Breaking News
Sabtu, 18 April 2026

Berita Aceh Timur

Pundak Baja Junaidi dan Sisa Wangi Nilam Pante Kera

Dari kejayaannya yang melimpah, kini yang tersisa hanyalah tiga jeriken minyak nilam satu-satunya harta yang sempat ia selamatkan dari amukan air

Penulis: Maulidi Alfata | Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/MAULIDI ALFATA
Zulkifli petani Desa Pante Kera, Kabupaten Aceh Timur, memperlihatkan sisa seikat nilam yang berhasil selamat dari banjir, usaha penyulingan minyak nilam Zulkifli dan lahannya rusak parah setelah banjir bandang akhir tahun 2025. 

Namun, air bah tidak memilih korban. Banjir bandang yang menghantam Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, pada akhir November2025 lalu menyapu bersih segalanya. 

Rumahnya hancur, mesin katelnya mati, dan lahan nilamnya kini terkubur lumpur serta material kayu. 

Dari kejayaannya yang melimpah, kini yang tersisa hanyalah tiga jeriken minyak nilam satu-satunya harta yang sempat ia selamatkan dari amukan air.

Bertahan hidup setelah banjir

Usai banjir menerjang, Junaidi bertranformasi dari seorang petani nilam yang ekonomi stabil, kini ia harus mengandalkan otot untuk bertahan hidup. 

Tidak ada lagi jadwal panen lima bulanan yang ada hanyalah jadwal harian yang tidak pasti.

Hari Itu, keberuntungan sedang berpihak kepadanya. Junaidi mendpatkan pekerjaan sebagai buruh angkut semen, tubuhnya yang tak lagi muda, mencoba akrab dengan beban berat. 

Satu hingga tiga track angkutan ia selesaikan dengan becak motornya, berkat kegigihannya itu ia memperoleh 20 ribu rupiah per track.

Jelang sore hari, Junaidi telah mengantongi Rp 60.000. Nominal ini bagi sebagian orang mungkin hanya cukup untuk sekali makan siang.

Namun bagi Junaidi dan istrinya, itu merupakan nafas tambahan untuk bertahan hidup.

“Upah hari ini sebagian saya simpan untuk keperluan besok, karena belum tentu besok atau lusa ada pekerjaan yang saya dapatkan,” tutur pria kelahiran 1975 itu, dengan raut wajah penuh keraguan.

Hidup di wilayah bencana, memaksa Junaidi harus gesit mencari lowongan pekerjaan, penghasilan Rp 40 ribu hingga Rp 60 ribu yang didapatkan harus ia simpan agar dapur bisa terus berasap.

Baca juga: Nilam Aceh Ternyata Jadi Bahan Baku Parfum Chanel, Petani Masih Hadapi Tantangan Harga  

Lelaki paruh baya itu, kembali betutur. “Alhamdulillah pemerintah memberikan bantuan beras dan minyak, ini menjadi keringanan buat kami. Namun tentunya ini belum cukup untuk lauk pauk makan sehari hari,” katanya.

Ia melanjutkan, lauk pauk lainnya seperti ikan ia mencari sendiri di sungai dengan memancing atau menjalanya.

Sementara sayur mayur ia bisa mencari di hutan wilayah perbukitan seperti daun paku atau kangkung liar dekat rawa.

“Kalau ikan, kami tidak terlalu susah ada sungai di sini jadi bisa mancing. Uang yang saya dapatkan ini untuk beli bumbu atau keperluan dapur lain,” paparnya.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved