Berita Aceh Timur
Pundak Baja Junaidi dan Sisa Wangi Nilam Pante Kera
Dari kejayaannya yang melimpah, kini yang tersisa hanyalah tiga jeriken minyak nilam satu-satunya harta yang sempat ia selamatkan dari amukan air
Penulis: Maulidi Alfata | Editor: Muhammad Hadi
Senin hingga Minggu, Junaidi tak punya hari libur. Di mana ada peluang, di situ ia berdiri. Menjadi kuli bangunan di proyek Huntara, buruh angkut, hingga pekerja serabutan apa saja.
Ia menanggalkan gengsi sebagai pemilik lahan demi memastikan dapur di rumah daruratnya tetap mengepul.
Tiga jeriken kecil minyak nilam yang tersisa di sudut rumahnya bukan sekadar barang dagangan yang menunggu harga naik, melainkan monumen kecil bahwa ia pernah berjaya.
Mesin katel di belakang rumahnya yang kini menjadi rongsokan menjadi saksi bahwa ia pernah memberikan sumbangsih besar untuk perekonomian Junaidi.
Kini ia sedang berusaha untuk kembali, meski harus merangkak dari dasar dan tak tahu kapan akan seperti dulu lagi sebelum bencana banjir dan longsor.
Bagi pria kelahiran 1975 ini, nilam adalah napas yang menyimpan janji kesejahteraan melampaui padatnya perkebunan sawit.
Namun, ia menyadari bahwa di balik wangi aromatiknya, tersimpan kerentanan harga yang mengintai nasib petani melawan cengkeraman tengkulak.
“Nilam ini sangat menjanjikan sebenarnya, makanya saya memang fokus di sektor ini, tetapi kadang-kadang yang menjadi permasalahan hingga saat ini, rentan adanya permainan harga oleh tengkulak. Kami di sini tidak punya supplier besar, jadi mau tidak mau harus jual ke tengkulak,” ucapnya sambil menarik nafas panjang.
Baca juga: Tinjau Jembatan Gantung dan Progres Huntara, Bupati Al-Farlaky Kunjung Simpang Jernih
Ia mengungkapkan saat harga di pasar lokal dipermainkan, keringat para petani petani seolah menguap sia-sia.
Belum lagi sifat minyaknya yang manja, nilam tak bisa didekap terlalu lama dalam penyimpanan karena zatnya akan menyusut perlahan. “Kadang terpaksa meskipun harga murah tetap harus kita lepas,” tuturnya.
“Harga saat pasar sehat itu bisa tembus 2 juta rupiah, tapi saat musim panen raya, harga diturunkan sama mereka sampai 800 ribu,” lirihnya.
Harapan kepada pemerintah
Usai pekerjaan selesai, Junaidi melabuhkan tubuhnya yang penat di gubuk darurat. Ia mengingat kembali bagaimana bentang alam Pante Kera yang kini tampak asing lahan yang dulu hijau. Kini menyisakan luka berupa endapan lumpur dan batang-batang kayu yang mati.
Dalam heningnya istirahat itu, terselip sebuah harapan yang ia titipkan pada angin, sebuah doa agar suara kecilnya sampai ke meja-meja tinggi di pemerintahan.
Ia tidak meminta belas kasihan, namun ia mengetuk pintu keadilan bagi para petani yang 'patah pinggang' akibat bencana.
Baginya, perhatian khusus pemerintah terhadap pemulihan lahan bukan sekadar soal bantuan bibit atau pupuk, melainkan tentang mengembalikan ekonomi warga yang terkubur bersama banjir.
| Pemulihan Ekonomi dan Tantangan Pekerjaan Korban Banjir Aceh Timur Pascabencana |
|
|---|
| Beredar Surat Mutasi ASN, BKPSDM Aceh Timur Tegaskan Itu Hoaks |
|
|---|
| Deteksi Gelombang Rossby, Aceh Timur Diimbau Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang |
|
|---|
| Waspada El Nino Godzilla Mengintai, Warga Aceh Timur Diimbau Cegah Karhutla |
|
|---|
| Dampak Perang Timur Tengah, Harga Bahan Baku Tempe di Kabupaten Aceh Timur Ikut Naik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/petani-nilam-dan-nilam-yang-tersisa-pascabanjir.jpg)