Info Haji Aceh
Gelang Identitas Selamatkan Jamaah Haji Aceh dari Kesasar
Haji Mubin, jamaah asal Nagan Raya, selamat dari kesasar di Masjidil Haram berkat barcode pada gelang dan badge yang selalu dikenakannya
Loporan Hasan Basri M Nur dari Mekkah
Gelang identitas yang dibagikan kepada jamaah haji ternyata bukan sekadar aksesori. Haji Mubin, jamaah asal Nagan Raya, selamat dari kesasar di Masjidil Haram berkat barcode pada gelang dan badge yang selalu dikenakannya. Berikut laporan kontributor Serambi dari Mekkah, Hasan Basri M Nur:
SETIAP jamaah haji Indonesia dibekali tiga badge dan dua gelang identitas yang memuat barcode berisi data asal negara, kloter, hingga lokasi tempat tinggal jamaah di Mekkah, Mina, dan Madinah.
Identitas tersebut berfungsi untuk memudahkan petugas menemukan dan mengembalikan jamaah yang tersesat ke tempat penginapannya.
Jamaah haji asal Aceh menerima badge dan gelang identitas itu saat masuk Asrama Haji Embarkasi Aceh, sehari sebelum keberangkatan ke Arab Saudi. Selama berada di asrama, petugas penyelenggara haji berulang kali mengingatkan agar seluruh badge selalu dikenakan dan gelang tidak dilepas dari pergelangan tangan.
Pentingnya identitas tersebut semakin terasa setelah muncul laporan hilangnya seorang jamaah lansia asal Jakarta beberapa hari menjelang puncak ibadah haji di Arafah. Keberadaan jamaah tersebut sulit dilacak karena tidak membawa identitas apa pun. Ia kemudian ditemukan telah meninggal dunia di salah satu rumah sakit di Mekkah.
Menyadari pentingnya identitas tersebut, jamaah haji asal Aceh umumnya mematuhi arahan petugas untuk selalu mengenakannya, terutama saat keluar dari hotel.
Salah satunya adalah Haji Mubin, jamaah lansia asal Ulee Jalan, Kabupaten Nagan Raya. Ia mengaku tidak pernah melepaskan badge maupun gelang identitas yang dikenakannya. “Saya ikut arahan petugas, tidak pernah melepaskan badge dan gelang yang dipasang di tubuh saya,” ujarnya, Sabtu (6/6/2026).
Mubin yang tidak membawa telepon seluler sempat mengalami kejadian yang membuatnya terpisah dari rombongan saat melaksanakan sa’i dalam umrah sunah di kompleks Masjidil Haram. Ketika itu, sandal yang dikenakannya terlepas. Ia berusaha mengambil kembali sandalnya di tengah kerumunan jamaah yang padat. Dalam situasi itulah ia kehilangan kontak dengan rombongannya.
Di saat yang sama, rombongan juga berupaya mencarinya, tetapi tidak berhasil menemukannya. Beruntung, seorang petugas haji Indonesia melihat gerak-gerik Mubin yang tampak kebingungan dan segera menghampirinya.
Petugas kemudian memindai barcode pada identitas yang dikenakan Mubin. Dari data tersebut diketahui lokasi hotel tempat ia menginap. Petugas lalu mengantarkannya kembali hingga ke depan kamar. Sesampainya di hotel, rombongan Mubin ternyata belum kembali karena masih mencarinya di sekitar Masjidil Haram.
Kisah ini menjadi pengingat penting agar jamaah tidak menyepelekan identitas yang telah dibagikan oleh petugas. Di Mekkah, jutaan orang dari berbagai penjuru dunia berkumpul dalam waktu yang bersamaan. Jamaah yang tersesat tanpa membawa identitas akan sangat sulit dikenali dan ditemukan.
Kisah jamaah asal Jakarta yang hilang tanpa identitas hingga akhirnya ditemukan meninggal dunia, serta pengalaman Mubin yang selamat berkat kepatuhannya mengenakan identitas, menjadi pelajaran berharga bagi jamaah maupun calon jamaah haji untuk selalu mematuhi arahan petugas selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Hasan-Basri-M-Nur-di-Mekkah.jpg)