Rabu, 27 Mei 2026

Opini

ISBI Aceh dalam Bingkai Sejarah Peradaban Aceh

Sejarah mencatat bahwa Aceh bukan sekadar daerah yang kebetulan menjadi tempat persinggahan para pedagang asing. Ia adalah pusat gravitasi

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Ansari Hasyim
hand over dokumen pribadi
Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, Guru Besar Universitas Syiah Kuala dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh 

Pada tanggal 24 November 2011, dalam Sidang ke-6 Komite Antar-Pemerintah untuk Pelindungan Warisan Budaya Takbenda UNESCO di Bali, Tari Saman resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda yang Memerlukan Pelindungan Mendesak.

Penetapan ini bukan sekadar piagam penghargaan, melainkan amanat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk melindungi dan mengembangkan warisan budaya yang sangat heroic tersebut.

Apa yang membuat Tari Saman begitu istimewa? Tarian seribu tangan, demikian dunia menyebutnya berasal dari dataran tinggi Gayo, tepatnya Kabupaten Gayo Lues, dan dapat dilacak keberadaannya hingga abad ke-13.

Tarian ini awalnya merupakan permainan rakyat bernama "Pok Ane", yang kemudian dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang menyebarkan Islam di Tanah Gayo.

Syekh Saman menambahkan syair-syair religi berisi pujian kepada Allah SWT dan pesan-pesan moral yang diiringi kombinasi tepukan tangan para penari. Dengan demikian, Tari Saman bukan sekadar tarian hiburan, melainkan juga media dakwah Islam yang efektif.

Keunikan Tari Saman terletak pada gerakannya yang dinamis, cepat, dan kompak tanpa menggunakan alat musik apa pun. Para penari laki-laki duduk berlutut dalam barisan rapat, mengenakan kostum hitam bersulam motif Gayo warna-warni yang melambangkan alam dan nilai-nilai luhur.

Gerakan utamanya meliputi tepuk tangan, tepuk dada, dan tepuk paha, serta gerakan kepala yang dinamis, semuanya mencerminkan nilai-nilai pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan. Posisi duduk yang mirip dengan dua sujud dalam salat menyimbolkan pengaruh Islam yang kuat dalam tarian ini.

Tari Saman bukanlah satu-satunya warisan budaya Aceh yang mendunia. Tari Seudati dari Pase, Tari Likok Pulo dari Aceh Besar, Tari Rateb Meuseukat, Tari Tarek Pukat, dan puluhan tarian tradisional lainnya turut memperkaya khazanah budaya Aceh.

Bahkan, sebanyak 12 karya seni Aceh telah dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Nasional, termasuk Rumoh Aceh, berbagai tarian tradisional, dan kesenian rakyat lainnya. Keberagaman ini mencerminkan betapa kayanya budaya Aceh, sebuah provinsi yang dihuni beragam etnis dengan bahasa dan adat yang berbeda, namun tetap dibingkai dalam nilai-nilai syariat Islam.

Warisan budaya Aceh yang diakui dunia ini bukan sekadar kebanggaan masa lalu. Ia adalah aset hidup yang harus terus dijaga, dikembangkan, dan diwariskan. Di sinilah peran ISBI Aceh menjadi sangat krusial.

Sebagai satu-satunya perguruan tinggi seni budaya di Aceh, ISBI memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk memastikan bahwa Tari Saman, Tari Seudati, dan seluruh warisan budaya Aceh lainnya tidak hanya lestari, tetapi juga terus berkembang dan beradaptasi dengan zaman.

Dengan kata lain, warisan budaya yang telah diakui dunia ini membutuhkan "rumah" yang layak untuk terus hidup dan rumah itu adalah ISBI Aceh.

Peran Strategis ISBI Aceh dalam Mengembalikan Kejayaan Aceh

Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh didirikan pada 6 Oktober 2014 berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 126 Tahun 2014, dan diresmikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sejak awal berdirinya, ISBI Aceh telah berkomitmen untuk melestarikan tradisi dan warisan budaya Aceh yang kaya, sekaligus menciptakan inovasi-inovasi baru dalam seni.

Dengan dua jurusan utama Jurusan Seni Pertunjukan (meliputi Seni Karawitan, Tari, Teater, Kajian Sastra dan Budaya, serta Bahasa Aceh) dan Jurusan Seni Rupa dan Desain (meliputi Kriya Seni, Seni Rupa Murni, Desain Komunikasi Visual, serta Desain Interior), ISBI Aceh menjadi pusat pendidikan tinggi seni yang komprehensif.

Namun, peran ISBI Aceh jauh melampaui fungsi pendidikan biasa. Ia diharapkan menjadi ujung tombak pengembangan budaya lokal. Bupati Aceh Besar, Mukhlis Basyah, dalam peletakan batu pertama pembangunan gedung ISBI Aceh, menyatakan bahwa kehadiran ISBI di Aceh merupakan bukti komitmen pemerintah dalam menjaga dan mengembangkan seni budaya sebagai warisan leluhur. Ia juga menegaskan bahwa ISBI sebagai perguruan tinggi seni budaya diharapkan dapat mengembangkan dan membumikan warisan budaya Aceh dan Nusantara.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved