Pojok Humam Hamid
Bencana Siklon Senyar 2025: Ini Tsunami Darat Luar Biasa
Perdebatan mengenai status bencana bukanlah sekadar urusan istilah. Status tersebut menentukan kecepatan arus bantuan, mobilisasi militer...
Perdebatan mengenai status bencana bukanlah sekadar urusan istilah. Status tersebut menentukan kecepatan arus bantuan, mobilisasi militer, akses terhadap dana dan logistik, serta kemampuan BNPB membuka pintu bantuan dari pihak ketiga dan internasional.
Oleh Ahmad Humam Hamid*)
Bencana yang melanda Aceh pada akhir November dan memasuki Desember 2025 ini mungkin akan dikenang sebagai salah satu bencana paling menghancurkan dalam sejarah modern Aceh, setelah tsunami 2004.
Hujan ekstrem, angin kencang, banjir bandang, longsor, dan amukan air berlumpur yang datang bersamaan akibat Siklon Senyar telah mengubah lanskap Aceh dalam hitungan jam.
Kerusakan yang timbul bukan sekadar parah--tetapi melumpuhkan, menyapu wilayah tengah, pantai timur, dan sebagian pantai barat Aceh seperti gelombang besar yang datang dari darat, bukan laut.
Karena itu, banyak pihak menyebut bencana ini sebagai “tsunami darat.”
Istilah ini bukanlah hiperbola, melainkan usaha agar publik nasional dan pemerintah pusat memahami skala ancaman dan derita yang sedang berlangsung.
Selama bertahun-tahun kita terbiasa memandang banjir atau longsor sebagai bencana tahunan yang “ditangani seperti biasa.”
Namun bencana kali ini jauh dari biasa.
Siklon Senyar menghantam Aceh seperti palu raksasa, merusak titik-titik vital yang selama ini menjadi tulang punggung konektivitas dan ekonomi Aceh.
Dari Aceh Tengah hingga Bener Meriah, dari Aceh Timur hingga Aceh Tamiang, dari Aceh Besar hingga sebagian Aceh Barat, kerusakannya sangat luas.
Jalan dan jembatan nasional terputus, ratusan kilometer jalan provinsi dan kabupaten tertimbun lumpur atau hanyut, dan jalur logistik utama Aceh tidak dapat berfungsi.
Puluhan ribu rumah warga digenangi lumpur setinggi satu hingga dua meter.
Ribuan hektare sawah tergenang lumpur dan pasir lebih dari satu meter, menghancurkan harapan panen dan penghidupan selama berbulan-bulan ke depan.
Sebagian besar wilayah pantai timur Aceh berubah menjadi lautan lumpur pekat.
| Irwandi, Mualem, dan “Peunutoh”: “JKA Bandum” vs “JKA Kudok” - Akankah Lahir Paradoks Kebijakan? |
|
|---|
| MDCP Prabowo dan Trump: Kenapa Kita Harus Tahu? |
|
|---|
| Makar atau Tak Nyaman? Membaca Mujani, Amsari, Fahri Hamzah, dan Mahfud MD |
|
|---|
| Iran dan Gencatan Senjata: “Lamuek” Hormuz, Nuklir, dan Adi Kuasa Timur Tengah |
|
|---|
| Komunikasi Publik Menteri Purbaya: Kebingungan Teknokratis, Krisis Nasional, atau Tarian Populis? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/humam-hamid-sosiolog-aceh-3.jpg)