Feature
Fachrul Razi Calon Dokter yang Berpulang sebelum Wisuda, Tangis Kakak Pecah Saat Wakili Sang Adik
Momen itu menjadi simbol cinta, pengorbanan, dan janji seorang kakak terhadap adik tercinta yang berpulang sebelum impiannya tercapai.
Pada hari wisuda, Nurul mewakili Fachrul menerima ijazahnya di tengah suasana haru. Momen itu menjadi simbol cinta, pengorbanan, dan janji seorang kakak terhadap adik tercinta yang berpulang sebelum impiannya tercapai.
Fachrul Razi, calon dokter dari Universitas Syiah Kuala (USK), berpulang sebelum sempat mengenakan toga impiannya. Mahasiswa asal Lhoong, Aceh Besar, itu meninggal dunia lima hari menjelang wisuda. Pada hari Kamis (28/8/2025) di Gedung AAC Dayan Dawood, USK, Banda Aceh, seharusnya Fachrul berdiri di panggung utama. Namun yang hadir hanyalah fotonya dalam bingkai, di hadapan jajaran senat universitas.
Sang kakak, Nurul Purwanti, melangkah dengan berat hati, menahan tangis yang berkali-kali ingin pecah. Ia hadir mewakili adiknya. Meski Fachrul telah pergi untuk selamanya, Nurul tetap ingin menggenggam ijazah sang adik, sebuah bukti betapa berat dan gigih perjuangan almarhum.
Air mata Nurul tak terbendung saat Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Ir. Marwan, menyerahkan ijazah Fachrul dalam prosesi wisuda. Kehadiran Nurul hari itu menjadi potret kesetiaan seorang kakak yang berjuang demi adik-adiknya. Ia mengenakan kebaya, menggantikan Fachrul Razi, mahasiswa Program Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran USK yang wafat lima hari sebelum wisuda.
Kepergian Fachrul meninggalkan duka mendalam bagi Nurul. Ia tahu betul, ijazah kedokteran itu adalah impian besar sang adik. “Ia anak yang baik. Kami semua tahu betapa besar tekadnya untuk menjadi dokter,” kenang Nurul.
Fachrul adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia lahir pada 20 Mei 2001. Setelah lulus dari SMAN 1 Arongan Lambalek, Aceh Barat, Fachrul melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran USK. Sejak awal kuliah, ia menerima beasiswa Bidikmisi dan memanfaatkannya sebaik mungkin demi mewujudkan cita-citanya.
Nurul bercerita, sejak ibu mereka meninggal pada 2017, Fachrul masih duduk di bangku SMA. Ayah mereka yang menderita stroke tinggal jauh bersama anak sulung di Jakarta. Karena itu, Nurul menjadi kakak sekaligus ibu bagi adik-adiknya.
“Lima hari sebelum Fachrul meninggal, ia sempat pulang ke kampung,” ujar Nurul. Kampung itu adalah Lhoong, Aceh Besar, tempat keluarga besar mereka tinggal. Nurul menyambutnya dengan memasak rendang Padang kesukaan Fachrul. Mereka tertawa bersama, bercanda dengan anak-anak Nurul, bahkan sempat berpelukan saat berpisah. “Wajahnya bersih sekali. Bajunya wangi, padahal dia jarang pakai parfum,” ucap Nurul.
Hari itu, tak ada tanda-tanda sakit. Namun Fachrul tampak lebih tenang dan patuh dari biasanya. Ponsel yang biasanya tak lepas dari genggaman, ia letakkan demi bercengkerama. Fachrul sempat berpesan, “Kak, jaga anak-anak kakak baik-baik ya. Mereka harus kuliah seperti adek.”
Nurul menjawab sambil tersenyum, “Adek saja kakak kuliahkan, apalagi anak sendiri.”
Keesokan harinya, sekitar pukul 11 siang, Fachrul mengirim pesan lewat WhatsApp: “Kak, adek menggigil. Adek sudah diinfus di RS USK.” Nurul segera menghubungi teman-teman yang mendampingi Fachrul.
Beberapa jam kemudian, Fachrul kembali memberi kabar, “Adek sudah enakan, Kak.” Sahabatnya, Aska, mengonfirmasi bahwa Fachrul sudah lepas infus dan dokter menyatakan ia cukup sehat untuk beristirahat. Ia bahkan sempat makan makanan yang dibawakan temannya. Namun menjelang Magrib, perawat menemukan Fachrul tak sadarkan diri.
Lima menit kemudian, Aska menghubungi Nurul dengan kabar memilukan: “Kak, Fachrul sudah tidak ada. Kakak harus banyak sabar dan berdoa, ya.” Saat itu, jantung Nurul berdegup kencang. Dunia seakan runtuh.
Air matanya pun tumpah. Kenangan tentang Fachrul berkelebat dalam benaknya. Ia ingat saat memandikan Fachrul waktu kecil, mendukung penuh cita-citanya menjadi dokter. Sejak sang ibu wafat, Nurul berjanji menjaga adik-adiknya, termasuk Fachrul, hingga berhasil. Bahkan pesan terakhir sang ibu menjelang ajal selalu terngiang: “Jaga Fachrul. Bantu dia kuliah. Dia pintar dan punya cita-cita jadi dokter.”
Nurul dan suaminya bahu-membahu mengusahakan pendidikan Fachrul, menyemangatinya di tengah kekhawatiran biaya, dan meyakinkannya bahwa mereka akan selalu ada untuknya.
Fachrul Razi
calon dokter berpulang
calon dokter meninggal jelang wisuda
Universitas Syiah Kuala
features
Seorang Ibu Hamil Bertaruh Nyawa, Grek Sorong Jadi Ambulans Darurat di Aceh Tengah |
![]() |
---|
Hindari Cuaca Buruk, Boat Pukat Karam di Kuala Raja Bireuen |
![]() |
---|
Setelah Delapan Jam, Sang Adik Temukan Mulki Meninggal di Dalam Sumur |
![]() |
---|
Nahkoda Periode 2025-2029, Anis Matta Kembali Tunjuk Sabur sebagai Ketua Partai Gelora Aceh Besar |
![]() |
---|
Disiksa Sesama Aceh di Atas Kapal, Lima Pemuda 9 Jam Berenang di Laut Kepulauan Aru Maluku |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.