Aceh.
Lebih penting lagi, kongres ini memutuskan bahwa KPA 2026 akan mengangkat tema "Penguatan Peradaban Gayo" dan dilaksanakan di Takengon, Aceh Tengah, serta menetapkan bahwa pelaksanaan KPA dilakukan dua tahun sekali secara berkelanjutan. ISBI Aceh dimandatkan untuk bertanggung jawab terhadap keberlanjutan pelaksanaan KPA berikutnya.
Selain KPA, ISBI Aceh juga menjadi tuan rumah International Conference on Aceh Civilization (ICoAC) ke-2 pada Oktober 2025. Konferensi internasional ini menjadi wadah dialog akademik lintas negara tentang seni, budaya, dan peradaban kontemporer secara global, dengan menghadirkan pemateri dari Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Menurut panitia pelaksana, kehadiran para narasumber dari luar negeri menunjukkan bahwa ISBI Aceh kini mulai dikenal sebagai pusat diskursus budaya di kawasan regional. ICoAC bukan sekadar forum ilmiah, tetapi juga momentum diplomasi kebudayaan.
Di ranah pendidikan dan pelestarian budaya, ISBI Aceh terus melakukan terobosan. Program studi yang ditawarkan dirancang untuk menggabungkan teori dan praktik, memungkinkan mahasiswa untuk tidak hanya mempelajari sejarah dan teori seni, tetapi juga mengembangkan keterampilan praktis. Dalam Program Studi Seni Tari, mahasiswa diajarkan berbagai tarian tradisional Aceh seperti Tari Saman, Seudati, Likok Pulo, dan Ratoh Jaroe.
Program Studi Seni Musik mencakup pembelajaran tentang alat musik tradisional Aceh seperti seurune kalee, rapa-i, dan gendang. Bahkan, ISBI Aceh telah membuka Program Studi Bahasa Aceh sebagai bentuk komitmen terhadap pelestarian bahasa daerah yang terancam punah.
Inovasi digital juga menjadi fokus ISBI Aceh. Podcast "Meudrah" adalah salah satu contoh nyata bagaimana kampus ini memanfaatkan media digital untuk menjangkau publik yang lebih luas. Dengan merekam diskusi-diskusi bermakna di berbagai lokasi di seluruh Aceh, "Meudrah" menjadi ruang belajar digital yang dapat diakses oleh siapa saja, kapan saja, di mana saja.
Selain itu, dosen-dosen ISBI Aceh juga menggagas berbagai program kreatif seperti Workshop Visualisasi Hikayat Aceh, yang mengolah warisan sastra klasik menjadi karya seni rupa kontemporer. "ISBI Aceh memiliki tanggung jawab akademik sekaligus moral untuk menjaga warisan budaya," ujar Dr. Angga Eka Karina, M.Sn., Ketua Jurusan Seni Pertunjukan ISBI Aceh.
Kolaborasi menjadi kunci strategi ISBI Aceh. Kampus ini secara aktif menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah, Dewan Kesenian Aceh, Balai Pelestarian Kebudayaan, komunitas seniman, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Sinergi ini melahirkan berbagai program yang saling menguatkan, mulai dari trauma healing berbasis seni bagi korban bencana hingga festival seni rupa Islam internasional. Pada tahun 2025, misalnya, ISBI Aceh menjadi tuan rumah perayaan Hari Seni Islam Internasional yang ditetapkan UNESCO, sebuah pencapaian yang menunjukkan bahwa kampus di lereng Bukit Jantho ini mampu menjawab panggung global.
Tantangan infrastruktur dan keterbatasan fasilitas memang masih membayangi. Lahan seluas 30 hektar yang dihibahkan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Besar masih didominasi ruang-ruang kosong. Laboratorium seni, studio, galeri, dan peralatan pendukung pembelajaran masih belum memadai. Namun, di balik keterbatasan itu, semangat untuk terus maju tetap menyala.
Dengan dukungan dari pemerintah pusat dan daerah, serta kerja keras kolektif seluruh sivitas akademika, ISBI Aceh perlahan tapi pasti terus membangun dirinya menjadi pusat peradaban seni di ujung barat Nusantara.
Penutup
ISBI Aceh bukan sekadar perguruan tinggi seni biasa. Ia adalah institusi yang lahir dari kesadaran bahwa kejayaan masa lalu harus dirawat, dihidupkan kembali, dan diwariskan kepada generasi mendatang. Dalam bingkai sejarah peradaban Aceh yang panjang dan gemilang, ISBI Aceh hadir sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan, sebuah institusi yang menghubungkan warisan leluhur dengan inovasi kontemporer.
Tiga pilar yang telah kita bahas, Aceh sebagai poros peradaban Islam di Nusantara, warisan budaya Aceh yang diakui dunia, dan peran strategis ISBI Aceh sebenarnya adalah tiga sisi dari koin yang sama. Semuanya bercerita tentang kesinambungan peradaban. Sebagaimana Kesultanan Aceh Darussalam menjadi pusat peradaban Islam di masa lalu, ISBI Aceh diharapkan menjadi pusat kebudayaan di masa kini.
Sebagaimana Tari Saman diakui dunia sebagai warisan budaya takbenda, ISBI Aceh bertanggung jawab untuk memastikan tarian itu tetap hidup dan berkembang. Sebagaimana para sultan dan ulama Aceh membangun peradaban yang disegani dunia, ISBI Aceh harus menjadi lokomotif kebangkitan budaya Aceh di era global.
Perjalanan ISBI Aceh masih panjang. Tantangan besar masih menghadang. Namun, dengan semangat "pungo", semangat hidup yang dinamis, berani, kreatif, dan tidak mudah puas, kampus seni di lereng Bukit Jantho yang sejuk ini akan terus melangkah.
Karena pada akhirnya, mengembalikan kejayaan Aceh bukanlah sekadar nostalgia masa lalu, melainkan tindakan nyata di masa kini untuk membangun masa depan. Dan ISBI Aceh adalah salah satu ujung tombaknya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/apridarrr.jpg)