Berita Aceh Timur
Pundak Baja Junaidi dan Sisa Wangi Nilam Pante Kera
Dari kejayaannya yang melimpah, kini yang tersisa hanyalah tiga jeriken minyak nilam satu-satunya harta yang sempat ia selamatkan dari amukan air
Penulis: Maulidi Alfata | Editor: Muhammad Hadi
Ringkasan Berita:Banjir bandang 2025 mengubah hidup Junaidi, dari petani dan penyuling nilam yang mapan menjadi buruh angkut semen demi bertahan hidup di hunian sementara.Lahan, rumah, dan usaha penyulingannya hancur, menyisakan sedikit minyak nilam sebagai simbol masa kejayaan dan harapan untuk bangkit kembali.Ia berharap pemerintah membantu pemulihan lahan agar petani tidak berjuang sendiri memulihkan ekonomi pascabencana.
Suara mesin becak motor itu meraung, memecah kesunyian jalanan Kampung Pante Kera yang berdebu. Di atasnya, Junaidi (51) tampak bersitegang dengan stang kemudi.
Otot lengan pria berbadan besar ini mengeras, berusaha menjaga keseimbangan beban semen yang diangkutnya saat menaklukkan tanjakan terjal menuju lokasi Hunian Sementara (Huntara).
“Hati-hati, Pak Cik!” teriak seorang warga yang melintas.
Junaidi hanya sempat mengangguk tipis. Fokusnya tunggal sampai ke puncak tanpa membuat mesin becaknya mati di tengah jalan.
Setelah semen diturunkan satu demi satu, Junaidi memacu becaknya pulang. Di depan sebuah rumah darurat yang ia bangun sendiri dari sisa-sisa kayu pascabanjir bandang, ia akhirnya melepas penat.
Topi kerja yang kusam beralih fungsi menjadi kipas manual, ia mencoba mengusir gerah saat matahari tepat berada di ubun-ubun.
“Cukup untuk kebutuhan pokok dua hari ini. Alhamdulillah,” ucapnya lirih saat ditanya soal hasil kerjanya hari itu. Tiga track angkutan semen sudah ia selesaikan sejak fajar menyingsing.
Pante Kera mengenal Junaidi bukan sebagai buruh angkut. Dulu, ia adalah simbol kemandirian ekonomi desa.
Bayangkan saja, ia mengelola sepuluh rante sekitar 4.000 meter lahan nilam yang subur. Belum lagi ribuan meter kebun pinang dan durian yang secara rutin mengisi pundi-pundinya.
Junaidi bukan sekadar petani, ia adalah pengusaha penyulingan. Dengan modal Rp20 juta, ia membangun katel (mesin penyulingan).
Baca juga: Pemulihan Ekonomi dan Tantangan Pekerjaan Korban Banjir Aceh Timur Pascabencana
Saat musim panen tiba, aroma wangi minyak nilam yang khas akan menyerbak dari rumahnya.
Ia membeli hasil panen petani lain, menyulingnya, dan menjual minyak tersebut dengan harga mencapai Rp1 juta hingga Rp2 juta per kilogram saat pasar sedang bergairah.
Namun saat pasar sedang turun harga minyak nilam juga sempat anjlok di harga Rp. 800.000 per kilogram.
“Nilam itu emas hijau kami,” kenang Junaidi. Matanya menerawang, mengingat proses panjang menjemur, mencincang, hingga menunggu tetes demi tetes minyak keluar dari katel selama seharian penuh.
| Pemulihan Ekonomi dan Tantangan Pekerjaan Korban Banjir Aceh Timur Pascabencana |
|
|---|
| Beredar Surat Mutasi ASN, BKPSDM Aceh Timur Tegaskan Itu Hoaks |
|
|---|
| Deteksi Gelombang Rossby, Aceh Timur Diimbau Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang |
|
|---|
| Waspada El Nino Godzilla Mengintai, Warga Aceh Timur Diimbau Cegah Karhutla |
|
|---|
| Dampak Perang Timur Tengah, Harga Bahan Baku Tempe di Kabupaten Aceh Timur Ikut Naik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/petani-nilam-dan-nilam-yang-tersisa-pascabanjir.jpg)