Berita Aceh Timur
Pundak Baja Junaidi dan Sisa Wangi Nilam Pante Kera
Dari kejayaannya yang melimpah, kini yang tersisa hanyalah tiga jeriken minyak nilam satu-satunya harta yang sempat ia selamatkan dari amukan air
Penulis: Maulidi Alfata | Editor: Muhammad Hadi
Namun, air bah tidak memilih korban. Banjir bandang yang menghantam Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, pada akhir November2025 lalu menyapu bersih segalanya.
Rumahnya hancur, mesin katelnya mati, dan lahan nilamnya kini terkubur lumpur serta material kayu.
Dari kejayaannya yang melimpah, kini yang tersisa hanyalah tiga jeriken minyak nilam satu-satunya harta yang sempat ia selamatkan dari amukan air.
Bertahan hidup setelah banjir
Usai banjir menerjang, Junaidi bertranformasi dari seorang petani nilam yang ekonomi stabil, kini ia harus mengandalkan otot untuk bertahan hidup.
Tidak ada lagi jadwal panen lima bulanan yang ada hanyalah jadwal harian yang tidak pasti.
Hari Itu, keberuntungan sedang berpihak kepadanya. Junaidi mendpatkan pekerjaan sebagai buruh angkut semen, tubuhnya yang tak lagi muda, mencoba akrab dengan beban berat.
Satu hingga tiga track angkutan ia selesaikan dengan becak motornya, berkat kegigihannya itu ia memperoleh 20 ribu rupiah per track.
Jelang sore hari, Junaidi telah mengantongi Rp 60.000. Nominal ini bagi sebagian orang mungkin hanya cukup untuk sekali makan siang.
Namun bagi Junaidi dan istrinya, itu merupakan nafas tambahan untuk bertahan hidup.
“Upah hari ini sebagian saya simpan untuk keperluan besok, karena belum tentu besok atau lusa ada pekerjaan yang saya dapatkan,” tutur pria kelahiran 1975 itu, dengan raut wajah penuh keraguan.
Hidup di wilayah bencana, memaksa Junaidi harus gesit mencari lowongan pekerjaan, penghasilan Rp 40 ribu hingga Rp 60 ribu yang didapatkan harus ia simpan agar dapur bisa terus berasap.
Baca juga: Nilam Aceh Ternyata Jadi Bahan Baku Parfum Chanel, Petani Masih Hadapi Tantangan Harga
Lelaki paruh baya itu, kembali betutur. “Alhamdulillah pemerintah memberikan bantuan beras dan minyak, ini menjadi keringanan buat kami. Namun tentunya ini belum cukup untuk lauk pauk makan sehari hari,” katanya.
Ia melanjutkan, lauk pauk lainnya seperti ikan ia mencari sendiri di sungai dengan memancing atau menjalanya.
Sementara sayur mayur ia bisa mencari di hutan wilayah perbukitan seperti daun paku atau kangkung liar dekat rawa.
“Kalau ikan, kami tidak terlalu susah ada sungai di sini jadi bisa mancing. Uang yang saya dapatkan ini untuk beli bumbu atau keperluan dapur lain,” paparnya.
| Pemulihan Ekonomi dan Tantangan Pekerjaan Korban Banjir Aceh Timur Pascabencana |
|
|---|
| Beredar Surat Mutasi ASN, BKPSDM Aceh Timur Tegaskan Itu Hoaks |
|
|---|
| Deteksi Gelombang Rossby, Aceh Timur Diimbau Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang |
|
|---|
| Waspada El Nino Godzilla Mengintai, Warga Aceh Timur Diimbau Cegah Karhutla |
|
|---|
| Dampak Perang Timur Tengah, Harga Bahan Baku Tempe di Kabupaten Aceh Timur Ikut Naik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/petani-nilam-dan-nilam-yang-tersisa-pascabanjir.jpg)