Opini
Desil Dicari, Label Miskin Dihindari
Dalam kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil dan harga kebutuhan hidup yang terus meningkat, bantuan
Oleh: Banta Diman S Sos I MSi*)
DI Aceh hari ini, menjadi miskin kadang terasa memalukan. Namun ironisnya, bantuan untuk orang miskin justru diperebutkan.
Fenomena ini semakin terlihat sejak istilah desil ramai dibicarakan masyarakat. Banyak orang mulai bertanya, “Saya masuk desil berapa?”
Status tersebut kini menjadi salah satu penentu utama penerima bantuan sosial pemerintah.
Dalam kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil dan harga kebutuhan hidup yang terus meningkat, bantuan seperti PKH, BLT, maupun bantuan pangan memang sangat membantu masyarakat kecil.
Namun persoalan di lapangan jauh lebih rumit dibanding angka dalam sistem pendataan. Fenomena ini menghadirkan ironi sosial yang kadang membuat kita bingung: harus sedih atau tertawa.
Banyak orang sebenarnya tidak terlalu keberatan masuk desil 1 atau desil 2 selama identitas itu tidak diumumkan secara terbuka.
Persoalan mulai sensitif ketika rumah ditempel stiker PKH atau nama penerima bantuan diketahui lingkungan sekitar.
Ada yang marah disebut penerima bantuan, tetapi bantuannya tetap diambil. Seolah masyarakat ingin berkata, “Bantuannya saya ambil, tapi jangan umumkan saya orang miskin.”
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan lagi sekadar bantuan, melainkan gengsi sosial.
Orang ingin dibantu, tetapi tidak ingin dipandang rendah oleh lingkungan sekitar.
Takut menjadi bahan pembicaraan tetangga atau merasa harga dirinya terganggu ketika status miskin diketahui secara terbuka.
Hal yang sama juga terlihat dalam pembagian zakat fitrah.
Ada orang yang santai menerima bantuan pemerintah setiap bulan, tetapi tersinggung ketika diberi beras zakat fitrah.
Dalam pandangan sebagian masyarakat Aceh, zakat fitrah terasa lebih sensitif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Banta-Diman-09ikl.jpg)