Opini
ISBI Aceh dalam Bingkai Sejarah Peradaban Aceh
Sejarah mencatat bahwa Aceh bukan sekadar daerah yang kebetulan menjadi tempat persinggahan para pedagang asing. Ia adalah pusat gravitasi
Pada masa itu, Aceh secara resmi meletakkan Al-Qur'an, Al-Hadits, Ijmak, dan Qiyas sebagai sumber hukum negara sebuah pencapaian yang luar biasa diukur dengan standar hari ini. Islam tidak sekadar menjadi agama rakyat, tetapi menjadi fondasi negara.
Dimensi keagamaan tidak dapat dipisahkan dari setiap perilaku penduduk Aceh, baik di masa silam maupun kini.
Kesultanan Aceh juga maju dalam berbagai sektor: pertanian, perdagangan, perekonomian, kelautan, astronomi, kebudayaan, obat-obatan, hingga ilmu pengetahuan lainnya. Para ulama dan cendekiawan Muslim dari berbagai wilayah di dunia datang ke Aceh, membawa serta keahlian mereka, dan turut berkontribusi memajukan peradaban masyarakat Aceh yang kosmopolitan.
Hubungan diplomatik yang erat dengan Kesultanan Turki Utsmaniyah semakin memperkuat posisi Aceh di kancah internasional.
Utusan Aceh dikirim ke Istanbul, membawa lada putih sebagai hadiah, dan sebagai imbalannya Turki mengirim instruktur, prajurit, serta senjata untuk membantu Aceh melawan Portugis. Meriam Lada Sicupak menjadi bukti nyata hubungan erat antara dua kerajaan Islam tersebut.
Tidak kalah penting, Aceh menjadi pusat perdagangan rempah-rempah internasional. Selat Malaka, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Barat dan Timur, memberikan keuntungan besar bagi Aceh.
Dari 20 titik jalur rempah Nusantara, dua pusatnya berada di Aceh, yakni Samudera Pasai dan Aceh Darussalam. Lada, timah, cengkih, dan pala menjadi komoditas utama yang diperdagangkan hingga ke Eropa.
Para pedagang Koromandel menjadikan Aceh sebagai pusat perdagangan mereka di Asia Tenggara, membawa beras, besi, baja, tekstil, dan ditukar dengan lada, timah, gading, gajah, serta rempah-rempah lainnya.
Kejayaan jalur rempah Aceh tercatat dalam peta perdagangan global dan diakui oleh bangsa Portugis, Mesir kuno, Yunani, Romawi, Cina, Arab, dan bangsa lainnya.
Aceh juga menjadi pusat intelektual dan spiritual. Para pelajar dari berbagai penjuru Nusantara datang untuk menimba ilmu, menjadikan Aceh sebagai pusat ilmu pengetahuan dan keagamaan yang terkenal di dunia Islam.
Ulama-ulama besar seperti Syekh Abdur Rauf al-Sinkili (Syiah Kuala) lahir dan berkarya di Aceh, menghasilkan karya-karya monumental yang masih dikaji hingga saat ini.
Kemampuan diplomasi para sultan Aceh memungkinkan kesultanan ini memiliki hubungan internasional yang mengagumkan dengan Belanda, Prancis, Inggris, dan terutama Turki Utsmaniyah.
Namun, kejayaan tidak berlangsung selamanya. Perang Aceh melawan Belanda yang berlangsung selama beberapa dekade, konflik internal, dan tekanan imperialisme Barat akhirnya membawa kemunduran. Namun, semangat perlawanan dan keberanian rakyat Aceh tetap menjadi simbol yang tak pernah pudar.
Motivasi agama selalu menjadi landasan perjuangan rakyat Aceh, terutama dalam melawan penjajah. Kini, setelah masa suram berlalu, muncullah pertanyaan: siapa yang akan melanjutkan estafet peradaban ini? Jawabannya mulai terlihat di lereng Bukit Jantho.
Warisan Budaya Aceh yang Diakui Dunia: Tari Saman dan Lainnya
Kejayaan Aceh tidak hanya tercatat dalam buku-buku sejarah dan prasasti-prasasti kuno. Ia masih hidup, bernapas, dan bergerak melalui seni dan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di antara sekian banyak warisan budaya Aceh, Tari Saman menjadi yang paling mendunia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/apridarrr.jpg)