Sabtu, 25 April 2026

Opini

Duka Tata Kota Banda Aceh di Ulang Tahun Ke-821

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Banda Aceh yang ke-821 pada tahun 2026 merupakan sebuah peristiwa monumental yang tidak hanya menandai

Editor: Ansari Hasyim
IST
Dr HT Ahmad Dadek SH MH, Kepala Bappeda Aceh 

Digitalisasi arsip, pemetaan virtual kawasan bersejarah, serta penggunaan teknologi imersif seperti augmented reality dapat menjadi sarana untuk merekonstruksi memori kolektif yang hilang. Dengan demikian, teknologi tidak menggantikan identitas, tetapi justru memperkuatnya.

Namun, tantangan terbesar Banda Aceh tidak hanya terletak pada aspek historis dan pembangunan, tetapi juga pada kerentanan terhadap bencana tsunami. Catatan geologi menunjukkan bahwa dalam 7.500 tahun terakhir, wilayah ini telah mengalami sedikitnya 17 tsunami besar, menjadikan risiko bencana sebagai bagian inheren dari eksistensi kota. Oleh karena itu, mitigasi bencana harus menjadi paradigma utama dalam perencanaan kota.

Pendekatan tata ruang berbasis risiko menjadi keharusan. Kawasan pesisir dengan tingkat kerawanan tinggi perlu direstrukturisasi sebagai zona terbuka, sabuk hijau, atau kawasan evakuasi, bukan sebagai pusat permukiman padat. Infrastruktur evakuasi, termasuk jalur dan shelter vertikal, harus dirancang secara sistematis dan inklusif.

Selain itu, pemanfaatan teknologi digital dalam sistem peringatan dini menjadi krusial untuk memastikan respons cepat dan efektif.

Lebih dari itu, ketahanan kota harus dibangun melalui budaya sadar bencana. Memori kolektif tentang tsunami perlu diinternalisasi dalam sistem pendidikan, praktik keagamaan, dan kehidupan sosial masyarakat. Dalam perspektif Islam, mitigasi bencana merupakan bagian dari upaya menjaga kehidupan (hifz al-nafs), sehingga memiliki dimensi moral dan spiritual yang kuat.

Dengan demikian, masa depan Banda Aceh terletak pada kemampuannya mengintegrasikan tiga dimensi utama: sejarah, lingkungan, dan teknologi dalam kerangka ketahanan bencana. Banda Aceh harus bertransformasi menjadi kota yang tidak hanya berakar pada masa lalu, tetapi juga adaptif terhadap tantangan masa depan—sebuah kota yang tidak sekadar bertahan, tetapi mampu menjadi model peradaban Islam modern yang berkelanjutan, inklusif, dan tangguh terhadap risiko alam.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved