Kamis, 11 Juni 2026

Berita Banda Aceh

Orderan Sepi, Kenaikan Harga Pertamax Tambah Beban Driver Ojol di Aceh

Dengan harga minyak untuk sekarang, Pertalite saja dengan jumlah orderan yang sepi, kita juga kewalahan," kata Norman

Tayang:
Penulis: Rianza Alfandi | Editor: Nur Nihayati
Serambinews.com/HO/serambinews
OJOL ACEH — Ilustrasi Ojol Aceh. Foto ini direkam pada momen Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah melaksanakan doa bersama ojol Aceh, di Masjid Raya Baiturrahman Aceh, September 2025 lalu. 
Ringkasan Berita:
  • Harga Pertamax menjadi Rp16.650 ikut dikeluhkan oleh para pengemudi ojek online (ojol) di Aceh. 
  • Di tengah kondisi orderan yang dinilai masih sepi, kenaikan harga bahan bakar tersebut dinilai semakin menambah beban operasional para driver.
  • Dengan harga minyak untuk sekarang, Pertalite saja dengan jumlah orderan yang sepi, kita juga kewalahan," kata Norman

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.650 ikut dikeluhkan oleh para pengemudi ojek online (ojol) di Aceh. 

Di tengah kondisi orderan yang dinilai masih sepi, kenaikan harga bahan bakar tersebut dinilai semakin menambah beban operasional para driver.

Ketua Payung Ojol Aceh, Norman, mengatakan meski harga BBM jenis Pertalite tidak naik, namun sebagian pengemudi masih menggunakan Pertamax untuk menunjang aktivitas sehari-hari. 

Akibatnya, dengan kondisi pendapatan yang tidak menentu, para driver ojol di Aceh kini harus lebih berhitung dalam menggunakan bahan bakar.

"Sebagian dari driver ini kebutuhannya ada di Pertamax dan juga Pertalite. 

Dengan harga minyak untuk sekarang, Pertalite saja dengan jumlah orderan yang sepi, kita juga kewalahan," kata Norman, saat dikonfirmasi, Rabu (10/6/2026).

Baca juga: Pembangunan Jembatan Pante Lhong Dikebut, Prosesnya Mencapai 36 Persen

Menurut Norman, kondisi saat ini berbeda dibanding beberapa tahun lalu ketika pengemudi masih leluasa berpindah dari satu titik ke titik lainnya untuk mencari orderan

Kini, setiap liter bahan bakar harus diperhitungkan agar sebanding dengan jumlah pesanan yang diterima.

“Kalau dulu kita barangkali nyari orderan itu bisa pindah-pindah nih, satu titik ke titik lain, Kalau sekarang kita harus banyak perkiraan nih. 

Satu liter minyak paling nggak dapat lima atau tujuh orderan, atau sepuluh,” ujarnya.

“Tapi kalau dengan harga Pertamax, nah kendala kita kan nggak berani kita. Nggak cocok sih biaya pengeluaran sama pemasukan,” lanjutnya.

Norman mengaku, kenaikan harga BBM Pertamax ini menambah persoalan bagi driver ojel. 

Para pengemudi berada dalam posisi sulit karena harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga di tengah meningkatnya biaya operasional.

"Ibaratnya buah simalakama. Tidak kerja, kebutuhan rumah tangga dan anak-anak harus dipenuhi. Kerja juga perhitungannya harus banyak," ucapnya.

Norman menambahkan, kondisi pengemudi ojol di Banda Aceh berbeda dengan kota-kota besar yang memiliki permintaan layanan lebih tinggi. 

Di Banda Aceh, jumlah pengguna aplikasi masih terbatas sehingga peluang mendapatkan orderan juga tidak sebesar di daerah lain.

"Kalau di kota besar, ojol sudah menjadi kebutuhan masyarakat karena kondisi macet dan sebagainya. 

Sehingga orderan berlebih. Sementara di Banda Aceh terbatas orang yang menggunakan aplikasi ojol. Restoran juga tidak seperti kota-kota besar," katanya.

Karena itu, kata Norman, sebagian besar pengemudi kini tidak lagi berfokus pada jumlah orderan yang diperoleh setiap hari, melainkan pada jumlah pendapatan bersih yang bisa dibawa pulang.

Menurut dia, rata-rata pengemudi di Aceh harus mengeluarkan biaya Rp100 ribu per hari untuk bahan bakar dan kebutuhan makan selama bekerja. 

Dengan jam kerja yang bisa mencapai pukul 08.00 WIB hingga 22.00 WIB, pendapatan yang diperoleh terkadang masih belum memenuhi target.

"Kita bilang pengeluaran per hari Rp100 ribu. Jadi target kita paling nggak bersih Rp200 ribu. Kadang-kadang nggak juga, paling bisa bawa duit Rp100 atau Rp180 ribu,” tuturnya.

Oleh karena itu, Norman berharap harga BBM dapat kembali stabil agar beban pengemudi tidak semakin berat.

“Udah Kota Banda Aceh kecil ditambah jumlah ojol juga semakin ramai. Harapannya kita kenaikan harga BBM ini bisa normal lagi. 

Karena pendapatan kita tidak sesuai dengan pengeluaran, ditambah dengan BBM naik,” pungkasnya.(*)

Baca juga: Antrean di SPBU Bireuen Masih Normal, Pengisian Pertamax Terlihat Sepi

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved