KUPI BEUNGOH
Memahami Antrean Panjang Pengisian BBM di Banda Aceh
Situasi darurat ini memicu reaksi berantai, menembus batas-batas wilayah yang aman, termasuk Banda Aceh, kota yang relatif selamat dari bencana .
Oleh : Zahrul Fadhi Johan *)
SEJAK banjir bandang melanda hampir seluruh wilayah Aceh pada 26 November 2025, gelombang kepanikan seakan ikut merambat hingga ke daerah yang sebenarnya tidak terdampak langsung.
Situasi darurat ini memicu reaksi berantai, menembus batas-batas wilayah yang aman, termasuk Banda Aceh, kota yang relatif selamat dari bencana namun tetap merasakan dampak sosial dan psikologis.
Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis pada Sabtu, 6 Desember 2025, oleh Pemerintah Aceh melalui "Laporan Pantauan Data Penanggulangan Bencana Alam Hidrometeorologi di Posko Terpadu Pemerintah Aceh", tercatat 353 jiwa meninggal dunia.
Selain itu, 579 orang mengalami luka berat, 2.872 orang mengalami luka ringan, 115 orang masih dinyatakan hilang, dan sekitar 756.166 jiwa terpaksa mengungsi karena tidak lagi dapat menempati tempat tinggal.
Data ini dihimpun dari 18 kabupaten/kota di seluruh Aceh, yang selama beberapa hari terakhir dilanda bencana hidrometeorologi dengan dampak kerusakan yang sangat signifikan.
Angka tersebut masih dapat berubah seiring proses pencarian, evakuasi, serta verifikasi lanjutan yang dilakukan di lapangan oleh pihak berwenang.
Di tengah kondisi tersebut, Banda Aceh justru menyuguhkan pemandangan berbeda dalam beberapa hari terakhir; antrean panjang yang melilit di setiap Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Warga tampak sabar menunggu giliran, demi mendapatkan setetes energi untuk melanjutkan beragam aktivitas.
Masyarakat datang bergerombol. Ada yang mengisi kendaraan untuk perjalanan jauh, ada pula yang membawa jerigen, sebuah pemandangan yang jarang terlihat dalam situasi normal.
Padahal, pemerintah kota Banda Aceh telah menegaskan bahwa stok Bahan Bakar Minyak (BBM) di Banda Aceh aman dan terkendali.
Baca juga: Sudah Lewat Sepekan, 46.611 Warga Bener Meriah Masih Terisolasi
Baca juga: Gas LPG Mulai Didistribusikan, Gubernur Aceh Mualem Minta APH Tindak Tegas Oknum Nakal
Tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan hal lain, warga tetap memadati SPBU, seolah tidak ingin mengambil resiko kehabisan bahan bakar di tengah suasana yang penuh ketidakpastian.
Mengapa hal ini terjadi? Setidaknya ada dua alasan kuat yang perlu dipahami.
Pertama; Banda Aceh sebagai ibu kota provinsi adalah tempat bernaung bagi banyak kalangan: mahasiswa, pekerja, pendatang dari berbagai kabupaten/kota.
Ketika kampung halaman dilanda bencana, tentu, hati siapa yang tidak terusik. Banyak yang ingin pulang untuk memastikan keluarga selamat, membantu kerabat, atau sekadar hadir untuk memberi dukungan.
Namun di daerah terdampak, BBM menjadi barang langka. Karena itu, warga memilih mengisi penuh kendaraan di Banda Aceh, bahkan membawa tambahan BBM sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas terhadap keluarga yang membutuhkan.
Dalam situasi seperti ini, antrean panjang bukan sekadar fenomena konsumsi, melainkan cermin kepekaan sosial.
Kedua, pemadaman listrik bergilir di Banda Aceh turut menambah beban kebutuhan energi. Saat listrik padam, masyarakat berbondong-bondong mencari tempat untuk mengisi daya perangkat kerja dan telekomunikasi.
Salah satu pilihan yang paling mudah dijangkau adalah warung kopi yang tetap menyala berkat penggunaan genset, sehingga menjadikannya lokasi pelarian sementara.
Sementara, genset yang menjadi penopang listrik darurat itu hanya dapat beroperasi dengan BBM. Akibatnya, permintaan BBM bukan lagi sekadar datang dari pemilik kendaraan, tetapi juga dari pelaku usaha kecil yang harus menjaga roda usahanya tetap bergerak di tengah situasi yang tidak menentu.
Lonjakan kebutuhan ini membuat konsumsi BBM meningkat tajam, jauh melampaui hari-hari biasa.
Pada akhirnya, antrean panjang di SPBU Banda Aceh bukan sekadar respons panik tanpa alasan. Kondisi ini merupakan cerminan kekhawatiran, kepedulian, sekaligus strategi bertahan masyarakat dalam menghadapi situasi yang serba tidak pasti.
Baca juga: Serba-Serbi Kontroversi Bupati Aceh Selatan Umrah Saat Bencana, Murka Mualem, Dicopot dari Ketua DPC
Baca juga: Demi Beli LPG, Ribuan Warga Rela Antre dari Subuh di Pasar Tani Banda Aceh
Cerita tentang Solidaritas, Kebutuhan, dan Keteguhan
Meski demikian, dalam situasi seperti ini selalu muncul oknum yang mencoba mencari keuntungan dengan membeli BBM dalam jumlah besar lalu menjualnya kembali dengan harga lebih tinggi.
Praktik semacam ini dapat terjadi di mana saja, dan karenanya sangat penting bagi masyarakat untuk tetap bijak serta tidak terpancing tindakan merugikan sesama.
Dengan memahami dinamika ini, sebagai masyarakat, kita dapat melihat bahwa di balik antrean yang melelahkan itu, tersimpan cerita tentang solidaritas, kebutuhan, dan keteguhan.
Bencana banjir bandang yang melanda Aceh tidak hanya menyesakkan masyarakat yang terdampak langsung, tetapi juga dirasakan oleh warga kota Banda Aceh dan sekitarnya.
Sebuah pengingat bahwa ketika satu daerah seperti halnya sekarang, Aceh, Sumatera Utara, dan Suma6 Barat terkena musibah, maka seluruh Aceh bahkan daerah lain pun di Indonesia turut merasakan getirnya.
*) PENULIS adalah Anggota Bawaslu Kota Banda Aceh. Email: zahrulfadhijohan@gmail.com.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
| Rektor UIN Ar-Raniry Idaman: Mengembalikan Hakikat Jantong Hate |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Zahrul-Fadhi-Johan-Bawaslu.jpg)