Sabtu, 16 Mei 2026

Rupiah Tembus Rp 17.600 Per Dolar AS, Harga Tahu, Tempe Hingga Mi Instan Terancam Naik

Pelemahan rupiah di atas Rp 17.600 per dolar AS mulai berdampak pada kenaikan harga bahan baku impor dan biaya distribusi.

Tayang:
Editor: Mursal Ismail
Chat GPT
DAMPAK RUPIAH MELEMAH - Pelemahan rupiah di atas Rp 17.600 per dolar AS mulai berdampak pada kenaikan harga bahan baku impor dan biaya distribusi. Foto ilustrasi dibuat menggunakan Chat GPT. 

Ringkasan Berita:
  • Rupiah melemah di atas Rp 17.600 per dolar AS dan memicu ancaman kenaikan harga tahu, tempe, mi instan, serta produk berbahan impor lainnya.
  • Kenaikan harga BBM nonsubsidi ikut mendorong naiknya biaya logistik dan distribusi sehingga harga kebutuhan pokok lokal berpotensi ikut terdampak.
  • Akademisi menilai pelemahan rupiah dapat meningkatkan inflasi hingga 4,8 persen dan paling membebani masyarakat kelas bawah serta kelas menengah.

SERAMBINEWS.COM - Pelemahan rupiah di atas Rp 17.600 per dolar AS mulai berdampak pada kenaikan harga bahan baku impor dan biaya distribusi. 

Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga kebutuhan pokok, energi, hingga transportasi yang dapat menekan daya beli masyarakat dan meningkatkan risiko inflasi nasional.

Nilai tukar rupiah kembali melemah dan menembus level psikologis di atas Rp 17.600 per dolar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026) pagi.

Pelemahan ini mulai memicu kekhawatiran terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat, mulai dari tahu, tempe, hingga mi instan.

Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, mengatakan dampak pelemahan rupiah paling terasa pada komoditas pangan yang masih bergantung pada bahan baku impor, seperti gandum dan kedelai.

Menurut Rahma, kenaikan harga bahan baku impor sudah mulai dirasakan produsen sejak akhir April 2026 dan berpotensi diteruskan kepada konsumen dalam beberapa bulan mendatang.

Baca juga: 10 Makanan dan Minuman Pemicu Obesitas yang Sering Dikonsumsi Sehari-hari

“Pada komoditas berbasis impor seperti gandum dan kedelai, harga akan naik. Ini berarti harga mi instan, roti, tahu, dan tempe berpotensi merangkak naik,” ujarnya, Jumat (15/5/2026).

Ia menjelaskan, kenaikan harga tahu dan tempe akan paling dirasakan masyarakat berpenghasilan rendah karena kedua produk tersebut menjadi sumber protein utama dengan harga terjangkau.

Sementara bagi kelas menengah, tekanan diperkirakan muncul dari kenaikan harga makanan olahan dan biaya makan di luar rumah.

Tak hanya pangan, tekanan ekonomi juga mulai terasa dari sektor energi dan transportasi setelah harga BBM nonsubsidi mengalami kenaikan.

Harga Dexlite disebut telah mencapai Rp 26.000 per liter, sedangkan Pertamina Dex sekitar Rp 27.900 per liter.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi dinilai berdampak langsung pada ongkos logistik dan distribusi barang.

Baca juga: Harga BBM 14 Mei 2026 di Semua SPBU Pertamina, Rupiah Melemah Bikin Harga BBM Melonjak Lagi?

Akibatnya, harga kebutuhan pokok lokal seperti sayur-mayur juga berpotensi ikut naik meski bukan barang impor.

Rahma menilai dampak pelemahan rupiah bersifat berantai karena kenaikan biaya transportasi akan diteruskan ke harga barang di tingkat konsumen.

Selain itu, masyarakat kelas bawah juga berpotensi terbebani kenaikan biaya angkutan umum dan ojek online akibat mahalnya suku cadang kendaraan yang mayoritas masih impor.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved