Jumat, 29 Mei 2026

Kupi Beungoh

Saree: Antara Deru Tol dan Harapan Karbon

Saree adalah detak jantung ekonomi bagi ratusan keluarga yang menggantungkan hidup dari riuhnya arus kendaraan nasional

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
IST
Dr Ir Azhar MSc, dosen Departemen Agribisnis  dan Ketua Laboratorium Pengembangan Masyarakat dan Wilayah Pedesaan, Fakultas Pertanian USK. 

Oleh: Dr Ir Azhar MSc, dosen Departemen Agribisnis  dan Ketua Laboratorium Pengembangan Masyarakat dan Wilayah Pedesaan, Fakultas Pertanian USK

SELAMA berpuluh tahun, Saree bukan sekadar titik koordinat di peta Aceh Besar, melainkan sebuah "jeda" yang sakral dalam ritme panjang perjalanan lintas Banda Aceh-Medan. 

Di sana, kepul asap jagung rebus dan tumpukan keripik yang renyah bukan sekadar komoditas dagang, melainkan identitas yang melekat erat pada ingatan kolektif setiap pelintas. 

Saree adalah detak jantung ekonomi bagi ratusan keluarga yang menggantungkan hidup dari riuhnya arus kendaraan nasional. Namun, narasi kehangatan itu kini perlahan memudar, tertutup oleh deru mesin yang melesat lebih cepat di atas aspal mulus Jalan Tol Sigli-Banda Aceh (Sibanceh).

Laporan media lokal menyebutkan penurunan omzet hingga 70 persen bukanlah sekadar angka statistik, melainkan jeritan ekonomi rumah tangga yang kehilangan napas.

Ini adalah sinyal terjadinya spatial bypass—sebuah fenomena dimana modernitas infrastruktur justru mengisolasi titik-titik ekonomi tradisional yang tidak siap beradaptasi.

Jika kita hanya terdiam melihat fenomena ini, Saree tidak hanya kehilangan pembeli, tetapi juga kehilangan generasi mudanya yang terpaksa bermigrasi karena kehilangan tumpuan hidup di kampung halaman.

Saree kini berada di persimpangan jalan: menjadi kota mati yang sunyi atau bangkit sebagai ikon ekonomi hijau Aceh.

Redefinisi Destinasi: Melampaui Sekadar Tempat Singgah

Guna menghindari nasib tragis tersebut, kita harus berani melakukan disrupsi terhadap model bisnis "ekonomi lintasan" yang selama ini menjadi zona nyaman.

Saree tidak boleh lagi hanya pasrah berharap pada belas kasihan kendaraan yang kebetulan lewat, melainkan harus bertransformasi menjadi "ekonomi tujuan" (destination economy).

Melalui integrasi ekowisata dan agrowisata yang berorientasi pada pengalaman (experience economy), Saree memiliki peluang untuk menarik orang keluar dari rumah mereka dengan sengaja.

Kita perlu menciptakan alasan bagi warga Banda Aceh atau Pidie untuk menempuh perjalanan satu jam menuju Saree bukan karena mereka sedang menuju Medan, melainkan Saree adalah destinasi yang menawarkan kesegaran. 

Potensi untuk menjadi magnet wisata tersebut sejatinya telah tersedia di depan mata. Kerimbunan Taman Hutan Raya (Tahura) Pocut Meurah Intan bukan sekadar tegakan pohon, melainkan laboratorium alam yang bisa dikemas menjadi jalur trekking edukatif.

Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree memiliki daya tarik emosional yang kuat jika dikelola dengan standar wisata minat khusus, sementara UPTD Pertanian bisa bertransformasi menjadi pusat agrowisata unggulan tempat anak-anak sekolah mempelajari asal-usul pangan mereka.

Dengan mengacu pada formula 4A (Atraksi, Aksesibilitas, Amenitas, dan Ancillary), Saree dapat dikemas ulang sebagai kawasan glamping berbasis alam.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved