Rabu, 27 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Siklon Senyar 25, Aceh, dan The Burning Earth

semacam tsunami darat yang melahap apa saja di hadapannya—tak peduli apakah itu bagian dari ruang hidup manusia atau bukan.

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Oleh Ahmad Humam Hamid*)

Ketika Siklon Senyar menghantam Aceh dan sebagian Sumatra pada penghujung November lalu, terasa sejak awal bahwa ada sesuatu yang tidak biasa—jauh sebelum banjir lumpur merusak kehidupan dan penghidupan.

Hujan bukan lagi sekadar siraman atau guyuran biasa. Ia berubah menjadi banjir langit yang tak berhenti satu atau dua hari, tetapi hampir satu minggu penuh. 

Yang menyusul kemudian adalah semacam tsunami darat yang melahap apa saja di hadapannya—tak peduli apakah itu bagian dari ruang hidup manusia atau bukan.

Yang terjadi kemudian adalah perubahan wajah bumi dalam skala yang sangat masif. 

Citra satelit menunjukkan permukaan tanah yang tercabik secara besar-besaran, membuat batas antara kawasan hulu dan hilir tampak nyaris serupa.

Hamparan lahan tanpa vegetasi—hutan gundul di hulu, sawah yang tertimbun di hilir, hingga permukiman yang tingginya bertambah karena lapisan lumpur—muncul sebagai luka ekologis yang seragam.

 Itu pun belum menghitung fenomena-fenomena lain yang menyertai Senyar.

Baca juga: Rumah Terkubur Tanah, Mahmudi: Nyan Keuh Nyoe Gampong Loen

Dalam konteks inilah kaitannya dengan The Burning Earth menjadi sangat jelas.

Dalam The Burning Earth, Sunil Amrith menulis sejarah panjang tentang bagaimana manusia, perlahan tetapi pasti, mengubah bumi menjadi arena luka yang menganga.

Sunil Amrith sendiri adalah seorang sejarawan lingkungan dan sejarah Asia global asal India, yang kini dianggap sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh dalam hubungan manusia–alam. 

Ia pernah mengajar di universitas terkemuka seperti Harvard dan Yale, dan karya-karyanya mengungkap bagaimana kolonialisme, pembangunan modern, serta ekonomi ekstraktif selama lima abad terakhir menjadi akar dari krisis ekologis dunia saat ini. 

Dengan pendekatan sejarah yang melihat alam sebagai subjek penderitaan, Amrith menunjukkan bahwa bencana lingkungan modern bukanlah kejadian baru, melainkan kelanjutan dari luka panjang yang ditinggalkan manusia pada bumi.

Sejak lima abad terakhir, dunia dibentuk bukan hanya oleh persaingan antar imperium, tetapi oleh hubungan manusia dengan tanah, air, hutan, dan udara. 

Amrith mengawali ceritanya bukan dari era perubahan iklim modern, tetapi dari masa ketika hutan-hutan Eropa ditebang untuk kapal perang, pegunungan Andes dibelah untuk perak, dan sungai-sungai Asia dibelokkan demi proyek kolonial yang ambisius. 

Baca juga: Kisah Pilu Korban Bencana Aceh Tamiang, Ibu Terpaksa Beri Minum Bayinya dengan Air Banjir

Melalui rentang sejarah itu, ia menunjukkan bahwa krisis ekologis bukanlah bencana baru—melainkan warisan panjang dari kesombongan manusia terhadap alam.

Dalam tangan Amrith, sejarah bukan sekadar catatan peristiwa manusia. Ia menjadi catatan penderitaan ekologis. 

Kolonialisme, misalnya, bukan hanya penaklukan manusia atas manusia, tetapi juga penaklukan manusia atas ekologi. 

Belanda ubah sebagai Asia Tenggara jadi lautan perkebunan

Ketika Belanda mengubah sebagian Asia Tenggara menjadi lautan perkebunan; ketika Inggris memaksa sungai-sungai India tunduk pada kanal dan bendungan raksasa; atau ketika Amerika dan Eropa menjadikan Timur Tengah sebagai mesin minyak global—semuanya adalah babak dari kisah bumi yang perlahan dibakar. 

Baca juga: Siklon Senyar 25 dan Keputusan Sementara Prabowo: Berkaca dari Bush dan Katrina

Alam terluka, dan manusia menjadi pelaku sekaligus korban.

Amrith menegaskan bahwa perang—di balik narasi heroismenya—adalah momen ketika bumi diperas dalam skala terbesar. 

Dua Perang Dunia menjadikan hutan sebagai bahan kapal perang, gurun sebagai sumber minyak, dan gunung sebagai ladang logam. 

Mobilisasi militer adalah mobilisasi ekologis. Dan ketika bom terakhir jatuh dan senjata dibersihkan, struktur ekstraktif yang dibangun untuk perang tidak pernah dibongkar.

 Ia justru menjadi fondasi ekonomi fosil yang membawa kita ke krisis iklim hari ini.

Baca juga: Update Jumlah Korban Tewas Bencana di Sumatera Terus Bertambah, Aceh Catat Angka Tertinggi

Dalam alur sejarah ini, manusia bukan hanya perusak; ia juga korban dari kehancuran yang diciptakannya sendiri. 

Amrith menunjukkan bagaimana migrasi besar-besaran sering kali berakar pada hilangnya hutan, tanah yang tidak lagi subur, sungai yang mengering, dan ladang yang hancur. 

Migrasi buruh India ke Burma dan Malaya, migrasi akibat deforestasi di Asia Tenggara, hingga migrasi modern karena bencana iklim—semuanya mengikuti pola yang sama: bumi yang terluka memaksa manusia bergerak.

Ketika Amrith menyebut modernitas sebagai ilusi bahwa manusia telah “bebas” dari alam—karena bisa membelokkan sungai, menimbun laut, mengeringkan rawa, membelah gunung—sesungguhnya ia sedang memberikan peringatan. 

Kesombongan itu ada harganya. Dan harga itu dibayar dunia hari ini melalui banjir, kebakaran hutan, krisis iklim, dan migrasi ekologis yang tak pernah berhenti.

Gagasan Amrith bergema kuat ketika disandingkan dengan para pemikir besar lainnya. 

Jared Diamond, dalam Collapse, menjelaskan bagaimana peradaban hancur ketika gagal mengelola lingkungan. 

Baca juga: Paparkan Kondisi Terparah Banjir, Kapolda: Aceh Tamiang Sangat Memprihatinkan

Diamond bercerita tentang kehancuran Pulau Paskah akibat deforestasi, atau tentang Viking Greenland yang menolak beradaptasi hingga lenyap dari sejarah. 

Apa yang digambarkan Diamond dalam skala lokal, diperluas Amrith menjadi skala planet. Keruntuhan tak lagi tragedi satu bangsa, tetapi potensi tragedi seluruh umat manusia.

Amitav Ghosh, lewat The Great Derangement, menambahkan dimensi budaya: manusia tidak cukup mampu membayangkan besarnya bahaya ekologis yang akan datang. 

Kesalahan terbesar kita bukan hanya merusak, tetapi gagal membayangkan dampak dari kerusakan itu. 

Amrith memberikan konteks sejarahnya—selama lima abad kita dipelihara oleh narasi bahwa alam adalah sesuatu yang bisa ditaklukkan.

Mike Davis, yang menulis tentang kekeringan global dan kelaparan abad ke-19, menunjukkan bahwa bencana iklim tidak pernah netral. Ia selalu memukul yang miskin terlebih dulu. 

Amrith meneruskan logika itu dengan menunjukkan bahwa ketidakadilan ekologis hari ini—banjir, polusi, panas ekstrem—adalah bayangan panjang dari ketidakadilan kolonial.

Leuser dan Ulu Masen hadapi ancaman

Jika gagasan Amrith, Diamond, Ghosh, dan Davis kita bawa ke Aceh—khususnya Ekosistem Leuser dan Ulu Masen—kita melihat betapa relevannya narasi lima abad perusakan bumi itu. 

Leuser dan Ulu Masen, salah satu hutan hujan terakhir yang masih utuh di dunia, kini menghadapi ancaman yang sangat mirip dengan pola global tersebut: ekspansi perkebunan dari barat dan selatan, tambang ilegal yang merusak pegunungan, perburuan satwa, pembukaan jalan yang mengiris jantung konservasi, hingga rencana pembangunan pembangkit listrik di kawasan esensial. Semuanya adalah pengulangan babak kelam yang digambarkan Amrith.

Aceh, yang dulunya dikenal sebagai negeri yang harmonis dengan alam, kini berada di persimpangan: mengikuti jejak lima abad sejarah ekstraksi, atau memilih jalan berani untuk melindungi sisa paru-paru bumi. 

Baca juga: Malam Mencekam di Blang Awe, Asiah dan Suami Lari Sambil Gendong Anak, Semua Lenyap tak Bersisa

Leuser bukan hanya aset Aceh; ia adalah benteng terakhir harimau Sumatra, gajah, badak, dan orangutan yang hidup berdampingan dalam satu lanskap. 

Jika Leuser hancur, keruntuhan ekologis tidak berhenti pada satwa. Ia akan merambah sungai, air bersih, banjir, longsor, hingga hilangnya identitas ekologis masyarakat Aceh sendiri.

Dalam cahaya gagasan Amrith, kehancuran Leuser bukan sekadar masalah lokal—ia adalah fragmen dari tragedi besar bumi yang sedang terbakar. 

Namun sebagaimana Amrith, Diamond, Ghosh, dan Davis percaya, sejarah tidak hanya memberikan peringatan. Ia juga menawarkan pilihan.

Aceh masih memiliki kesempatan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa bumi dapat disembuhkan—jika manusia mau belajar dari kesalahan panjang peradabannya sendiri. 

Ekosistem Leuser adalah tempat yang tepat untuk memulai perubahan itu—bukan sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai janji untuk masa depan.

*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved