Minggu, 26 April 2026

Berita Internasional

FIFA dan IOC Dituding Terapkan Standar Ganda, Rusia Disanksi, AS-Israel Dibiarkan

FIFA dan IOC dituding menerapkan standar ganda dalam menyikapi konflik internasional. Dimana Rusia disanksi, AS dan Israel dibiarkan.

Editor: Saifullah
AFP/JOHAN ORDONEZ
STANDAR GANDA - Presiden FIFA, Gianni Infantino dituding menerapkan standar ganda dalam konflik Iran vs Amerika Serikat dan Israel, dimana kedua negara itu dibiarkan lolos dari sanksi, berbeda jauh dengan Rusia yang langsung dihukum usai menyerang Ukraina. 

Menurutnya, tekanan politik pada 2022 membuat IOC terpaksa mengeluarkan Rusia, tetapi kali ini mereka tidak berani mengucilkan AS.

Di sisi lain, Presiden FIFA, Gianni Infantino bahkan terlihat semakin dekat dengan pemerintahan AS.

Ia membuat penghargaan khusus bernama FIFA Peace Prize untuk Presiden Donald Trump, sebuah langkah yang menuai kritik karena dianggap politis.

Sumber internal FIFA menyebut hal itu sebagai strategi agar Piala Dunia 2026 berjalan lancar.

Dampak bagi Iran

Iran kini berada di posisi sulit. Meski lolos kualifikasi, negara tersebut terancam absen dari Piala Dunia karena tekanan politik. 

Simon Chadwick, pakar geopolitik olahraga menilai, penghapusan Iran dari peta olahraga dunia tidak akan menimbulkan kerugian ekonomi besar bagi FIFA maupun IOC.

Sebaliknya, hal itu justru memberi ruang bagi AS untuk memproyeksikan citra politiknya melalui olahraga.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana olahraga internasional semakin terjebak dalam kepentingan politik global.

Verschuuren menyimpulkan bahwa IOC dan FIFA kini kehilangan independensi, mirip dengan runtuhnya sistem multilateralisme di badan-badan PBB.

Baca juga: Daftar 75 Negara Ditangguhkan Visa, Sikap Amerika Serikat Dipertanyakan Jelang Piala Dunia FIFA

Sikap berbeda FIFA dan IOC terhadap Rusia dan AS-Israel menegaskan bahwa olahraga tidak pernah sepenuhnya bebas dari politik.

Ketika kepentingan ekonomi dan status tuan rumah menjadi pertimbangan utama, prinsip netralitas olahraga tampak semakin rapuh.

Dunia kini mempertanyakan: apakah olahraga internasional masih bisa berdiri sebagai arena netral, atau sudah sepenuhnya menjadi alat diplomasi negara-negara kuat?(*)

 

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved