Selasa, 19 Mei 2026

Kupi Beungoh

Dam Haji: Mau Potong di Makkah atau Mudik ke Indonesia?

Belakangan ini, jagat per-hajian kita lagi ramai membahas satu pertanyaan penting: kambingnya bagusnya disembelih di Tanah Haram

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Maimun Panga, alumni  Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fak Dakwah IAIN/UIN Ar-Raniry dan Mahasiswa Magister Administrasi Publik (MAP) Universitas Iskandar Muda. 

Oleh: Maimun Panga*)

URUSAN ibadah haji itu memang bikin hati rindu, tapi kadang bikin dahi berkerut waktu membahas yang namanya dam atau denda haji tamattu. 

Belakangan ini, jagat per-hajian kita lagi ramai membahas satu pertanyaan penting: kambingnya bagusnya disembelih di Tanah Haram atau dibawa mudik dalam bentuk daging ke Indonesia?

Perbedaan pendapat (khilafiyah) ini seru, tapi untungnya dalam Islam, beda pandangan itu bukan modal buat berantem, melainkan bukti kalau fikih kita itu sangat fleksibel dan penuh kasih sayang.

Kalau kita ulik lebih dalam, ibadah haji itu sendiri adalah miniatur perjalanan hidup manusia.

Filosofinya adalah tentang kepatuhan total kepada Allah, sekaligus pembuktian cinta kepada sesama manusia. 

Di tanah suci, semua orang melepas baju egonya dan memakai kain ihram yang sama rata.

Tidak ada pejabat, tidak ada rakyat jelata, semuanya sama-sama hamba. 

Nah, esensi "kepatuhan" dan "kasih sayang" inilah yang kemudian memercikkan dua sudut pandang indah dalam urusan potong kambing ini.

Lagi pula, indikator utama haji yang mabrur itu sebenarnya bukan terletak pada seberapa lancar jamaah melempar jumrah, melainkan pada kembalinya kita ke tanah air sebagai pribadi yang memiliki kesalehan sosial tinggi. 

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa ciri haji mabrur itu adalah ith'amuth tha'am (gemar berbagi makanan) dan ifsya-us salam (menebarkan kedamaian).

Jadi, sepulang dari Makkah, kesalehan jamaah tidak boleh mandek di sajadah saja, tetapi harus mengetuk pintu-pintu rumah tetangga yang sedang kelaparan. 

Makna berbagi makanan inilah yang menjadi ruh utama dalam perdebatan lokasi penyembelihan dam ini. 

Di sudut kepatuhan ritual, ada Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama mayoritas ulama empat mazhab yang memegang prinsip kesakralan tempat.

Bagi beliau-beliau, haji itu adalah ibadah yang bersifat ta'abbudi alias kita sami'na wa atha'na (kami dengar dan kami taat) pada ketentuan teks suci.

Karena ketentuannya di Makkah, ya kambingnya wajib dipotong di Tanah Haram.

Pandangan ini sangat menghargai filosofi ketundukan mutlak pada aturan main yang sudah digariskan pencipta jagat raya agar hati jamaah terasa tenang.

Sementara di sudut kesalehan sosial, ada kawan-kawan dari Muhammadiyah dan para akademisi.

Mereka menarik makna ith'amuth tha'am tadi ke ranah yang lebih luas melalui filosofi kemaslahatan umat (maslahah mursalah). 

Ingat, potensi ratusan ribu kambing dari jamaah Indonesia itu nilainya fantastis.

Kalau dagingnya bisa mengalir sampai ke Indonesia lewat lembaga resmi, ini bisa jadi berkah luar biasa untuk memperbaiki gizi dan mengatasi stunting anak-anak bangsa.

Filosofi ini mengajarkan bahwa kesalehan sosial pasca-haji bisa dicicil sejak jamaah masih berada di tanah suci melalui sepotong daging kambing yang dikirim pulang. 

Lalu bagaimana solusinya
supaya jamaah tidak pusing? Gampang saja, ambil yang paling bikin hati masing-masing individu adem dan tenang. 

Fikih itu gunanya memudahkan, bukan bikin stres sebelum berangkat. Bagi yang ingin klop dengan filosofi ketundukan teks, silakan potong di Makkah.

Tapi bagi yang lebih tergetar dengan filosofi kepedulian sosial sejak dini, pilihan memotong di Indonesia juga punya dasar hujah yang sangat kuat.

Pemerintah sendiri sudah bijak dengan memfasilitasi kedua pilihan ini secara transparan. 

Yang paling penting dan dilarang keras itu cuma satu. 

Bayar dam lewat calo atau mukimin ilegal di pinggir jalan yang tidak jelas kambingnya beneran dipotong atau cuma difoto saja.

Jadi, mari kita saling menghormati pilihan sesama jamaah di dalam kloter. 

Berbeda pilihan tempat potong kambing tidak akan membatalkan haji kita, karena esensi kesalehan sosial itu justru tercermin dari bagaimana kita bisa menghargai perbedaan dengan penuh senyuman.

*) PENULIS  alumni Fakultas Dakwah IAIN/UIN Ar-Raniry dan Mahasiswa PPS Administrasi Publik Universitas Iskandar Muda

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved