Banjir Landa Aceh
Kaki Bergetar, Kisah Hermansyah Jalan Kaki Tembus Longsor untuk Selamat: 2 Hari 3 Malam Tanpa Makan
Namun saat melintasi Desa Ise-ise, Aceh Tengah, ia terjebak hujan deras dan longsor yang membuat akses jalan benar-benar terputus.
Penulis: Firdha Ustin | Editor: Nur Nihayati
SERAMBINEWS.COM - Kisah pilu dialami Hermansyah, warga Kutacane, Aceh Tenggara, yang harus berjalan kaki selama dua hari tiga malam untuk keluar dari wilayah yang terisolasi akibat banjir dan longsor besar yang melanda Aceh Tengah dan sekitarnya.
Hermansyah sebelumnya hendak menuju Banda Aceh. Namun saat melintasi Desa Ise-ise, Aceh Tengah, ia terjebak hujan deras dan longsor yang membuat akses jalan benar-benar terputus. Tidak ada kendaraan yang bisa melintas.
Hermansyah sempat bertahan dua hari di rumah warga.
Namun, kondisi kian memburuk.
Akses jalan dari Ise-ise menuju berbagai desa benar-benar tidak bisa ditembus, sementara logistik semakin menipis.
Ia akhirnya memutuskan meninggalkan kendaraannya dan berjalan kaki menembus jalur longsor.
Baca juga: Dirjen Adwil Kemendagri Turun Langsung Percepat Pengiriman Bantuan ke Bener Meriah dan Aceh Tengah
“Dari Ise-ise, Pak, saya jalan. Tembus ke Isaq. Kalau akses jalan itu ini belum tembus karena banyak putus. Tapi tujuan utama memang ke Banda Aceh. Cuma karena tidak ada jalan sama sekali, saya jalan. Bukan karena tidak ada bantuan, memang tidak bisa mereka tembus karena jalannya putus. Enggak bisa kita salahkan pemerintah,” ujar Hermansyah dikutip dari Kompas TV, Kamis (4/12/2025).
Tanpa Makan, Berjalan di Tengah Gelap
Hermansyah mengaku berjalan tanpa henti selama dua hari tiga malam. Ia hanya berhenti sesaat pada malam hari.
“Saya jalan dua hari tiga malam, Pak. Jam 11 malam baru berhenti, tanpa makan,” kata Hermansyah dengan suara lemah.
Kondisi fisiknya terus menurun selama perjalanan.
Tidak ada logistik tersisa, sementara jalur yang ia lalui penuh lumpur, longsoran tanah, dan pohon tumbang.
Baca juga: 4 Kabupaten di Aceh Masih Sulit Ditempuh Jalur Darat: Aceh Tamiang, Aceh Tengah hingga Bener Meriah
“Tak Ada Lagi Beras Apapun, Harus Ditempuh Terus”
Hermansyah tidak sendiri. Ada warga lain yang juga terjebak di wilayah perbatasan.
Mereka sama-sama memilih berjalan kaki menuju Bener Meriah untuk mencari bantuan.
“Dua hari tiga malam, Pak, dari daerah Ise-ise. Dari daerah perbatasan, enggak ada lagi beras apapun, jadi harus ditempuh terus. Karena kami tahu mungkin ada bantuan dari negara atau pemerintah,” ujarnya.
Ia mengatakan akses bantuan dari Takengon menuju Bener Meriah putus total. Tidak ada kendaraan yang bisa masuk membawa logistik.
Dibopong TNI, Kakinya Tak Lagi Sanggup Berdiri
| Bantuan Pemerintah Hong Kong Disalur Untuk Korban Bencana di 7 Daerah |
|
|---|
| Mualem Minta Dukungan DPR RI Percepat Anggaran Rehab Rekon Periode 2026–2028 |
|
|---|
| Bupati Bireuen Tinjau Lokasi Pembangunan Huntap |
|
|---|
| Mendagri Kirim 7 Alat Berat Untuk Pemulihan Aceh Tengah dari Bencana |
|
|---|
| Penyeberangan Lewat Jembatan Apung Kepala Hiudi Peusangan Siblah Krueng Lancar Kembali |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kisah-pilu-dialami-Hermansyah.jpg)